Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

KHUTBAH NIKAH DI SURIAH - SEBUAH PESAN Oase Iman



 

Saya diajak menghadiri pernikahan. Kedua mempelai masih tetanggaan dengan kami. Sebenarnya saya tidak diundang secara resmi oleh keluarga mempelai. Hanya saja karena saya diajak oleh syaikh Kholid yang mengurusi pencatatan akad nikah di wilayah Jabal Akrad.

Sekitar jam 8.30 malam waktu Suriah saya dan syaikh Kholid menghampiri rumah mempelai pria. Lalu kami bertiga menuju rumah mempelai wanita. Setibanya di sana kami disambut ramah oleh keluarga mempelai wanita, layaknya orang Suriah kebanyakan. 

Keluarga ini menempati sebuah rumah sempit, hanya satu ruangan. Suasana rumah temaram hanya di terangi sebuah lampu temple karena tidak ada listrik. Amat bersahaja untuk sebuah acara pernikahan, maklumlah dalam suasana peperangan.

Acara ijab kabul dimulai, syaikh Kholid mulai menulis data-data kedua mempelai dan nama para saksi dalam sebuah kertas akad nikah. Kemudian beliau membacakan tentang mahar pernikahan. Seingat saya senilai 500.000 lira suriah, 100.000 dibayar kontan oleh mempelai pria dan sisanya menyusul. Hal ini diperdengarkan kepada mempelai wanita yang berada di balik tabir. 

Syaikh Kholid bertanya, "Wahai fulanah apakah engkau ridho dengan hal ini?"

Mempelai perempuan menjawab,  "Iya, saya ridho."

Syaikh kholid meneruskan catatannya. Kemudian beliau berhenti sesaat dan berkata, "Sebelum ijab kabul, disunnahkan untuk menyampaikan khutbah nikah atau nasehat untuk kedua mempelai. Saya bersama keluarga mempelai meminta saudara ihsan yang menyampaikan khutbah nikah."

"Glekk...!" tenggorokan saya tercekat.

"Ha...ha...ha..jangan bercanda syaikh!” Ujar saya menolak.

"Bukan..bukan...ini bukan bercanda." kata beliau tersenyum serius.

"Ha..ha..tidak lucu, saya kan belum menikah masak disuruh khotbah nikah." Tepis saya tertawa kecut.

"Tidak apa-apa, ayolah akhi keluarga kedua mempelai juga ingin mendengar nasehatmu." Desak beliau lagi.

Dan para hadirin pun menatap saya dengan penuh pengharapan

Mati kutu! Akhirnya, saya tidak bisa berkelit dan mulai membuka suara.  Dengan muqadimah terbata, ini khutbah nikah saya malam itu. Lebih tepatnya curhat.

"Ba'da tahmid dan sholawat, sesungguhnya pernikahan merupakan sunnah Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam. Karena ini adalah fitrah dan islam sangat menghargai fitrah manusia. Oleh karena itu tidak dikenal ajaran kependetaan atau membujang di dalam islam.
 
Bagi saya, pernikahan bukan hanya untuk menjaga iffah / kehormatan diri, bukan hanya untuk menghindarkan kita dari perbuatan keji, atau hanya sekedar menjaga garis keturunan. Tapi pernikahan adalah untuk menjaga kelangsungan da'wah. Menikah adalah menjaga kelangsungan jihad. Ini juga termasuk tujuan paling penting dalam pernikahan. 

Saya pernah menulis sebuah surat yang saya tujukan untuk calon istri, “Wahai istriku, aku menikahi dirimu untuk menguatkanku dalam dakwah dan jihad. Jika kehadiranmu nanti hanya akan melemahkanku di dalam perjuangan.  Maka dengan sukarela aku harus memisahkanmu dari kehidupanku.”
Jadi mudah-mudahan pernikahan ini dalam rangka untuk saling menguatkan dalam perjuangan.  Terakhir saya ucapkan barakallahu lakuma wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fi khoir.”

Para hadirin terbengong mendengar khutbah nikah rasa curhat yang baru saya sampaikan. Maklum karena saya orang Indonesia. Mungkin saya adalah orang Indonesia pertama yang memberi khutbah nikah sejak meletusnya revolusi. Atau karena saya masih bujangan.

Untuk memecah keheningan saya nyeletuk kembali,

 " ربي هب لي زوجة صا لحة، جميلة، غنية، قانتة، حافظة القران"

"yaa Allah berikan hamba istri yang sholihah, cantik jelita, kaya raya, taat, dan juga penghafal quran!"

Serentak hadirin menjawab, "Amiiin!" dan semua tertawa.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan ijab Kabul. Alhamdulillah berjalan lancar. Seusai ijab kabul kami memberikan ucapan selamat pada pengantin laki-laki, "Alf mabruk..Alf mabruk!" 

Suasana berubah sedikit meriah-horor tepatnya, beberapa mortar rezim nushoiriyyah meledak di dekat tempat kami, "Blaarr..Blarr...!"  Anggap saja turut meramaikan acara pernikahan. Hal ini tidak merubah kebahagiaan kedua pengantin berserta keluarga dan tamu undangan.

Acara berakhir dengan menyantap buah dan manisan yang telah disediakan, sekitar jam 21.30 kamipun berpamitan kembali ke markas.

Yang penting lagi dari cerita di atas. Semoga sampai pesan dari khutbah nikah saya untuk dia di sana. Bahwa pernikahan adalah untuk menjaga kelangsungan perjuangan. Saling menguatkan bukan malah melemahkannya.
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Ihsanul Faruqi (Relawan Misi Medis Suriah)
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments