Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

G E R H A N A Nasional


 

*GERHANA*

Berdasarkan analisis Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), akan terjadi fenomena gerhana sekaligus bulan purnama, bulan biru, bulan super alias supermoon akan terjadi diawal tahun 2018. Fenomema ini dapat disaksikan dari bumi Nusantara.

Diperkirakan saat terjadi gerhana, bulan akan berwarna merah menyerupai darah. Peristiwa langka ini diperkirakan pada awal gerhana terjadi pada pukul 17.51 WIB. Wilayah Indonesia bagian barat akan melewati tahap awal ini. Gerhana terjadi 31 Januari 2018, 14 Jumadil Ula 1439 H, dimulai 14.84 WIB puncak gerhana sekitar pukul 20.29 WIB, seluruh wilayah Indonesia bisa menyaksikannya.

Kejadian gerhana adalah fenomena astronomi yang terjadi apabila sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi.

Selama 356 hari telah terjadi banyak peristiwa astronomi yang menarik diangkasa, selain itu, pada 3 Desember 2017 supermoon penuh pertama dan terakhir kalinya di 2017.

Fenomena keindahan langit masih dapat disaksikan diakhir Januari 2018, bulan yang terbit pada malam 31 Januari 2018 adalah bulan purnama, bulan biru, bulan super alias supermoon, sekaligus bulan yang akan mengalami gerhana.

Sebenarnya hal ini merupakan peristiwa besar dan langka yang terjadi dijagat raya, adanya teknologi yang super canggih sehingga manusia dapat memperkirakan dengan tepat kapan peristiwa tersebut terjadi dan dapat disaksikan dengan mudah. Sehingga kebanyakan manusia menganggap kejadian tersebut sesuatu peristiwa biasa saja.

Namun sebenarnya apabila kita merujuk kepada sejarah Rasulullah SAW, rasa takut dan khawatir dialami oleh kaum Muslimin ketika itu cukup beralasan. Dapat dibayangkan apabila takdir Allah, bumi, bulan, atau matahari lepas dari orbitnya apa yang akan terjadi ?, Tentunya takutnya kaum Muslimin bukan karena mitos tertentu, tapi lebih kepada ketakutan mereka bila terjadi peristiwa Hari Kiamat. Atas dasar ini pula, Rasulullah SAW mengajak para sahabatnya untuk menunaikan shalat dan memperbanyak amal shalih.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Abu Musa Al Asy’ari RA bahwa, 
”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa…” 
(HR. Muslim)

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan, ketika terjadi gerhana pada masa Nabi SAW, beliau serukan para sahabat untuk mengerjakan shalat dengan seruan “ash-shalatul jami’ah”. 
Kemudian beliau shalat bersama mereka lalu berdiri menyampaikan khutbah. Di dalam khutbahnya beliau menjelaskan hikmah di balik gerhana dan himbauan untuk mengingkari kepercayaan jahiliyah. 
Nabi SAW juga menganjurkan kaum Muslimin untuk senantiasa mengerjakan shalat, berdo’a dan bersedekah.

Rasulullah SAW bersabda:,

…إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَيَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوْااللهَ وَكَبِّرُوْا وَصَلُّوْا وَتَصَدَّقُوْا

Artinya :
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” 
(HR. Bukhari Muslim)

Sabda Rasulullah SAW tersebut benar-benar tertanam dalam diri para sahabat. Adanya fenomena gerhana menjadikan mereka ingat kepada Allah, bertafakkur dan membayangkan bagaimana seandainya gerhana itu menjadi tanda terjadinya kiamat yang mereka alami. Mereka khawatir jika gerhana itu menjadi sebuah peringatan dari Allah akan turunnya bala, sehingga mereka pun kembali kepada Allah dengan berdoa agar segala kemungkinan buruk tidak menimpa mereka.

Imam An-Nawawi menjelaskan alasan Nabi SAW takut, khawatir terjadi hari kiamat. An-Nawawi memaparkan beberapa alasan, di antaranya, “Gerhana tersebut merupakan tanda yang muncul sebelum tanda-tanda kiamat seperti terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian dari tanda kiamat.“ 
(Syarh Muslim, 3/322)
Firman Allah SWT :

( وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ)

Artinya :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.
(QS Fushilat 41:37)

Hadits Rasulullah SAW :

عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ فَأَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ رَأَيْتُهُ قَطُّ يَفْعَلُهُ وَقَالَ هَذِهِ الْآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ (يُخَوِّفُ اللهُ بِهِ عِبَادَةِ) فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ (رواه البخاري)

Artinya :
“Dari Abu Musa berkata, "Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dengan tergesa-gesa seolah akan terjadi hari kiamat. Beliau lantas mendatangi masjid dan shalat dengan berdiri, rukuk dan sujud yang paling panjang, yang pernah aku lihat dari yang beliau pernah lakukan.

Kemudian beliau bersabda: "Inilah dua tanda-tanda yang Allah kirimkan, ia tidak terjadi karena hidup atau matinya seseorang, tetapi '(Dia, Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengannya).

Hadits Rasulullah SAW :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ فَاجْتَمَعُوا وَتَقَدَّمَ فَكَبَّرَ وَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ

Artinya :
“Dari Aisyah رضي الله عنها bahwasanya; Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka beliau mengutus seseorang untuk menyerukan, "Ash Shalatu Jaam'ah (marilah kita shalat berjama'ah) "sehingga kaum muslimin pun berkumpul. Beliau maju (mengimami shalat), lalu bertakbir dan shalat empat raka'at. Pada tiap raka'at terdapat empat kali sujud.
(HR.Muslim :1501)

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَهَرَ فِي صَلَاةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ

Artinya :
“Dari Aisyah رضي الله عنها bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengeraskan suara bacaannya dalam shalat Khusuf (gerhana bulan). Dan beliau pun shalat, dalam dua raka'at beliau mengerjakan empat kali ruku' dan empat kali sujud”.
(HR Muslim : 1502)

Dalam Hadits lain disebutkan :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ بَيْنَمَا أَنَا أَرْمِي بِأَسْهُمِي فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ فَنَبَذْتُهُنَّ وَقُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى مَا يَحْدُثُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي انْكِسَافِ الشَّمْسِ الْيَوْمَ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ يَدْعُو وَيُكَبِّرُ وَيَحْمَدُ وَيُهَلِّلُ حَتَّى جُلِّيَ عَنْ الشَّمْسِ فَقَرَأَ سُورَتَيْنِ وَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ

Artinya :
“Dari Abdurrahman bin Samurah رضي الله عنه ia berkata; "Pada suatu waktu di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika aku sedang bermain panah, tiba-tiba terjadi gerhana matahari. Lalu kulemparkan semua alat permainanku itu. Aku berkata; Aku akan melihat apakah gerangan yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bila terjadi gerhana matahari seperti itu. Setelah aku sampai ke tempat beliau, kudapati beliau sedang mengangkat tangannya berdo'a, takbir, tahmid dan tahlil sampai matahari terang kembali. Beliau membaca dua surat dan shalat dua raka'at”.
(HR Muslim : 1519)

Lewat tulisan singkat ini, kami mengajak sahabat, para Jam’iyah secara bersama menegakan sholat khusuf dengan berdo’a, takbir, tahmid dan tahlil, memohon keberqahan untuk negeri ini dan kemysalahatan umat Islam.



 

Dikutip dari             : Mtris Diantini

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments