Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

POLITISASI HOAX Nasional




Siapapun yang berfikir sehat pasti menentang dan mengecam hoax.
Islam bahkan menyatakan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan (
Al Baqarah 191-217).


Jangankan fitnah, sekedar menyebarkan fakta kaburukan seseorang  juga diharamkan dan dikecam Islam.
Saking bencinya Alloh SWT,  pelakunya diibaratkan dengan kesenangan memakan daging bangkai saudaranya sendiri (Al Hujuraat  13).

Pertanyaannya,  siapa sebenarnya orang yang tega membuat  dan atau menyebar hoax di negeri ini ?

Masalahnya, mengapa mereka melakukannya ? Kepentingan pribadikah ? Kelompok ? Kelompok yang memfitnah ?  Atau malah untuk kepentingan kelompok yang difitnah ? Berdiri sendirikah ? Atau adakah misalnya  dalang dibalik berita hoax Ratna Sarumpaet, 17 kontainer dsb  ?
Di negeri yg dikenal sangat kental dengan slogan "politik itu kotor"  segala sesuatu sangat mungkin saja terjadi.

Adalah sangat mungkin hoax dipolitisasi oleh pihak yang keborokannya tdk ingin diketahui banyak orang. Dengan harapan, lewat rekayasa  dan politisasi hoax,   kelak nantinya akan menjadi menjadi hantu yang sangat menakutkan bagi setiap orang untuk menyampaikan fakta kebenaran
Harapannya agar tidak akan ada lagi pihak yang berani  mengungkapkan dari A sd Z keburukan seorang,  karena bisa digiring ke hoax  yang berujung dengan hukum. Atau paling tidak,  masyarakat akan menganggap berita yang sesungguhnya fakta tersebut sebagai hoax.

Tak ubahnya memilih pendamping hidup, terutama calon suami yang akan memimpin masyarakat kecil bernama rumahtangga dengan anggota keluarga hanya empat atau lima orang saja, di mana seseorang pasti akan berhati-hati dalam menentukan pilihan, dengan sebelumnya berupaya mengetahui segala yang terkait dengan pribadi yang bersangkutan bahkan kedua orangtua dan keluarga besarnya. Harapannya tentunya, agar rumahtangga yang dibangun nanti benar-benar rumahtangga yang Baytii  jannatii "Rumah tanggaku syurgaku". Bukan malah sebaliknya "Rumahtanggaku nerakaku".
Terlebih lagi tentunya dalam memilih sosok yang akan menentukan nasib dua ratus sekian puluh juta rakyat Indonesia untuk  lima tahun mendatang.

Seharusnya masyarakat punya hak untuk mengetahui secara rinci, siapa sosok yang akan dipilih. Kebaikan dan sekaligus segala kekurangan dan keburukannya. Idealnya seorang calon pemimpin itu membiarkan dan memberikan kesempatan seluas luasnya agar segala kekurangannya diketahui banyak orang, Bahkan akan jauh lebih ideal lagi jika yang bersangkutan sendiri yang menjelaskannya.
Bukan malah berusaha menutupi wajah dengan berbagai topeng yang bagi mereka yang tahu siapa dirinya pasti akan tertawa geli melihat lelucon tersebut ditampilkan dalam bentuk blusukan, membagi-bagi sesuatu untuk menghibur dan  menyenangkan sekaligus memperdaya orang awam.
Atau dengan berkoar-koar mengumbar janji yang setiap  orang yang faham tentu tahu jika itu tdk mungkin dilakukan.

Diberbagai negara maju kita acapkali menyaksikan, bagaimana seorang calon pemimpin itu ditelanjangi sampai kemasalah yang sangat pribadi, karena rakyat tentu saja  tidak ingin jika negeri mereka dipimpin  oleh orang yang hati dan wajahnya berbeda.

Masyarakat harus menolak segala macam bentuk hoax. Begitu juga menyebarkan keburukan orang lain untuk sekedar memuaskan kepentingan pribadi.
Namun, untuk mengetahui jika seseorang itu pencuri misalnya mutlak harus diketahui banyak pihak,  agar tidak semakin banyak masyarakat yang menjadi korban pencurian.

Menyampaikan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,  tentu saja bukan hoax dan tdk termasuk "Ghiibah" yang diharamkan Islam. Terlebih jika yang bersangkutan adalah calon yang akan mewakili rakyat atau yang akan menentukan hitam putihnya nasib rakyat lima tahun ke depan.

Kita sepakat menolak Hoax, tapi juga harus sepakat upaya politisasi hoax  dalam bentuk upaya menggiring masyarakat supaya yang nyata-nyata fakta dari keburukan seseorang selalu dianggap hoax.

Agar tidak terulang lagi ironi, memilih pemimpin seperti memilih kucing dalam karung.


 

#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : K.H. Athian Ali M Dai, Lc,.MA


Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments