Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

PETUAH AGUNG RASULULLAH KEPADA PARA TUKANG ADZAN Oase Iman



 

Sahabat Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘anhu mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kepada kekasih sekaligus junjungannya, mantan budak Persia yang pesona imannya menembus zaman ini menyampaikan pertanyaan, “Ya Rasulullah, orang-orang senantiasa berbisnis dan bisa berinfaq dengan keuntungan yang mereka dapatkan.

Pungkas muadzin Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu, “Sementara aku hanyalah tukang adzan (muadzin).”

“Ya Bilal,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim Rahimahullah, “tidakkah engkau bahagia bahwa kelak di Hari Kiamat, engkau adalah orang yang paling panjang lehernya.

Menjelaskan makna hadits ini, Inayatullah Hasyim menjelaskan dalam kolom Hikmah Harian Umum Republika Jumat (22/1) menuturkan, “Panjang leher adalah kiasan untuk menunjukkan amal Bilal Radhiyallahu ‘anhu dalam menyeru orang pada kebaikan, menjadikannya bahagia di akhirat kelak.”

“Kadang,” lanjutnya, “dari satu pekerjaan, kita tidak mendapatkan imbalan duniawi yang memadai, tetapi yakinlah bahwa skenario Allah Ta’ala selalu yang terbaik.”

Mendapatkan pekerjaan yang bergengsi bukanlah larangan. Bahkan sangat dianjurkan jika pekerjaan tersebut bisa menjadi sarana kebaikan untuk sebanyak-banyaknya kaum Muslimin dan umat manusia. Dalam hal ini, Islam memiliki sikap yang sangat jelas. Agar umatnya tidak hanya melihat pada gengsi, tapi manfaatnya.

Sebuah pekerjaan yang terlihat remeh di dalam pandangan umum, bisa jadi bernilai sangat baik jika dilihat dari penilaian Islam. Pun sebaliknya. Ada begitu pekerjaan-perkerjaan yang dipandang hebat, bergengsi, dan diperebutkan oleh sebagian besar manusia, tapi nilainya sangat rendah dan hina di dalam penilaian Islam.

Bukankah mereka yang mengenakan setelan jas, berdasi, sepatunya mengkilat, dengan mobil mewah yang dikendarai setiap hari terlihat sangat bergengsi dalam penialain manusia? Akan tetapi, jika hartanya didapat dari menipu, berbohong, jualan kasus, dan aneka modus korupsi lainnya, bukankah yang mewah itu ternilai sangat menjijikan di dalam penilaian Islam yang amat mulia?

Maka berpikirlah baik-baik. Jangan mudah menggunakan standar manusia dalam memberikan penilaian. Jangan berpikir sebagaimana umumnya orang hingga mengabaikan penilaian Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kepada para tukang adzan, di mana pun berada, berbahagia dan bersyukurlah kepada Allah Ta’ala. Berbahagialah sebab kabar gembira ini berasal dari Allah Ta’ala. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjaminnya.

Wallahu a’lam. 

 

Dikutip dari             : kisahikmah.com

Penulis                   : Pirman
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments