Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

AILA Sarankan Menteri PPPA Bertanya Ulama Sebelum Kerjasama dengan Iran Internasional


 

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise disarankan meminta pendapat ulama terkait rencana kerjasama dengan Iran dalam isu ketahanan sosial dan keluarga setelah bertemu dengan Wakil Presiden, Masoumeh Ebtekar.

Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, Rita Soebagio memberikan tanggapan terhadap pertemuan menteri Yohana Yembise dengan Wakil Presiden Iran Bidang Perempuan dan Urusan Keluarga, Masoumeh Ebtekar. Menurutnya, Kementerian PPPA harus mengkaji lebih dalam rencana kerjasama dengan Iran.

Dari sudut hubungan sesama negara berdaulat, pertemuan-pertemuan semacam ini sah-sah saja,” kata Rita kepada kiblat.net, Rabu (02/05/2018).

Namun dalam konteks yang luas terkait kultur, sosial, politik, dan pandangan keagamaan tentunya kita perlu sama-sama melakukan kajian yang lebih intensif tentang isu ini,” imbuhnya

Ketua AILA menyoroti sikap Menteri Yohana yang terlihat dalam beberapa statementnya menunjukan kekaguman terhadap pencapaian yang diklaim oleh Iran, terkait isu perempuan dan ketahanan keluarga. Sementara, ketahanan keluarga mempunyai indikator yang sangat berbeda-beda variablenya berdasarkan latar belakang sosial dan budaya dari sebuah negara.

Rita lantas mengutip pandangan pakar ketahanan keluarga Indonesia, Prof. Euis Sunarti, yang mengatakan faktor ketahanan keluarga meliputi faktor ketahanan fisik, sosial dan psikologis. Dalam hal ini, latar belakang sosial Indonesia jelas berbeda dengan Iran.

Ketua AILA menambahkan selain perbedaan latar tersebut, landasan filosofis tentang keluarga juga penting untuk dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menjadikan Iran sebagai acuan tempat belajar. “Untuk hal ini Ibu Yohana ada baiknya perlu bertanya kepada para Ulama Indonesia yang mayoritas beraliran Sunni, yang tentunya akan memiliki cara pandang berbeda dengan ulama Syiah dalam memandang landasan filosofis sebuah keluarga,” tuturnya.

Pemilihan Iran dalam rencana kerjasama dalam bidang ketahanan keluarga juga dipertanyakan. Negeri Para Mullah itu tercatat sebagai negara dengan tingkat perceraian yang tinggi.

“Iran memiliki tingkat perceraian yang cukup tinggi juga, sehingga saya tidak faham indikator ketahanan keluarga seperti apa yang dimaksud oleh Ibu Menteri jika mengganggap keluarga-keluarga di Iran lebih ideal,” ujar Rita.

Rita menilai data yang menyebut perempuan di Iran memiliki pencapaian pendidikan yang lebih baik terlihat agak kontradiktif. Pasalnya, akses pekerjaan bahkan keterwakilan perempuan di parlemen justeru lebih rendah dibandingkan Indonesia.

“Tentunya hal ini perlu pendalaman lebih jauh untuk dapat memahami situasi riil yang terjadi dalam isu perempuan dan keluarga-keluarga di Iran,” ujarnya.

Karenanya, AILA menyarankan Kementerian PPPA untuk menggali informasi yang komprehensif supaya mendapatkan gambaran yang utuh terkait situasi di Iran. Hal itu penting mengingat informasi yang diterima oleh Menteri PPPA hanya berasal dari data yang disampaikan oleh pihak pemerintah Iran.

“Yang kita ketahui bersama dan luas bahwa sistem politik di Iran jauh lebih tertutup untuk akses informasi dan data dibandingkan dengan Indonesia,” tandasnya.

Reporter: Qoid
Editor: Imam S.


 

Dikutip dari             : kiblat.net

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments