Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

BERAGAM UPAYA PENISTAAN AGAMA #2 Editorial



 

Tanggapan dan Solusi

1. Kebebasan Menurut Islam

Islam sebagai risalah rahmatan lil alamin bukanlah agama yang anti terhadap kebebasan termasuk kebebasan berekspresi. Sebaliknya, Islam justru memberikan jaminan kebebasan tidak hanya kepada umat Islam namun juga non muslim tentunya dalam batasan-batasan yang telah ditetapkan hukum syara. Prinsip bahwa “agamamu adalah bagimu, dan bagiku agamaku” jika dipahami dengan baik dan benar dapat dijadikan acuan. Di mana sebab turunnya ayat ini (QS.Al-Kafirun:6) berkaitan dengan tawaran “kompromi” dan “negosiasi” antara utusan kaum musyrik Mekah dengan Nabi Muhammad saw.

Mereka menawarkan untuk beribadah menyembah tuhan kaum musyrik dan Allah yang disembah Nabi saw. secara bergantian, selama satu tahun. Jadi, kaum musyrik menyembah Allah selama setahun, sebaliknya Nabi Muhammad saw. menyembah tuhan mereka selama satu tahun. Rasulullah saw. kemudian menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari mengkompromikan din Allah dengan yang lainnya.” Lalu Allah turunkan surat Al-Kafirun. Kemudian Rasulullah saw. pergi ke al-Masjid al-Haram di mana pemuka kaum musyrik berada di dalamnya, kemudian beliau membacakan surat Al-Kafirun sampai selesai. Akhirnya, mereka pun putus asa dari upaya kompromi itu. (Lihat, Imam Abu al-Hasan ‘Ali ibn Ahmad al-Wahidi Asbaab an-Nuzuul, hlm. 496; Lubaab al-Nuquul fi Asbaab an-Nuzuul, hlm. 310).

Dalam masalah akidah, Rasulullah saw. mengajarkan kita ketegasan yang luar biasa. Bak kata pepatah, “Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.” Kisah hijrahnya para Sahabat Nabi Saw. ke Habasyah (Ethiopia) yang dipimpin oleh Ja’far ibn Abi Thalib semestinya jadi pelajaran penting. Dimana dalam kondisi “mecari suaka” pun ‘akidah pantang dikorbankan.

Di hadapan raja Najasyi (Negus) dan para pendeta Najasyi bertanya kepada para muhajirin, “Apa agama yang menjadikan kalian meninggalkan kaum kalian dan kalian tidak memilih agamaku tidak pula agama-agama yang ada ini? Kemudian Ummu Salamah binti Abi Umayyah ibn al-Mughirah, istri Nabi saw. bertutur, ‘Yang menjawab pertanyaan Najasyi ketika itu adalah Ja’far ibn Abi Thalib. Dia berkata, ‘Wahai raja, kami dulu adalah kaum jahiliyyah. Kami menyembah berhala, memakai bangkai, melakukan perbuatan keji, memutuskan tali silaturrahim, berbuat jahat kepada tentangga, yang kuat dari kami “memakan” yang lemah. Kamu terus dalam kondisi seperti itu sampai Allah utus kepada kami seorang rasul dari golongan kami: yang kami mengenal garis keturunannya, kejujuran, amanahnya, dan kesucian dirinya. Lalu dia menyeru kami untuk mengesakan Allah saja, menyembah-Nya, menyuruh kami meninggalkan apa yang kami dan nenek-moyang kami sembang selama ini berupa batu dan berhala-berhala. Dia juga menyuruh kami untuk jujur dalam berkata, menunaikan amanah, menyambung tali silaturrahim, berbuat baik kepada tetangga, tidak mengerjakan hal yang diharamkan dan tidak menumpahkan darah, mencegah kami dari berbuat keji, mencegah kami dari berkata dusta, mencegah kami dari makan harta anak yatim, mencegah kami dari menuduh perempuan baik-baik dengan telah berbuat zina. Dia juga menyuruh kami untuk menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, menyeru kami untuk mengerjakan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan puasa.” Ummu Salamah berkata berkisah lagi, “Ja’far ibn Abi Thalib menyebut hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Ja’far pun melanjutkan, ‘Maka kami benarkan dia, kami beriman kepadanya, kami ajaran yang dibawanya yang berasal dari Allah itu, kami halalkan apa yang telah dihalalkan-Nya untuk kami. Setelah itu, kaum kami pun memusuhi kami, menyiksa kami, menguji kami karena kami berpegang teguh kepada agama kami ini. Itu semua mereka lakukan agar kami kembali menyembah berhala dari meninggalkan Allah, agar kami menghalalkan kembali hal-hal buruk yang dulu kami lakukan, mereka menzalimi kami, mereka mempersempit gerak kami, mereka menghalangi kami dari mengerjakan kewajiban agama kami. Maka, kami keluar hijrah ke negeri kamu wahai raja. Kami memilihmu dari yang lain. Kami ingin hidup berdampingan denganmu. Dan kami berharap di sisi engkau wahai raja, kami tidak lagi dizalimi.” Ummu Salamah berkata lagi,‘Kemudian Najasi berkata kepada Ja’far, ‘Apakah engkau membawa sesuatu dari apa yang dibawa oleh nabi itu dari Allah?” Ja’far menjawab, ‘Ya, ada’. Najasyi berkata, ‘Bacakanlah kepadaku!’ Lalu Ja’far membacakan awal surah Maryam (Kaf. Ha’. Ya’. ‘Ain. Shad). Lalu Najasyi pun menangis, sampai basah janggutnya. Kemudian para uskup yang hadir pun ikut menangis sampai mushaf-mushaf (baca: Injil-injil) yang mereka pegang basah, ketika mereka mendengar apa yang dibacakan kepada mereka. Kemudian Najasyi berkata, ‘Sungguh, ini dan apa yang dibawa oleh ‘Isa berasal dari lentera yang satu’. Kemudian Najasyi berkata kepada ‘Abdullah ibn Abi Rabi’ah dan ‘Amr ibn al-‘Ash, ‘Pergilah kalian! Sungguh, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian.” (Lihat, Sirah an-Nabi atau Sirah ibn Hisyam, 1:322-324).

Ternyata, ‘Abdullah ibn Abi Rabi’ah dan ‘Amr ibn as-‘Ash tidak putus asa. Mereka tetap berusaha agar Najasyi menyerahkan kaum muslimin itu agar kembali dibawa ke Mekah. ‘Amr ibn al-‘Ash malah berkata, “Besok akan aku kabarkan kepada Najasyi bahwa mereka ini ‘Isa putra Maryam adalah seorang hamba.”

Keesokan harinya, tutur Ummu Salamah, ‘Amr ibn al-‘Ash berkata, “Wahai raja, mereka ini mengatakan tentang ‘Isa putra Maryam satu perkara yang sangat besar (bermasalah).”Kemudian dipanggillah kaum Muslimin. Mereka juga bingung jika ditanyakan tentang perkara ini. Dan ketika mereka sudah berada di hadapan Najasyi, mereka ditanya, “Bagaimana menurut kalian ‘Isa putra Maryam?” Ummu Salamah menuturkan, ‘Kemudian Ja’far ibn Abi Thalib menjawab, ‘Kami meyakini apa yang telah dibawa oleh nabi kami tentang ‘Isa ini. Dia adalah seorang hamba Allah, utusan-Nya, ruh-Nya, dan firman-Nya yang dimasukkan ke dalam (rahim) Maryam sang perawan dan taat itu.” Kemudian Najasyi memukul tanah dan mengambil satu genggam dan berkata, ‘Sungguh, selain ‘Isa putra Maryam adalah apa yang aku katakan satu genggaman ini…” (Lihat, Sirah Ibn Hisyam, 1:324-325).

Jadi, jauh sebelum lahirnya ide HAM, Islam sudah memberikan jaminan kebebasan sekaligus perlindungan terhadap hak-hak  individu dalam bentuk kebebasan beribadah, kebebasan berusaha dan kebebasan sosial.  Ketika negara Islam masih tegak dan menerapkan hukum Islam,  masyarakat muslim maupun non muslim dapat bebas menjalankan ibadah tanpa harus takut mengalami penistaan, diskriminasi dan intimidasi.  Terbukti, hingga kini di Timur Tengah masih berdiri kokoh gereja gereja dan sinagog yang berumur ratusan tahun.  Selain itu, hubungan antara sesama umat beragama dapat terjalin harmonis karena mendapatkan jaminan perlindungan yang adil dari negara. Bahkan, hingga kini non muslim dapat menikmati kebebasan yang luar biasa di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia.  Kalau kita mau jujur, siapa sebenarnya yang anti kebebasan dan bersikap diskriminatif?

2. Salah Paham tentang Toleransi

Jika toleransi dipahami dengan bolehnya mencampur-adukkan ritual yang berbeda, misalnya antara azan dan lagu rohani Kristen dalam perayaan Natal Nasional itu, jelas tidak benar. Karena manfaat dan fungsi azan dalam Islam bukan untuk disalah-gunakan. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa fungsi azan itu adalah empat: (1) menampakkan syiar Islam, (2) kalimat Tawhid, (3) petanda masuknya shalat, dan (4) seruan untuk melakukan shalat jamaah. (Lihat, Syarh Shahih Muslim, karya Imam an-Nawawi,  4:77).

Selain itu, tentu ada yang dilanggar dari sunnah azan itu sendiri. Di mana setiap orang yang mendengar kumandang azan ia harus mengikutinya, seperti ucapan sang muazin itu. Hal ini didasarkan kepada sabda Nabi, “Jika kalian mendengar muazin mengumandangkan azan, maka katakanlah seperti apa yang dikumandangkan muazin itu. Kemudian shalawatlah kalian kepadaku. Karena jika salah seorang dari kalian bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan membalasnya sepuluh kali. Kemudian mintakanlah wasilah kepada Allah untukku, karena wasilah itu adalah satu kedudukan di surga yang diberikan hanya kepada seorang hamba Allah. Dan aku berharap hamba itu adalah aku. Dan siapa yang memohonkan wasilah itu kepada Allah untukku, dia akan mendapatkan syafaatku.” (Lihat, Syarh Shahih Muslim, karya Imam an-Nawawi,  IV: 85).

Apakah kaum Kristen di Kupang, NTT, itu mengucapkan apa yang dikumandangkan oleh muazzin? Jika ia, berarti mereka telah muslim semua, dan ini mustahil. Karena diyakini bahwa kaum Kristen tidak paham makna, fungsi, dan esensi azan sebagai syiar Islam itu. Di sini semestinya seorang pemuka agama Islam, seperti Ustadz Umarba itu harus jeli. Dan di sini tidak ada kaitannya dengan toleransi. Karena toleransi artinya dapat hidup berdampingan dengan orang yang akidahnya kita anggap salah dan menyimpang. Dan jika sudah disama-samakan satu keyakinan dalam satu agama dengan keyakinan agama yang jelas berbeda, itu namanya sikretisme, bukan toleransi.

Sebagaimana dinyatakan Imam Masjid Istiqlal (sebelum diganti), KH Ali Mustofa Yakub, bahwa dikumandangkannya azan mengiringi lagu rohani Kristen saat peringatan Natal Bersama Nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan campur aduk antara perkara yang hak (benar) dan batil (salah) dalam agama. Menurutnya tak ada toleransi dalam hal akidah dan ibadah. “Itu sudah jelas-jelas mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil,” kata KH Ali Mustofa Yakub kepada Kiblat.net, Rabu (30/12/2015).

3. HAM Menurut Islam

Dalam Islam, definisi HAM adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak lahir sebagai karunia Allah Swt, sehingga hak tersebut tidak akan pernah bertentangan dengan Kewajiban Asasi Manusia (KAM) yang telah digariskan oleh Allah Swt. dan Rasulullah saw.

Inti dari KAM adalah kewajiban manusia beribadah kepada Allah Swt. sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." QS. Adz-Dzaariyaat : 56

Dengan KAM segenap umat Islam wajib tunduk, patuh dan taat menjalankan semua perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya, serta wajib pula meninggalkan segala larangan Allah Swt. dan Rasul-Nya semata-mata hanya untuk mencari ridha-Nya.


Dengan demikian, HAM tidak berdiri sendiri, tapi selalu diikat dengan KAM. Jadi, definisi HAM terikat erat dengan doktrin ajaran agama Islam, sehingga norma-norma agama Islam menjadi tolok ukur paling utama dalam terminologi HAM. 

Berdasarkan definisi ini, maka setiap manusia berhak untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, namun harus dengan cara yang dibenarkan Syariat Islam, sebagaimana setiap manusia berhak untuk makan dan minum apa saja yang disukainya, namun tetap dalam batasan makanan dan minuman yang dihalalkan Syariat Islam.


Karenanya, dalam Islam ditegaskan bahwa perzinahan dan LGBT serta aneka penyimpangan sex lainnya, merupakan pelanggaran KAM, sehingga bukan merupakan HAM. Begitu pula mengkonsumsi makanan dan minuman haram, semuanya pelanggaran KAM, dan bukan merupakan HAM.


Selain itu, HAM dalam pandangan Islam statis, tidak berubah-ubah. Artinya, apa-apa yang diharamkan atau dihalalkan Syariat Islam akan tetap berlaku hingga Hari Akhir. Sesuatu yang telah ditetapkan sebagai HAM maupun KAM oleh Allah Swt. dan Rasulullah saw, maka dari dulu hingga kini, bahkan sampai masa yang akan datang, akan tetap menjadi HAM dan KAM. 


Dengan demikian, keharaman khamar (miras) yang mencakup segala jenis minuman atau makanan yang memabukkan. Dari bahan apa pun dibuatnya, apakah dari kurma, anggur atau buah lainnya, termasuk dari bahan kimia sekali pun. Apapun bentuknya, apakah cair, gas, asap, jeli, bubuk, pil, serta bentuk lainnya. Bagaimana pun cara mengkonsumsinya, apakah diminum, dimakan, dikunyah, dioleskan, disedot, atau pun disuntikkan. Apapun namanya, apakah Alkohol, Arak, Bir, Rum, Vodka, Cognac, dan sebagainya. Berapa pun kadar penggunaannya, banyak atau pun sedikit. Serta kapan dan dimana pun minumnya, apakah di musim panas maupun dingin, atau apakah di negeri Arab mau pun di negeri China atau di negeri lainnya. Maka sejak dulu hingga sekarang, bahkan sampai yang akan datang, khamar adalah haram, dan bukan merupakan HAM, serta sampai kapan pun tidak akan pernah menjadi HAM. Jadi jelas, bahwa HAM dalam pandangan Islam memiliki kaidah dan batasan yang jelas, sehingga tidak akan pernah berbenturan dengan HAM.

4. Alasan Tak Logis

Dalam sebagian besar kasus penghinaan simbol Islam selalu muncul alasan: tidak sengaja atau tidak tahu. Alasan ini sungguh tidak logis. Sebabnya, desain motif hiasan sandal, sepatu, atau fesyen lainnya perlu proses panjang dan persetujuan untuk sampai ke proses produksi. Sama halnya dengan alasan tidak tahu. Sungguh aneh jika masih ada yang tidak tahu tulisan lafal Allah dalam huruf Arab atau tulisan al-Quran. Semua orang pun paham, sajadah tak pantas dijadikan alas menari. Jadi, alasan tidak sengaja atau tidak tahu, dalam banyak kasus pelecehan simbol Islam, jelas sulit bisa diterima nalar.

Apa yang terjadi itu jelas menunjukkan adanya ketidakpedulian dan menggampangkan masalah. Karena itu, terlepas dari apakah ada rekayasa atau terpisah satu sama lain, kasus yang terus berulang ini jelas menunjukkan adanya masalah besar.

 

bersambung.......................

 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Amin Muchtar, Anggota Dewan Syuro ANNAS
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments