Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

Kemaluan Buntung / Terpotong Editorial



 

BANYOLAN SYIAH PART 2

Kemaluan Buntung/Terpotong
 

Agama syiah adalah agama yang tidak masuk akal, penuh dengan khurafat, kontradiktif, dan kekonyolan serta banyolan-banyolan. Di mata syiah orang Islam (Ahlus Sunnah) dibangkitkan pada hari kiamat dengan kemaluan buntung/terpotong.

Akan tetapi, agama syiah tetap saja laris, terutama dikalangan para pemuda. Diantara perkara yang menjadikan agama ini laris manis adalah penghalalan “ritual pengumbaran syahwat sepuas-puasnya” yang ditawarkan oleh agama ini dengan nama ibadah mulia. Ritual tersebut adalah nikah mut’ah. Bahkan kaum syiah nekat menyampaikan hadits-hadits palsu tentang keutamaan nikah mut’ah. Terlebih lagi ancaman bagi orang yang tidak melakukan nikah mut’ah. Kedustaan mengenai hal ini mereka sebutkan didalam hadits palsu, antara lain sebagai berikut :

“Barangsiapa yang keluar dari dunia dan belum melakukan mut’ah maka ia akan datang pada hari kiamat dalam kondisi buntung kemaluannya”. (Fathullahi Al-Kaasyaani dalam kitab tafsir manhaj ash-shadiqin, 2/489).

Hadits palsu lainnya :

“Barang siapa yang bermut’ah sekali maka ia akan aman dari kemurkaan Allah (Al-Jabbaar), barangsiapa yang bermut’ah dua kali maka ia akan bersama al-abraar (kaum shaleh di surga), dan barangsiapa yang bermut’ah tiga kali maka ia akan ikut merapatiku di surga.” (Tafsir manhaj ash-shadiqin 2/493).

Bahkan ada yang lebih parah ada hadits palsu berikut ini :

“Barangsiapa yang bermut’ah sekali maka derajatnya seperti derajat Al-Husain Ra, barangsiapa yang bermut’ah dua kali maka derajatnya seperti derajat Al-Hasan Ra, barangsiapa yang bermut’ah tiga kali maka derajatnya seperti derajat Ali bin Abi Thalib Ra, dan barangsiapa yang bermut’ah empat kali maka derajatnya seperti derajatku (Muhammad Saw).” (Tafsir Manhaj Ash-shadiqin 2/493 ; http://www.dorar.net/enc/firq/1689).

Kesimpulan dari riwayat-riwayat palsu diatas :

Pertama, Ahlus Sunnah (bahkan seluruh orang Islam yang tidak beragama syiah) akan dibangkitkan dalam kondisi buntung tanpa kemaluan. Apabila sudah buntung lantas tidak akan masuk surga. Kalaupun masuk surga maka apa faedahnya ? Dan untuk apa dapat bidadari banyak-banyak kalau buntung ?

Kedua,  barangsiapa yang tidak bermut’ah maka tidak selamat dari kemurkaan Allah.

Ketiga, mut’ah merupakan ritual yang menyenangkan dan juga mendatangkan pahala yang sangat besar. Bahkan sebab terbesar untuk masuk surga. Bayangkan dalam hadits palsu itu disebutkan bahwa untuk meraih derajat Al-Husain yang terbunuh dengan tragisnya sangat mudah, hanya dengan melakukan mut’ah sekali. Jika mut’ah dua kali maka seperti derajat Al-Hasan, jika tiga kali maka seperti derajat Ali bin Abi Thalib. Sungguh ini penghinaan terhadap ahlul bait. Begitu rendah dan hinanya kedudukan mereka, dan begitu mudahnya menyamai mereka.

Keempat,  bahkan dengan mut’ah empat kali menyamai derajat Nabi Saw. Lantas bagaimana dengan orang yang mut’ah sebanyak 5 kali, atau 100 kali ?

Sebenarnya masih banyak lagi banyolan mengenai nikah mut’ah bahkan yang terbaru orang syiah menuding seluruh pernikahan orang di Indonesia adalah mut’ah karena setelah ijab-kabul penghulu menyuruh pengantin pria membaca perjanjian yang ada dibuku nikah yang disebut “Taklik Talak”, padahal yang ada dibuku nikah namanya “Sighat Taklik” yang isinya adalah pernyataan suami jika lalai dan tidak memenuhi janjinya kemudian istri tidak ridha maka boleh mengadu ke Pengadilan Agama bukan pemutusan perkawinan atau kawin menggunakan jangka waktu tertentu. Disini negara/pemerintah hadir untuk mengatur perkawinan agar terbentuk rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat dengan mengeluarkan undang-undang perkawinan.

Berbeda dengan prostitusi mut’ah yang dilakukan syiah, mereka bisa kawin kapan saja asal suka sama suka dan setuju dengan jumlah bayarannya, dengan siapa saja bodo amat mau anak, mau emaknya, mau punya suami bahkan sama bayi yang masih menyusui. Waktunya bisa sejam, sehari, seminggu, setahun terserah udel die maunye. Cara kawinnye juga sakarep dewe mau dari depan dari belakang sing penting nafsu syahwat bisa disalurkan.

 

 

Dikutip dari             : Buku Banyolan Syi’ah Imamiyah​ / Penyadur : ANNAS Media

Penulis                   : Firanda Andirja Abidin, Lc.,MA
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments