Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

INILAH AMALAN 4 IMAM MADZHAB YANG JARANG KITA KETAHUI Oase Iman



 

Sebutlah nama empat imam ini di mana pun Anda berada, insya Allah kaum Muslimin akan mengetahui siapa mereka. Ialah Imam Malik bin Anas, Muhammad bin Idris alias Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Abu Hanifah. Dari keempat imam ini, kita mengenal adanya madzhab. Meski ada banyak madzhab dalam dunia Islam, empat madzhab ini menjadi yang paling banyak diikuti oleh kaum Muslimin di berbegai belahan bumi.

Selain kedalaman ilmu melalui ijtihadnya, keempat imam madzhab ini juga memiliki amalan-amalan ritual yang dilakukan secara istiqamah. Amalan-amalan ritual inilah yang menjadi salah satu rahasia kecemerlangan ruhani dan wawasan mereka.

Berikut ini kamu ringkaskan beberapa amalan-amalan yang sering dilakukan oleh empat imam madzhab ini hingga namanya monumental dalam pahatan emas sejarah Islam dan kaum Muslimin.
 

Imam Malik bin Anas

Ibnu Mahdi menyampaikan kesaksian terkait penulis al-Muwatha’ ini, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang hatinya lebih takut kepada Allah Ta’ala selain Malik bin Anas.”

“Aku,” tutur Imam Abdullah bin Mubarak, “melihat Malik bin Anas sebagai orang yang khusyuk. Sungguh, Allah Ta’ala mengangkat derajatnya karena rahasia yang terdapat antara dirinya dengan Allah Ta’ala.”

Syekh Salman al-Audah mengatakan, “Ia senantiasa memanjangkan rukuk dan sujudnya di dalam wirid malamnya. Tatkala berdiri dalam shalat, ia berdiri layaknya tiang, tak ada anggota tubuhnya yang bergerak.”

Selain itu, masih menurut penjelasan Syekh Salman al-Audah, “Sebagian besar ibadahnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tidak ada seorang pun yang melihatnya.”
 

Imam Syafi’i

Imam Rabi’, salah satu murid Imam Syafi’i Rahimahullah mengatakan bahwa gurunya itu membagi malam menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk menulis, sepertiga lainnya untuk shalat, dan sepertiga sisanya untuk istirahat (tidur).

Bahkan, beliau sering tidak tidur malam karena merumuskan kaidah fiqih, menafsirkan al-Qur’an atau merumuskan kaidah dalam agama ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Belliau juga terbiasa shalat Subuh dengan menggunakan wudhu shalat Isya’.

Satu di antara kebiasaannya, beliau senantiasa membawa tongkat untuk mengingat kematian dan meletakkan tanah di atas kepalanya. Rahasianya, ungkap beliau suatu ketika, “Hendaknya seorang ahli fikih meletakkan tanah di atas kepalanya sebagai ungkapan rasa tawadhu’ (rendah hati) dan syukurnya kepada Allah Ta’ala.”
 

Imam Ahmad bin Hanbal

Dalam Musnadnya, Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyarankan para sahabat dan umatnya untuk mengkhatamkan al-Qur’an sekali dalam tujuh hari. Amalan ini pula yang menjadi kebiasaan Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau benar-benar meneladani kebiasaan yang kerap dikerjakan oleh sahabat Nabi yang mulia.

“Ayahku,” ujar Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, “biasa mengerjakan puasa sunnah. Ia berbuka beberapa hari sesuai kehendak Allah Ta’ala kepadanya. Ia juga tak pernah meninggalkan puasa sunnah hari Senin dan Kamis serta puasa Ayyamul Bidh (puasa tiga hari setiap pertengahan bulan Hijriyah).”

Menjelaskan amalan unggulan Imam Ahmad bin Hanbal ini, Syekh Salman al-Audah mengatakan dalam Bersama Imam Madzhab, “Beliau banyak berpuasa ketika di dalam penjara, terkenal sebagai sosok yang menjaga kehormatan diri, mencukupkan diri dengan sesuatu yang ada dan menolak pemberian.”

Majlisnya yang kerap didatangi oleh ribuan jamaah pun disebut oleh ulama-ulama satu zaman dan setelahnya dengan julukan majlis akhirat.
 

Imam Abu Hanifah

Ketika ada orang yang berkata, “Abu Hanifah tidak pernah tidur di malam hari”, Imam Abu Hanifah berkata, “Demi Allah, janganlah orang-orang membicarakanku tentang hal-hal yang tidak aku perbuat.”

“Ia,” tulis Syekh Salman al-Audah tentang imam besar yang juga seorang pengusaha sukses ini, “senantiasa mengidupkan malamnya dengan shalat, doa, dan merendahkan diri di hadapan Allah Ta’ala. Ia merupakan orang yang paling banyak shalatnya dan paling wara’ (menjaga diri dari yang syubhat dan haram).”

Inilah bekal yang senantiasa menjadi bahan bakar bagi mereka. Ialah kedekatan dengan Allah Ta’ala dan kualitas hubungan mereka dengan Rabb semesta alam. Dengan ritual-ritual yang senantiasa dijaga di sepanjang hidupnya ini, para imam berhasil menjadi permata zaman yang sinar gemilangnya menembus lintas generasi.
 

Inilah di antara rahasia utama atas capaian kecemerlangan empat imam madzhab ini. Sebuah rahasia yang jarang kita ketahui. Pun jika kita tahu, amatlah sukar untuk mengikuti, apalagi untuk menandinginya.

Jika itu semua tak mampu, cukuplah kita menjadi sosok-sosok yang mencintai mereka.

Wallahu a’lam. [Pirman/Bersamadakwah]
 

Dikutip dari             : bersamadakwah.net​

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments