Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

PENGHARGAAN RASULULLAH SAW KEPADA DZUL BIJADAIN Oase Iman



 

Abdullah bin Mas’ud menceritakan sebuah kisah yang sangat mengharukan. Yang tentunya kisah ini dapat dijadikan sebagai sebuah pelajaran berharga bagi hidup kita sebagai seorang muslim. Beliau menceritakan bahwa ketika itu beliau tertidur karena hawa yang begitu dingin dan merasa takut akan kepekatan gelapnya malam. Tiba-tiba beliau mendengar suara orang yang menggali tanah. Beliau pun merasa keheranan,  siapa yang menggali tanah di tengah malam dan dalam udara yang begitu dingin?

Beliau memandang tempat pembaringan Rasulullah Saw, namun beliau tidak melihat baginda Rasulullah Saw. Akhirnya beliau mengalihkan pandangannya ke tempat pembaringan Umar RA, namun beliau pun tidak menemukan Umar RA. Berikutnya beliau arahkan pandangannya ke tempat pembaringan Abu Bakar RA, tapi beliau juga tidak menemukan Abu Bakar RA di tempat pembaringannya. Beliau lalu keluar dan menemukan sahabat Umar dan Abu Bakar sedang memegang obor. Sementara itu, beliau melihat Nabi Saw sedang menggali tanah. Singkat cerita beliau mendatangi Rasulullah Saw dan bertanya, ”Ya Rasulallah, apa yang sedang engkau lakukan?”

Rasulullah lalu mengangkat kepala dan memandang ke arah Abdullah bin Mas’ud. Beliau melihat kedua mata Rasulullah Saw sedang meneteskan air mata. Rasulullah Saw berkata, “Saudaramu, Dzul Bijadain telah meninggal.” Lalu Abdullah bin Mas’ud memandang Abu Bakar dan Umar sambil berkata, “Kalian biarkan Nabi Saw menggali tanah, sementara kalian berdua hanya berdiri saja.” Abu Bakar RA berkata,  “Rasulullah hanya ingin menggali liang kubur Dzul Bijadain sendirian.”

Kemudian Rasulullah Saw menjulurkan tangannya kepada sahabat Abu Bakar dan Umar sambil berkata, “Dekatkan (jenazah) saudara kalian kepadaku.” Abu Bakar dan Umar lalu memberikan jenazah Dzul Bijadain kepada Rasulullah Saw sembari bersabda, “Bersikaplah lembut dengan saudaramu! Bersikaplah lembut dengan saudaramu! Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mencintainya.”

Rasulullah Saw lalu meletakkan jasad Dzul Bijadain di hadapan baginda. Air mata beliau pun terjatuh mengenai kain kafan Abdullah Dzul Bijadain. Beliau lalu meletakkan jenazah itu ke liang kuburnya kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa, “Ya Allah, aku bersaksi di hadapan-Mu bahwa malam ini aku ridha dengan Dzul Bijadain, maka ridhailah ia.”

Dzul Bijadain memiliki nama lengkap Abdullah bin Abdu Nahm bin ‘Afif bin Sahim bin ‘Adwy bin Tsa’labah bin Sa’ad al-Muzany. Sebelum memeluk Islam, namanya Abdul ‘Uzza. Kemudian Rasulullah s.a.w menggantikan namanya dengan nama Abdullah. Kenapa ia diberi gelaran Dzul Bijadain? Dari ibn Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimy berkata,  ”Abdullah (Dzul Bijadain) berasal dari Muzainah. Tinggal di rumah pamannya. Selama tinggal di sana dia sangat patuh dan baik dengannya. Suatu hari pamannya mendengar bahwa ia memeluk Islam. Maka pamannya marah sehingga semua barang yang diberikan supaya dikembalikan. Bahkan pakaian yang menutupi badannya disuruh melepaskannya. Ia pun pulang menemui ibunya. Melihat anaknya tidak memakai pakian, ibunya terus mengoyak kain penutup tebal miliknya menjadi dua.

Sejak itulah ia dipanggil Dzul Bijadain (yg memilki 2 helai pakaian). Ia dibesarkan di kabilahnya, Muzainah. Kabilah ini berada di dekat gunung Warqon, dekat Madinah. Orang tua Dzul Bijadain miskin. Hingga menginjak dewasa, ia belum mendengar tentang ajaran Islam. Maka setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah, ia mulai mengenal ajaran Islam.

Dalam banyak kesempatan ia gunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah Saw. Setelah yakin dan membuktikan kebenaran ajaran Islam, ia berikrar memeluk Islam. Hanya saja masih dirahasiakan terutama dari pamannya dan juga kabilahnya.

Pada waktu perang Tabuk, ia meminta Rasulullah Saw untuk mendoakan agar dirinya mati syahid. Tapi Rasulullah Saw sebaliknya mendoakan semoga darahnya terjaga dari pedang orang-orang kafir. “Demi ayah dan ibuku, bukan itu yang aku inginkan?” kata beliau. Rasulullah Saw menjawab, “Jika kamu keluar rumah hendak berperang kemudian kamu sakit,  maka termasuk mati syahid.” Tidak berapa lama, ia terkena sakit demam hingga wafat.

Abdullah dzul bijadain adalah diantara sahabat yang berhijrah bersama Rasulullah Saw ke Madinah dengan hanya menggunakan dua helai kain (karenanyalah ia dijuluki dengan dzul bijadain), karena tinggal itulah satu-satu hartanya, mengingat harta yang lain telah diambil kaumnya,

Saat sebelum hijrah ke Madinah ia dihadang oleh kaumnya dan ia ia berkata ”‘jika kamu ingin ambil harta-hartaku, maka ambillah tetapi biarkan aku berhijrah bersama Rasulullah Saw kerana aku ingin berpagi-pagi dengan beliau dan aku ingin berpetang-petang dengan beliau”.

Sungguh luar biasa keimanan yang tertambat di hati Abdullah Dzul Bijadain sehingga Rasulullah Saw berkenan menggali kubur untuk jenazahnya. Abdullah Dzul Bijadain rela diusir dari rumah paman dan kabilahnya demi Islam dan ia rela meninggalkan harta yang dimilikinya demi keimanan dan kecintaan kepada Islam.

 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments