Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

a Few Good Men dalam Retorika Arsitektur (Desain), Sebuah Perspektif Lain Memahami Peristiwa Konstitusi Nasional


diolah oleh : 
Dr. Tendy Y. RAMADIN, S.Des., M.T. (Arch.) 

Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior - ITB, 
Arsitek sejumlah Masjid, Sekolah/Sekolah Peradaban/Universitas Islam/Islamic Society, 
Anggota Tim Arsitek YPM Salman ITB,
Ketua 3 Bidang Pendidikan dan Latihan serta Riset dan Pengembangan ANNAS.


Komunikasi dan retorika adalah aspek inheren arsitektur. Arsitektur menggunakan tanda-tanda untuk mengkomunikasikan fungsi dan artinya. Komunikasi menjadi retorika ketika mendorong penggunanya untuk menggunakan atau memahami arsitektur - dari filosofi Bacang ke Piramida Mesir. Pergerakan dalam arsitektur, dimulai dari Gotik hingga Gaya Internasional, dan Post-Modernisme mempromosikan nilai-nilai dan keyakinan tertentu. Kesemuanya itu dapat dipelajari sebagai gerakan retoris. Sebagaimana halnya komunikasi linguistik, arsitektur terdiri dari kode, makna, pergeseran semantik, dan sintaksis.

Gedung pengadilan Mahkamah Konstitusi (MK) menggambarkan  ungkapan sebagai ‘ruang terbuka' bagi protes atas negosiasi hukum yang panjang. Sudut-sudut tajam berulang membentuk ‘algoritma kepastian hukum’.  Langkah-langkah menapaki anak tangga gedung yang mengubah wajah dialog kesetaraan menjadi pengelasan tinggi dan rendah. Menyampaikan simbol positioning yang terhormat dalam pranata sosial. Dalam Gedung Pengadilan, setiap sandi pecah dari sumbernya; tanda-tanda visual meluncur dan bersinggungan ke dalam bingkai pesan, tanda dan makna.
 

Bagian 1

Jika pernah menyaksikan film Hollywood “A Few Good Men”yang  dirilis tahun 1992, mengilustrasikan situasi yang tersulut oleh bentrokan nilai, ‘kembang api’ ruang sidang, dan tampilan akting jempolan yang memukau ala drama Broadway.

Letnan J. G. Daniel Kaffee (Tom Cruise ya, bukan saya!), merasakan panas dari semua sisi saat pengadilan militer dimulai. Letnan. Cdr. Jo Anne Galloway (Demi Moore), tak henti-hentinya membujukya meninggalkan kasus ini dan pergi setelah menetahui bahwa ‘aparat keparat’ Kolonel Nathan Jessup (Jack Nicholson) terlibat diperintahkan untuk menjatuhkan hukuman pembunuhan anggotanya karena korban telah memutuskan rantai komando. Nathan Jessup menggunakan proxy pinjam tangan anak buahnya yang lain dalam eksekusi pembunuhannya (Code Red) agar ia dapat ‘cuci tangan’.

Semua pihak memperingatkan Kaffee bahwa sepak terjangnya kali ini akan membahayakan kariernya. Jagoan Harvard sekali pun tidak akan bisa lepas dari rasa takut, terlebih lagi bahwa dia tidak akan pernah bisa memenuhi keinginan mendiang ayahnya  agar Kaffe meraih kehormatan sebagai seorang pengacara yang menjadi Jaksa Agung.

Film yang memukau ini memaksa audiens untuk mempertimbangkan sikap terhadap kekuasaan absolut, legitimasi kepatuhan yang tidak berkedip kepada atasan, harga yang tinggi untuk sebuah kepatuhan, dan pendzaliman terhadap yang lemah. Satu pihak berpendapat bahwa mereka yang ‘menjaga dinding pembatas’ dan menahan musuh, sehingga menjadi ‘pembenaran’ agar mereka dapat melakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Yang lain mengatakan sama kerasnya bahwa aturan hukum berlaku sama bagi semua orang, dan kesetiaan terhadap hati nurani pribadi adalah ukuran moral individu.

Bentrokan nilai-nilai mendasar ini merasuki tidak hanya kehidupan militer tetapi masyarakat pada umumnya. Memang, dampak nyata dari A Few Good Men tampak jelas ketika dilihat dalam konteks ini. Kisah ini dengan jelas menunjukkan bahwa masalah dalam masyarakat Amerika tidak pernah berupa ketiadaan nilai-nilai melainkan gaya pertempuran yang memecah-belah dan konfrontatif yang tajam antara individu-individu yang memiliki keyakinan mendalam dengan sistem pemahaman moral yang sangat berbeda. Sebuah 'pertaruhan' kredibilitas hakim dan hukum. 

Ending cerita film ini mengisahkan pada akhirnya di ruang sidang Jessup sang angkara murka terjebak ‘ego’ dan ‘superioritas’nya sendiri sehingga mengalir dari lidahnya kata-kata “…memang saya yag memerintahkan kode merah itu. Lantas kamu mau apa?…Kamu tidak akan mengerti bagaimana menjaga sebuah kehormatan dan melindungi marwah negara…”. Ia terpancing oleh serangan cerdas dalam kelindan  kata-kata bernas yang dilontarkan Kaffe dalam injury time.

QS 3 Ali Imran ayat 53: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, karena itu tetapkanlah kami bersama golongan orang yang memberikan kesaksian."

QS 3 Ali Imran ayat 54: 
Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Menurut hemat saya, telah terjadi refleksi yang serupa kendati tak sama pada hari-hari ini, khususnya  pada hari ini di negeri ini. Wallahu ‘alam bishawwab.
 

Bagian 2

QS 51 Adz Dzaariyaat (Angin Yang Menerbangkan) ayat 20 & 21: “Dan dibumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri.  Apakah kamu tiada memperhatikan?”

Ungkapan yang baik, akan lebih bernilai manakala didukung oleh teknik yang memadai dan ditunjang kepiawaian dalam mewujudkannya.

Pak T Sutanto, purnabakti staf  pengajar Desain Komunikasi Visual ITB, pernah menyampaikan tentang potensi istimewa bahasa visual, antara lain: 

Bahasa visual mempunyai kesempatan untuk lebih cepat dan langsung dimengerti daripada bahasa verbal, tulisan, lisan, bahkan suara. 

Bahasa visual dapat menjadi lebih permanen dibandingkanbahasa suara yang bergerak dinamis dalam waktu serta lebih mudah dipisahkan dari keadaan senyawa kompleksitasnya. 

Bahasa visual mempunyai kesempatan amat kuat memaknai nilai simbolisnya.                
Semiotika merupakan ilmu atau metode ilmiah untuk melakukan analisis terhadap tanda dan segala hal yang berhubungan dengan tanda. Keberadaannya mampu menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif, menggantikan sesuatu yang lain, dapat dipikirkan, atau dibayangkan. Cabang ilmu ini semula berkembang dalam displin ilmu linguistik, kemudian berkembang pula dalam bidang arsitektur, desain dan seni.

Tanda merupakan bagian yang penting dari bahasa, karena bahasa itu sendiri terdiri dari kumpulan lambang-lambang, bahwa di dalam lambang-lambang itu terdapat tanda-tanda. Oleh karenanya sudah barang tentu ada kaitan yang erat antara semiotika dengan proses komunikasi, mengingat semiotika merupakan unsur pembangun bahasa dan bahasa merupakan media dalam proses komunikasi.

Berangkat dari hal tersebut, perkembangan teori semiotika menjadi menarik untuk dipaparkan dan dibahas lebih mendalam secara holistik.
1. Simbol yaitu tanda yang dapat melambangkan atau mewakili sesuatu (ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan) secara arbitrer dan konvensional. Misalnya, warna merah dan putih dalam bendera kebangsaan Indonesia masing-masing melambangkan keberanian dan kesucian.
2. Indeks yaitu tanda yang dapat menunjukkan sesuatu (ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan) secara kausal atau faktual. Misalnya, asap menunjukkan adanya api.
3. Ikon yaitu tanda yang dapat menggambarkan sesuatu (ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan) berdasarkan persamaan atau perbandingan. Misalnya, potret diri atau pas foto menggambarkan orangnya.

Relasi antara tanda sebagai representan dengan denotatum di atas didasarkan pada sifat hubungan itu sendiri. Apabila hubungan antarax tanda atau representan dengan denotatum atau objek melambangkan atau mewakili secara arbitrer dan konvensional, tanda itu disebut simbol; apabila menunjukkan secara kausal dan faktual, tanda itu  disebut indeks; dan apabila menggambarkan berdasarkan persamaan atau perbandingan, tanda itu disebut ikon.

Proses penyampaian simbol itu diberikan  predikat sebagai tindak komunikasi. Dengan kata lain, tanda (simbol, indeks, dan ikon) adalah media komunikasi (mediums of communication) yang berpijak dalam pendekatan semiotika.

Keadaan ini bukan tanpa hujjah (alasan) karena ada ketidak sempurnaan ikatan alamiah antara penanda dan petanda. Simbol keadilan yang berupa mizan (timbangan) tak dapat digantikan oleh simbol lainnya seperti kendaraan (becak) misalnya. Seorang dewi yang dengan mata tertutup sedang memegang timbangan bahkan dianggap menguatkan makna tentang keadilan, menggambarkan ketidak berpihakan dan kesamaan perlakuan (equal) yang diasosiasikan dengan keadilan. Gambaran ini merupakan simbol konvensional keadilan dalam padangan keyakinan Yahudi-Kristen di Barat. Oleh karenanya akan nampak ada keterkaitan logis dan dialogis antara timbangan dan konsep keadilan. Apabila sekadar melihat gambar timbangan tidak secara otomatis menjadikan seseorang berpikir tentang keadilan. Pada titik inilah ‘konteks’ menjadi sangat penting dalam analisis semiotika.

Suatu simbol, dari  perspektif semiotika, adalah sesuatu yang memiliki signifikasi dan resonansi kebudayaan. Simbol tersebut memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan memiliki makna mendalam. Memandang simbol dan mengasosiasikannya dengan semua jenis  kisah, sejarah bahkan peristiwa, pengalaman dan sebagainya, mengandung pengaruh kekuatan ‘sihir’ emosional bagi kita dan orang lain.    
Banyak orang seringkali menggunakan makna tetapi sering kali pula kita tidak memikirkan makna itu. Ketika kita masuk ke dalam sebuah ruangan yang diisi dengan furniture yang khas, di sana muncul sebuah makna. Seseorang sedang duduk di sebuah kursi dengan mata tertutup dan boleh diartikan bahwa ia sedang tidur atau dalam kondisi lelah. Manakala seseorang tertawa dengan kehadiran seseorang, boleh jadi ia mentertawai seseorang  itu atau mengajak orag tersebut tertawa. Seorang kawan menyeberang jalan dan melambaikan tangannya ke arah kita, menandakan ia sedang menyapa kita. Makna dalam satu bentuk atau bentuk lainnya, menyampaikan pengalaman sebagian besar umat manusia     

Dalam kaitannya dengan hukum, maka sesungguhnya hukum adalah sebuah simbol. Sebagaimana diketahui, bahwa dalam proses komunikasi secara primer, lambang atau simbol digunakan sebagai media dalam penyampaian gagasan atau perasaan seseorang kepada orang lain. Lambang di dalam proses komunikasi meliputi bahasa, gestur, isyarat, gambar, warna, dan tanda-tanda lainnya yang dapat menerjemahkan suatu gagasan atau perasaan seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan) secara langsung.

Kursi hakim MK dengan ukiran burung Garuda, dan ukurannya yang lebih tinggi dari sandaran kepala pada umumnya, membuat kursi hakim terlihat begitu megah.  Posisi tegak lurusnya menunjukkan kesan ‘formal’nya,

Ornamen yang terdapat pada kursi hakim MK tersebut memiliki nilai simbolik atau makna tertentu sesuai dengan tujuan dan konsep pembuatnya, sehingga dapat ‘meningkatkan status sosial ‘tuan’nya. Hakim MK adalah representasi kecil dari ‘perwakilan Tuhan’ di dunia.

Ornamen tidak dapat dipisahkan dari faktor latar belakang sosial budaya, ajaran agama yang gayut , sebagai buah hasil pemikiran dari sistem budaya sosial yang  menjadi satu acuan dasar.

Estetika, etika dan logika merupakan dasar-dasar pertimbangan dalam mencari, mengolah dan menempatkan ragam hias yang mengambil tiga kehidupan di bumi, manusia, hewan (fauna) dan tumbuh-tumbuhan (flora).  Segitiga lagi ya?!

Kursi Kertha Gosa pengadilan di Bali yang berwarna merah dan kuning emas misalnya, mengandung arti antara lain: 
1. Warna dasar biru tua mengandung arti toleransi; 
2. Warna kuning emas mengandung arti luhur atau agung; 
3. Warna merah mengandung arti keperwiraan; 
4. Warna putih mengandung arti suci.  

Seorang  hakim dapat  mengadili  suatu  perkara dengan  pembawaan  wibawa  yang  tegas dalam mengambil keputusan. Warna kuning emas membawa suatu pemaknaan yang luhur atau agung karena seorang pemimpin (raja atau pengadil) atau seorang hakim diutus, biasanya di dzaman sekarang pun dipanggil dengan sebutan yang mulia, yang berarti seseorang yang diagungkan, diluhurkan, dihormati. Tidak peduli postur tubuhnya pecekrek leutik (gempal atau kerdl, red.) sperti Danny DeVito.
 

Bagian 3 

QS 41 Fuhshilat ayat 53: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap alam raya dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagimu sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu ?”.

Dr. Acep Iwan Saidi, pakar semiotika yang juga sahabat sekaligus sejawat saya di ITB, mencontohkan dalam konteks Islam warna putih memiliki makna Islami ketika ia didesain sebagai baju koko/baju taqwa. Namun, jika didesain sebagai kemeja, warna putih tidak lantas bermakna Islami. 

Bagaimana dengan 'putih Jokowi'? Baju putih yang identik dengan pak Joko Widodo adalah kemeja putih yang dipakai dengan cara dilipat bagian ujung lengannya, tidak dimasukkan ke dalam celana, dan biasanya dipadu dengan celana hitam dari kain atau jeans. Lain dari bentuk ini, baju putih bersifat netral, pungkasnya. 

Oleh  karenanya, menurut pak Acep, baju putih tidak dapat serta merta diidentikkan dengan seseorang atau pasangan calon presiden tertentu. Sama halnya dengan baju koko putih yang tidak bisa diidentikkan dengan pak Ma'ruf Amin. Sebab, cara berpakaian Ma'ruf Amin, yang memadukan peci hitam, sarung, dan sorban, merupakan visualisasi dari ‘Islam Nusantara’. (kita boleh berbeda pandangan tentang ini…)

Jika koko dipadu dengan peci putih (topi haji), misalnya, kesannya justru akan sebaliknya dari ’01’, yakni menjadi milik ’02’. 'Putihkan Monas', adalah metafora milik 212, yang visualisasi dan sintaksis fashion-nya koko putih yang dipadu dengan peci putih (dalam berbagai bentuk)," sekilas pandangan yang pernah saya baca dari penjelasan pak Acep. 

Pada akhirnya, baju putih tidak dapat lantas disederhanakan dengan upaya mengidentikkannya terhadap pak Joko Widodo atau 02.

Lantas bagaimana akhir pembahasan kita tentang a Few Good Men?
 

Bagian 4.

Pesan, tanda dan makna yang berkembang hari ini, setuju atau tidak setuju, sepakat atau tidak sepakat, bahkan sepakat untuk tidak sepakat sekali pun, adalah sebuah pertarungan ‘klasik’ antara haq dan bathil, metafora dari kecurangan melawan kejujuran dan keadilan. Yang benar, bahkan  kebenaran itu, sering digambarkan sebagai golongan minoritas.

QS 34 Saba ayat 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”.

ﺑَﺪَﺃَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ ﻭَﺳَﻴَﻌُﻮﺩُ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺪَﺃَ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ ﻓَﻄُﻮﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.”
(HR. Muslim no. 208)

Sahabat bertanya siapa kah orang asing itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam  menjawab:
Mereka ialah orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan di tengah kerusakan. 
(HR. Ahmad).

Maka,

فَكُنْ أَنْتَ مِن القَلِيْلِ الَّذِي قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْهِمْ: Jadilah Anda termasuk dari yang sedikit

diiringi doa:

اللهم اجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ القَلِيْلِ … اللهم اجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ القَلِيْلِ 

Ya Allah, Jadikanlah diriku termasuk hamba-hamba-Mu yang sedikit… Ya Allah, Jadikanlah diriku termasuk hamba-hamba-Mu yang sedikit…

bahkan jika perlu membacakan doa ini
QS 10 Yunus 88:
88. Dan Musa berkata, "Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Fir'aun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka dan kuncilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih."

Apa pun pilihan kita, 01 atau pun 02, moralitas bangsa kita diuji dengan perhelatan menarik di Mahkamah Konstitusi hari ini. 

Yuk bijak dalam memaknainya. 

...Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq, billahi fii sabililhaq fastabiqul khairat, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bandung, waktu Dhuha pagi hari 10 Syawal 1440 H.

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Dr. Tendy Yulisca Ramadin S.Sn.,MT
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments