Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

MENJAGA KEMULIAAN ISLAM DENGAN TIDAK MENJADI PENGEMIS Oase Iman


 

[c]  Ahmad Sastra

Islam itu agama mulia dan memuliakan umatnya. Islam itu agama mandiri dan memandirikan umatnya. Islam itu agama berdaulat dan mendaulatkan umatnya. Islam itu agama kuat dan memberdayakan umatnya. Namun kemuliaan Islam seringkali dicoreng oleh ulah umatnya sendiri yang terlalu cinta dunia dan takut mati.  

Islam adalah agama positif, produktif dan konstributif. Positif dalam arti mengandung nilai-nilai kemuliaan. Produktif dalam arti Islam selalu menganjurkan umatnya untuk selalu bekerja dengan berbagai profesi yang halal. Konstributif dalam arti Islam selalu menganjurkan umatnya selalu memiliki semangat altruisme [memberi].

Kandungan nilai-nilai Islam yang datang dari Allah Yang Maha Baik dan benar menjadikan ajaran Islam selalu memiliki timbangan. Timbangan setiap perbuatan Islam adalah Al Qur’an dan Al Hadits dimana halal dan haram menjadi ukuran, bukan semata-mata karena kemanfaatan. 

Sementara secara kedudukan perbuatan, Islam mendudukkan perbuatan dalam lima hukum utama, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Apa yang diwajibkan Allah, maka di dalamnya mengandung kebajika dan apa yang diharamkan Allah, maka di dalamnya mengandung kemudharatan. 

Allah telah menegaskan akan kebenaran Islam dalam firmanNya : “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya” [QS Ali Imran : 19] 

Islam sebagai agama produktif ditunjukkan dengan anjuran bekerja bagi umatnya. Islam membenci umatnya yang malas dan tidak mau bekerja. Allah mencintai umatnya yang kuat dan membenci umatnya yang lemah. 

Bekerja adalah kewajiban seorang muslim, terutama laki-laki sebagai cara untuk memenuhi nafkah keluarga. Para Nabi adalah orang-orang yang bekerja penuh sungguh-sungguh dan halal demi memenuhi nafkah keluarga. Nabi Nuh bekerja sebagai tukang kayu, Nabi Idris sebagai tukang jahit dan Rasulullah sebagai pedagang. 

Allah menegaskan perintah kerja dalam firmanNya, “ Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” [QS At Taubah : 105] 

Islam sebagai agama kontributif ditunjukkan melalui anjuran kepada umatnya untuk menjadi pemberi dan melarang menjadi peminta-minta. Islam melarang umatnya untuk menjadi seorang  pengemis.  Islam memandang orang yang tangannya diatas untuk memberi lebih disenangi dari orang yang tangannya dibawah karena meminta-minta. 

Bahkan mental mengemis mendapat celaan yang tegas dari Rasulullah melalui sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa bagi yang mengemis kepada orang lain di dunia, kelak di akherat akan dibangkitkan dengan tanpa wajah yang sempurna. 

Dengan demikian Islam adalah agama sempurna yang menjadikan umatnya sebagai manusia yang sholeh, pekerja keras sekaligus selalu peduli terhadap orang lain. jangan pernah terbersit dalam hati untuk meminta-minta atau mengemis kepada manusia. Sebab selain akan menjadikan dirinya terhina di hadapan Allah dan RasulNya kelak, mengemis bagi seorang muslim juga akan merendahkan martabat agama Islam. 

Muslim tidak mengemis, sebab perbuatan itu selain negatif juga tidak memiliki kontribusi bagi kebaikan orang lain dan agama. Salah satu cara memuliakan diri dan agama ini adalah dengan memandirikan diri dengan bekerja dan selalu memiliki semangat untuk berkonstribusi bagi kebaikan orang lain. 

Karena itu sebagai muslim harus mandiri, baik secara ekonomi maupun kepemimpinan. Muslim dilarang keras oleh Allah meminta pertolongan kepada orang kafir, apalagi menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Muslim, baik sebagai individu, keluarga, yayasan pendidikan, maupun sebagai negara harus mandiri sebagai cara menjaga izzah agama ini. Jangan pernah menjadi pengemis, apalagi kepada orang kafir. 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim [QS Al Maidah : 51].

Wahai kaum muslimin, takutlah akan peringatan Allah bahwa mendekati kaum kafir bisa dikategorikan sebagai kelompok orang munafik yang ada penyakit dalam hatinya. Jagalah diri kita, keluaga kita, lembaga kita dan negara kita dari predikat munafik dari Allah. 

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka [QS Al Maidah : 52] 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya [QS Ali Imran : 118]. 

Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasannya ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar menuju Perang Badar. Setelah sampai di Harratul-Wabarah (yaitu daerah yang terletak 4 mil dari Madinah sebelum Dzul-Hulaifah) beliau ditemui oleh seorang laki-laki yang terkenal pemberani. Maka para shahabat Rasulullah merasa senang ketika melihat laki-laki itu. Setelah dia menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dia berkata kepada beliau : “Saya datang untuk mengikuti Anda dan memenangkan perang di pihak Anda”. 

Rasulullah bertanya : “Apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ?”. Dia menjawab : “Tidak”. Beliau berkata : “Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada orang musyrik”. Kemudian laki-laki itu menyingkir. Setelah sampai di sebuah pohon, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditemui lagi oleh laki-laki itu. Lalu, dia mengatakan seperti apa yang dikatakan sebelumnya. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya seperti apa yang beliau tanyakan sebelumnya. Kata beliau : “Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada orang musyrik”. 

Kemudian laki-laki itu menyingkir. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditemui lagi oleh laki-laki itu di Baidaa’, lalu beliau bertanya kepadanya sebagaimana pertanyaan beliau sebelumnya : “Apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya ?”. Laki-laki itu menjawab : “Ya”. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada laki-laki itu : “Pergilah turut berperang” [HR. Muslim no. 1817].

Menjaga kemuliaan muslim dan Islam adalah sebuah kewajiban, merendahkanya adalah sebuah perbuatan tercela. Islam itu mulia dan harus dimuliakan, muslim itu mulia dan harus dimuliakan. Jadilah muslim yang mulia dan memuliakan Islam dengan cara menjadi muslim yang kuat, mandiri dan berdaulat baik secara aqidah, kepemimpinan dan ekonomi agar mendapatkan martabat kemuliaan di hadapan Allah. 

Dan ingat sekali lagi,  jangan menjadi pengemis yang akan mengantarkan kepada kehinaan diri dan menghinakan agama mulia ini. Selain tercela, pelakunya akan menyesal selama-lamanya. 

 

Dikutip dari             : Muslim Djamil

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments