Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

ISTIQAMAH Oase Iman



"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fussilat: 30)

Janji Allah pada ayat di atas sangat luar biasa. Dan syarat untuk mendapatkannya sekilas terlihat mudah. Cukup dengan mengatakan "Tuhanku Allah". Namun, sebenarnya bagian tersulit adalah kata berikutnya,"istiqamah".
Yaitu menjaga agar konsekuensi dari pernyataan tersebut terus bertahan dalam diri seorang mukmin yang mengatakannya.

Sebagai contoh sederhana adalah seperti ikrar kita saat bertakbir, "Allahu akbar" dalam sehari semalam. Ikrar tersebut diucapkan mengiringi berbagai gerakan shalat. Dalam shalat wajib saja sehari semalam, setidaknya seseorang akan mengatakannya sebanyak 85 kali. Diiringi dzikir sebanyak 33 x 5 = 165.
Artinya dalam sehari semalam seorang mukmin mengikrarkan kebesaran Allah —setidaknya- sebanyak 250 kali. Namun, fakta yang terjadi pengaruh ucapan tersebut kadang sangat kecil atau bahkan tiada.
Allah yang Maha Besar tersebut menjadi mengecil dan bahkan menghilang. Hal tersebut dikarenakan tiadanya istiqamah dan komitmen yang kuat dari yang mengucapkannya.
Saat ia sakit, seharusnya Allah lah yang pertama diingat. Saat ia memerlukan bantuan apa saja. Saat ia bahagia, sedih dan sebagainya, seharusnya Allah adalah yang pertama kali diingat dan disebut. Padahal secara rutin Allah telah merekayasa kita untuk secara sadar atau tidak mengucapkan takbir dengan bilangan yang sebenarnya cukup banyak.

Demikian halnya dengan rekayasa kebaikan yang Allah latih kepada umat ini selama bulan Ramadan. Berbagai tradisi kebaikan dengan secara rutin mudah dilakukan oleh kebanyakan umat Islam. Puasa, menjadi biasa karena diwajibkan dan dilakukan secara bersama dan masif. Membaca al-Quran, menjadi rutinitas kebaikan di sela-sela waktu. Meski lelah atau penat, seseorang akan berusaha menyapa al-Quran setiap saat di bulan Ramadan. Demikian halnya sedekah, menolong orang, shalat malam dan berbagai kebaikan lainnya. Semua terasa mudah untuk dilakukan, karena Allah memfasilitasi rekayasa kebaikan tersebut secara komunal.

Maka tindak lanjut kebaikan tersebut perlu dioptimalkan secara individu. Ibarat perusahaan yang ingin menaikkan kualitas pegawainya, maka akan mengadalan diklat dan pelatihan. Selama berlangsungnya diklat sudah tentu ada banyak pelatihan peningkatan kualitas. Jika setelah usainya pelatihan, kemampuan staff masih biasa-biasa saja atau bahkan cenderung menurun, maka pelatihan tersebut bisa disebut gagal.

Demikian halnya bulan Ramadan yang Allah jadikan sarana diklat peningkatan kualitas seorang mukmin. Jika perusahaan mungkin akan —ikut— merugi dengan kondisi staff yang stagnan atau menurun, maka sesungguhnya penurunan dan stagnasi seorang mukmin pasca Ramadan sama sekali takkan merugikan siapa-siapa selain dirinya sendiri.

Maka, berbagai tradisi kebaikan yang sudah dibiasakan untuk dilakukan selama Ramadan sebaiknya kita teruskan dengan baik. Sapalah al-Quran sesibuk apapun kondisi. Sempatkan puasa sunnah meski hanya sekali atau tiga hari dalam sebulan, atau setiap pekan sekali atau dua kali. Meski tak bisa setiap malam, luangkan beberapa menit saja untuk menunaikan dua rakaat qiyam. Meski zakat maal sudah ditunaikan, masih bisa untuk membiasakan bersedekah, sambil menyiapkan proyek kebaikan lain yang akan segera datang. Menyiapkan hewan terbaik untuk kurban.

Jika kita teruskan merawat tradisi kebaikan ini, maka niscaya Allah akan menepati janji-Nya kepada orang-orang yang istiqamah, yaitu akan membebaskannya dari kesedihan masa lalu dan kecemasan masa depan. Dan sudah tentu balasan utamanya akan lebih luar biasa,yaitu surga.


 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Jumat 09.00 sd 15.30


#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation


 

Dikutip dari             : Muslim Djamil

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments