Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

TAKTIK SYIAH MENJERAT "MANGSANYA" #2 Nasional



 

Menurut mentor Syiah, Nabi Muhammad semasa hidupnya menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang sah setelah nabi wafat. Dalam hadis disebutkan, ketika mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib, Nabi mengatakan, “Ini Maulana.” Pernyataan Nabi oleh orang Syiah dianggap sebagai pertanda Ali orang yang sah menjadi khalifah.

Di sini sudah mulai berani memaki-maki Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan. Mentor Syiah akhirnya mengungkit keburukan dari Abu Bakar yang dianggapnya memakan harta anak yatim, hartanya Fatimah. Dalam hadis memang disebutkan, Abu Bakar tidak memberikan warisan kepada Fatimah berupa kebun, karena wasiat Nabi yang mengatakan, bahwa Nabi tidak meninggalkan warisan, karena hartanya seluruhnya diserahkan untuk umat. Karena tidak memberikan warisannya kepada Fatimah, Abu Bakar dianggap memakan harta anak yatim.

Mulai di sini, timbul kebencian kepada para shahabat Nabi. Lalu Umar bin Khattab digembar gemborkan sebagai jagoan dan pemuda perkasa. Ini betul. Tapi saat disebutkan Umar bin Khattab dulu membunuh dan mengubur anaknya hidup-hidup, menurutnya, tidak pernah terjadi. Sebab Umar menikah setelah masuk Islam, yakni periode Madinah. Pada saat orang Jahiliyah membunuh dan menguburkan anaknya, pada saat itu umar masih seorang pemuda yang usianya sekitar 25 tahunan. Dia belum nikah.

Kemudian Usman bin Affan dimaki-maki pula. Kesannya yang ingin ditimbulkan, selain keluarga Nabi, mereka adalah sesat dan pembunuh. Kesan yang ingin ditimbulkan, pembunuhnya diatur oleh Yazid bin Muawiyah. Kesan yang ingin ditimbulkan lagi, Muawiyah adalah pembangkang dan dalang pembunuhan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kejadian itu sebagai peristiwa politik, yang tidak membuat orang menjadi kafir. Peristiwa politik antara perebutan kekuasaan antara Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib. Hal ini menurtnya, tidak boleh mengakibatkan salah satunya atau keduanya disebut kafir.

Nabi ketika duduk bersama Muawiyah, tersenyum. Ketika semua orang pergi, dipanggil Muawiyah. Hanya berdua saja. Nabi mengatakan, anak keturunanmu nanti akan menghabisi anak keturunanku. Ternyata Nabi sudah mendapat bisikan itu. “Anak keturunanmu nanti akan membunuh habis anak keturunanku.” Tapi Nabi tidak pernah mengkafirkan Muawiyah. Bahkan mengangkatnya sebagai orang kepercayaannya. Muawiyah salah satu sekretaris Nabi. Muawiyah juga salah satu shahabat Nabi yang mulia.

Mendengar penuturanan Nabi, Muawiyah menangis, lalu bersumpah tidak akan menikah, supaya tidak punya keturunan. Tapi takdir Allah tidak bisa dihalangi oleh siapa pun. Nabi yang memiliki mata hati yang jernih, bisa melihat kejadian yang akan datang.

Karena takdir Allah tidak bisa diubah, maka Muawiyah punya penyakit yang penisnya besar sekali, sehingga tidak bisa beraktivitas. Penyakit tersebut menurut tabib yang memeriksanya, tidak ada obatnya kecuali harus menikah. Akhirnya ia menikahi seorang budak yang mandul. Meski mandul, akhirnya istri Muawiyah hamil dan melahirkan anak, yang bernama Yazid.

Taktik kelima, saat terjadinya Karbala, yang membunuh Husseien adalah Amr bin Ash, yang menghampiri Husseien seusai terpanah, Sinan bin Anas, yang memenggal kepala Husseien. “Kita dibuat merinding oleh peristiwa ini.” Ketika Sinan bin Anas menghampiri Yazid, membawa kepala Husseien bin Ali Ini ada dua versi. Versi pertama dari Syiah, Yazid mengambil sebatang kayu lalu menyodok-nyodok mulut Husseien, sehinga menambah kebencian pada yazid. Versi kedua, fakta yang sebenarnya, Yazid mengambil kepala Husseien lalu dicium bibirnya sambil mengatakan, “Bibir ini yang pernah dicium oleh Rasulullah.” Akhirnya Yazid menghukum mati Sinan bin Anas.

Fakta lainnya, Muawiyah mengakui kekhalifaan Ali bin Abi Thalib tapi ia tidak mau diturunkan sebagai gubernur. Akhirnya timbul tahun perdamaian. Muawiyah turun, Ali juga turun dari jabatannya. Lalu Muawiyah mengangkat khalifah yang baru. Ini murni peristiwa politik, tidak boleh saling mengkafirkan karena masih ber-Qur’an yang sama, bernabi yang sama, bershahabat yang sama, berpuasa yang sama, berhaji yang sama,sehingga tidak bisa disebut kafir.

Syiah dalam kenyataannya lebih memuiliakan Ali bin Abi Thalib. Dalam bersyahadat, kelompok Syiah menambahkan kata Ali Waliullah. Dalam syahadatnya, melaksanakat Abu Bakar, Umar, Usman, dan istri Nabi Khafshoh dan Aisyah.

Syiah, Al-Qur’annya berbeda, shalatnya berbeda hanya tiga waktu saja. Bukan lima waktu. Orang Siah shalat maghribnya digabung dengan Ashar. Bahkan shalat yang tiga waktu itu bisa digabung seluruhnya dalam satu waktu.

Puasanya juga berbeda, karena berbukanya saat masuk malam hari. Hajinya memang sama ke Baitullah di Makkah, tapi statmentnya adalah Karbala lebih mulia daripada Ka’bah.

Taktik lainnya mengatakan, ketika Nabi wafat, tidak ada yang mengurus janazah Nabi. Mereka sibuk berebut kekuasaan. Shahabat yang lain tidak memandikan janazah Nabi karena wasiat Nabi agar yang meandikan itu keluarga Nabi saja. Semua ingin memandikannya, tapi terbentur dengan wasiat Nabi. Tapi orang Syiah mengatakan, yang lain sibuk berebut kekuasaan, hanya Ali, Hassan, dan Husseien yang memandikan janazah Nabi. “Terang saja mereka keluarga Nabi yang berhak memandikannya,” kata Haikal.

Jangan karena Abu bakar, Umar, dan Usman tidak memandikan lalu disebut sebagai kafir. Taktik yang terakhir, hanya Ali yang berhak menjadi khalifah. Bukan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Mereka disebut kafir karena membangkang perintah Nabi.

Ali sendiri menguatkan, Abu Bakar yang paling berhak menjadi khalifah, karena kebaikannya dan perjuangannya sangat luar biasa bersama Nabi. Jadi pada saat Abu Bakar diangkat sebagai khalifah tidak ada yang protes. Bahkan anak cucunya Ali diberi nama Abu Bakar, anak wanitanya Aisyah.

“Yang sampai pada kita, Ali berperang dengan Aisyah. Ini tidak pernah terjadi. Seluruh khalifah, Abu Bakar, umar, Usman, dan Ali tidak ada perpecahan pada masa itu. Mereka semua kompak dan saling mendukung. Dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan, Ridha kepada mereka dan mereka juga ridha kepada Allah. Kata Nabi, jangan mencela shahabatku.”

 

Dikutip dari             : kompasiana.com

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments