Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

APAKAH INI HARTAKU...... ATAU HARTA ORANG LAIN ? Oase Iman


 

Hidup di desa pedalaman dengan segala fasilitas yang terbatas... dan tidak didukung oleh kondisi alam yang menunjang... sehingga perekonomian di desa itu terus menerus dalam keterbelakangan menyebabkan tiga orang pemuda bertekad untuk merubah nasibnya dengan merantau ke negeri sebelah... konon negeri sebelah lebih makmur dan sedikit menjanjikan dari tanah kelahiran mereka.
 
"Mirip pepatah dimana ada gula disitu ada semut."
 
Anji, Diman dan Sholeh ketiga pemuda itu memutuskan merantau ke negeri sebelah, sebut saja Malaya, dengan bekal seadanya dan restu orang tua mereka.
 
Berangkatlah ketiga pemuda ini ke Malaya. Di negeri sebelah mereka terus bersama-sama dalam menghadapi segala macam rintangan dan penderitaan. Maklum anak rantau, bekerja dengan giat dan tekun menyebabkan mereka sedikit demi sedikit berhasil mendapatkan penghidupan yang layak dan jauh lebih baik daripada penghidupan mereka di kampung sendiri.
 
Tapi ada perbedaan mendasar dalam ketiga sikap pemuda ini dalam menyikapi keberhasilan mereka di perantauan.
 
Anji yang cenderung hura-hura dan berfoya-foya, menghabiskan penghasilannya untuk kesenangan semata dengan prinsip nikmati selagi ada... habiskan saja kan bulan depan gajian lagi. Prinsip bro Anji.
 
Kalau Diman sedikit berpikir. Ia menghabiskan penghasilannya dengan membangun rumah dan kendaraan dan segala hal yang disenanginya di negeri rantauan. Maka rumah dan kendaraan Diman termasuk mewah dan berkelas, nampak keberhasilannya merantau di negeri orang. Tapi itu di negeri rantauan.
 
Sedangkan Sholeh lebih berpikir ke depan. Ia apabila gajian mengirim sebagian besar penghasilannya ke kampung halamannya sendiri. Di sanalah uang Sholeh berputar... Di kampungnya ia membangun rumah... di kampungnya ia membeli lahan dan hewan ternak. Sehingga di negeri rantau Sholeh terlihat biasa-biasa saja, karena hartanya dikirim ke negeri sendiri... tapi di desanya telah menunggu harta benda yang banyak.
 
Begitulah kehidupan ketiga pemuda rantau ini. Sedangkan waktu terus berlalu... masa terus berjalan... Anji terus berfoya-foya, Diman dengan gaya hidup mewah di negeri orang dan Sholeh dengan kiriman yang terus menerus ke desanya.

Tahun berganti tahun...tanpa di sadari umur mereka telah beranjak senja...di negeri rantau. Dan tiba-tiba keluarlah pengumuman yang mengejutkan dari Otoritas Malaya bahwa semua pendatang akan dideportasi tanpa syarat dan tak boleh membawa apa-apa kecuali sekedar kelengkapan hidup dan pakaian seadanya.

 
Terkejut dan kaget bukan kepalang ketiga orang ini... Apa yang terjadi? Seakan akan baru kemarin mereka merantau tapi ternyata ada kebijakan dari negeri Malaya yang mengharuskan mereka angkat kaki dari negeri itu, dengan tanpa membawa apa-apa kecuali yang di badan dan keperluan secukupnya.
 
Anji menjadi linglung mengingat semua hartanya habis untuk foya-foya dan hura-hura, sedangkan ia harus pulang kampung tanpa membawa apa-apa... Lalu apa hasil rantauannya?
Maka kembalilah ingatannya ketika kehidupannya penuh dengan kemewahan dan foya-foya..harta yang ia habiskan untuk kesenangan sesaat. Timbul sesal di hati pulang kampung dengan tubuh yang telah senja tanpa membawa apa-apa dari hasil kerja bertahun-tahun di negeri Malaya, "Duhh andai aku tak menghambur-hamburkan uangku selama perantauan... mungkin aku akan pulang dengan harta yang berlimpah." Sesal Anji dalam hati.

 
Lalu Diman sedikit stress dengan hati yang hancur, mengingat rumahnya yang mewah beserta isi dan perabotannya belum lagi kendaraan serta aset-aset lainnya yang harus ditinggalkannya... Semuanya harus ia tinggalkan... kerja kerasnya harus tinggal di negeri orang.
"Duh...Hartaku, hartaku, mana hartaku?" teriak Diman sedikit stress... meluapkan rasa berpisah dengan hartanya. Harta Diman tinggal fatamorgana yang hanya bisa jadi cerita pengantar tidur belaka.
 
Lalu Sholeh...pulang dengan bekal seadanya tapi kedua orangtuanya menyambutnya dengan senyum riang... dijemput dengan mobil mewah, "Ini mobilmu, Nak." kata Ayah Sholeh, di perjalanan menuju ke rumah dalam lingkungan desa kelahirannya... Ayahnya kembali berkata, "Sawah-sawah itu adalah punyamu, Nak."
"Hewan-hewan ternak itu juga punyamu... Dan rumah batu yang mewah itu juga rumahmu," kata Ayah Sholeh sambil menunjuk hewan ternak dan sebuah rumah besar yang telah nampak dari kejauhan.
 
"Selamat datang Abang Sholeh," teriak penduduk kampung kepada Sholeh. Dengan malu-malu Sholeh hanya bisa tersenyum simpul membayangkan kerja kerasnya bertahun-tahun di negeri seberang rasanya telah terbayar semuanya. Puasss... dan hilanglah rasa capek bekerja keras di negeri seberang pulang dengan hasil yang bisa dinikmati... Alhamdulillah.
 
Apa yang tersirat dari cerita di atas adalah gambaran kita sekarang ini... Dan entah kita masuk dalam dalam cerita yang mana... Anji, Diman ataukah Sholeh...???
Inilah kita adalah perantau, carilah untuk bekal hidup tapi jangan berlebihan sehingga membuat kita lalai dari mengingat Allah...
Janganlah habiskan hartamu dan umurmu untuk foya-foya dan hura-hura sehingga lupa bahwa kita adalah perantau...
Dan janganlah habiskan umurmu membangun di negeri perantauan... yang kelak akan ditinggalkan... Sungguh apa yang akan dibawa hanyalah kain kafan dan amal sholeh... Jangan setelah tiba di kampung abadi maka kita berkata, "Ya Allah... Saya telah lihat, saya telah dengar maka kembalikan saya ke dunia walau hanya sebentar... untuk melakukan amal sholeh."
Gunakanlah waktu yang sempit ini untuk mengirim harta kita ke kampung akhirat... sehingga ketika tiba masa di mana kita harus dideportasi dari dunia ini tanpa apapun... maka para Malaikat Allah akan berkata, "Selamat datang Jiwa yang Bersih, inilah hasil kerja kerasmu di dunia... maka nikmatilah surga-surga di mana  mengalir sungai-sungai dan kebun-kebun yang luas yang  di dalamnya tak ada lagi penderitaan dan kesusahan selama-lamanya."

Wallahu A'lam....
 

Dikutip dari             : ceritaulama.com

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...

 



Comments