Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

PERIWAYATAN KELEDAI Editorial


 

BANYOLAN SYIAH PART 1

Periwayatan Keledai
 

Dalam kitab Al-Kaffi disebutkan :

Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) menyebutkan bahwa hewan yang pertama kali mati saat Rasulullah SAW meninggal adalah ‘Ufair (himar tunggangan Nabi,-pen). Keledai itu memutuskan tali kekangnya, lalu berlari mendatangi sumur bani Khutmah di Quba’. Lalu ia pun melemparkan dirinya dalam sumur tersebut sehingga jadilah sumur tersebut kuburannya.

Diriwayatkan juga oleh Amirul Mukminin (‘alaihis-salaam) berkata  : “sesungguhnya keledai itu (yaitu keledai tunggangan beliau Saw yang bernama Ufair,-pen) berkata kepada Rasulullah Saw : “Demi ayah, engkau, dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya : bahwa ia pernah bersama Nuh di dalam perahu. Maka Nuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda : “Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi” Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu.” (Ushul Al-Kaafi 1/293, hadist ke 9).

Hadist aneh ini juga disebutkan oleh Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaar al-Anwaar 17/405 dalam bab : Mukjizat Nabi Saw pada hewan-hewan.

Bahkan Al-Majlisi menilai hadist ini shahih. Dia berkata :

“Orang yang beriman pada Al-Qur’an, beriman dengan perkataan burung Hudhud dan perkataan semut, serta selain keduanya, tidak akan merasa aneh dengan perkataan himar”. (sebagaimana dinukil oleh pen-tahqiq Ushul Al-Kahfi, yaitu Al-Majlisi menguatkan keshahihan hadist ini. 

Silahkan perhatikan dengan seksama seekor keledai telah memerankan diri layaknya seorang perawi hadist dengan menggunakan lafadz : Haddatsanii abiy...dan seterusnya. Tentu saja riwayat ini tidak ditemukan dalam Kitab-Kitab Hadits Islam. Riwayat ini ada dalam buku Al-Kaafy-buku hadist yang paling valid di ajaran syiah.

Si keledai, bapaknya keledai, sampai kakeknya keledai menjadi rantai periwayatan pengkhabaran hadist. Yang anehnya seorang pendeta besar syiah kontemporer Al-Khuu’iy menjelaskan tentang mukjizat ini.

Hal yang menjadi masalah bukan keledai yang bisa bicara, karena batu pun pernah memberi salam kepada Nabi SAW, akan tetapi yang menjadi masalah adalah sebagai berikut :

a. Berapa umur keledai tersebut ? bukankah antara Nabi SAW hingga Nabi Nuh AS ribuan tahun ? padahal sanad silsilah keluarga keledai ini hanya empat atau lima keledai. Tidak mungkin keledai berumur ratusan tahun. Biasanya umur keledai antara 30 – 35 tahun.

b. Keledai tersebut bergaya seperti ahlul hadits, padahal zaman Nabi SAW belum ada model periwayatan hadits. Belum ada istilah haddatsanaa dan akhbaranaa.

c. Jika ada periwayatan dari hewan perlu ada buku yang menjelaskan kedudukan hewan tersebut, apakah sebagai perawi yang tsiqah, dhaif, atau muttaham bi al-kadzib.

d. Ternyata keledai ini, ayahnya, kakeknya, buyutnya yang ada dizaman Nabi Nuh AS adalah keledai-keledai yang cerdas, mereka bisa membedakan mana ayahnya  mana kakeknya. Akan tetapi saking pinternya keledai tersebut ternyata mati bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur. Seharusnya keledai yang ditunggangi Nabi SAW tahu bahwa bunuh diri adalah dosa besar.


 

Dikutip dari             : Buku Banyolan Syi’ah Imamiyah​ / Penyadur : ANNAS Media

Penulis                   : Firanda Andirja Abidin, Lc.,MA
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments