Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

ALI TERLAHIR SEBAGAI ANAK AJAIB ??? Oase Iman


 

13 Rajab dipandang sebagai “Hari Suci” bagi umat Syiah, karena pada hari itu Ali bin Abi Thalib, yang diklaim sebagai imam ke-1 dari rangkaian 12 Imam maksum, dilahirkan. Hari kelahirannya dipandang penting untuk diperingati umat Syiah di berbagai negara.

Banyak cara dilakukan kaum Syiah untuk merayakannya, meski umumnya berupa ceramah ajaran Syiah tentang keutamaan Ali, mulai dari prosesi kelahiran hingga kepribadiannya. Dalam ceramahnya di Sabeshtan Imam Khomeini, Haram Sayidah Maksumah, Qum, Ayatullah Sayid Ridha Akrami menjelaskan bahwa Kakbah terbelah ketika Fathimah binti Asad akan melahirkan Ali. Waktu itu Fathimah binti Asad sedang beribadah di sekitar Kakbah dan merasakan bahwa dirinya akan melahirkan. Ia pun berdoa kepada Allah untuk memudahkan proses kelahirannya. Seketika Kakbah pun terbelah, Fathimah masuk ke dalam dan tinggal di sana selama 3 hari lalu keluar dari Kakbah dengan menggendong seorang bayi bernama Ali bin Abi Thalib. “Kita juga harus belajar kesabaran dari Ali bin Abi Thalib as yang bersabar selama 25 tahun untuk menjaga persatuan Islam dan kaum Muslimin yang baru masuk Islam supaya tidak kembali menjadi musyrik lagi,” tuturnya. Sayid Akrami dalam khotbahnya juga menyebutkan hadis tentang Imam Ali as. “Mengingat Ali adalah ibadah dan apabila kita ingin mengenal Ali maka perhatikanlah hadis ini, yaitu Ali maal Quran wa Quran maa Ali (Ali bersama Alquran dan Alquran bersama Ali),” pungkasnya. Cek di sini

Di tanah air, Ormas Syiah ABI (Ahlul Bait Indonesia) menggelar acara Milad Ali dengan pembicara Muhammad BSA, bertempat Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Jumat (22/4/2016). Sementara Ormas Syiah lainnya, IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), menggelar acara Milad Ali bersamaan dengan peluncuran buku AFKAR, bunga rampai kata pengantar Kang Jalal, dengan mengambil tempat di Aula Muthahhari, Bandung, pada Ahad kemarin  (24 April 2016).

Rangkaian acara senada pernah dilakukan IJABI pada tahun lalu, Ahad 3 Mei 2015. Milad Ali waktu itu dirangkai dengan peluncuran tiga buku: Misteri Wasiat Nabi karya Kang Jalal (ringkasan desertasi), Al-Muawiyyat (disertasi Babul Ulum, doktor “vulgar” lulusan UIN Jakarta) dan Ushul Kafi (katanya, diterjemahkan Babul Ulum bersama Dr. Dimitri Mahayana). Diluncurkan juga program Yayasan Muthahhari: Altanwir Digital, LPII, dan M-center.

Bagaimana Ali dilahirkan?

Sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan tentang kelahiran Fatimah, putri Nabi saw., bahwa setiap tahun setidaknya terdapat 14 wiladah (hari lahir) dan 13 syahadah (hari kematian) para tokoh yang diklaim sebagai imam Ahlul Bait, yang akan selalu diperingati kaum Syiah khususnya di tanah air. Selain kelahiran Fatimah, Syiah juga memperingati kelahiran Ali bin Abu Thalib.

Meski begitu kaum Syiah agak berbeda dalam menyikapi kepastian waktu, tempat, dan proses kelahiran kedua tokoh yang diklaim biang kaum Syiah itu. Kepastian tentang Ali boleh jadi dianggap lebih penting bagi kaum Syiah daripada Fatimah. Nilai penting soal Ali bukan sekadar dari sudut pandang historis dan riset ilmiah, melainkan sudah masuk di ranah akidah. Pasalnya, bagi mereka kepastian ini merupakan dalil faktual keutamaan Ali di atas para shahabat Nabi saw. yang lain, khususnya legitimasi imamah (kepemimpinan).

Soal waktu kelahiran, para ulama di kalangan Syiah berbeda pendapat. Mayoritas ulama dan sejarawan mereka menetapkan, Ali lahir di Mekah pada hari Jumat 13 Rajab. [1] Namun, sebagian ulama Syiah yang lain, menetapkannya 6 Dzulhijjah. Cek di sini

Silang pendapat terjadi pula di kalangan ulama dan sejarawan Ahlus Sunnah. Al-Hasan al-Basri berpendapat, Ali lahir tahun 15 atau 16 tahun sebelum kenabian (bi’tsah) Muhammad saw.[2] Sedang menurut Ishak, Ali lahir tahun 10 sebelum bi’tsah. Pendapat ini diunggulkan oleh Ibnu Hajar.[3] Namun ada pula pendapat, dilahirkan pada tahun 5 sebelum bi’tsah.[4] Saya pribadi lebih condong pada pendapat Ibnu Hajar dan Ibnu Ishak bahwa Ali lahir pada tahun 10 sebelum bi’tsah.[5]

Meski terjadi silang pendapat soal waktu kelahiran, ulama dan sejarawan Syiah tampaknya sepakat tentang tempat dan prosesi kelahirannya. Mereka meyakini bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka’bah.  Bahkan, mereka meyakini bahwa Ali satu-satunya anak yang lahir dalam Ka’bah itu. Adapun kronologisnya, sebagaimana dilaporkan kantor Berita Syiah Ahlul Bait (ABNA), sebagai berikut: “Diriwayatkan, Fathima binti Asad, istri Abu Thalib, dalam keadaan hamil tua datang ke Ka’bah untuk berdoa. Dia memohon agar dapat melahirkan bayinya dengan selamat. Ketika dia sedang asyik berdoa dekat pintu Ka’bah, tiba-tiba dia terkejut melihat dinding Ka’bah retak dan terbuka lebar. Dinding itu terus terbuka dan semakin melebar sehingga Fathimah binti Asad pun tergerak memasuki Ka’bah melalui celah tersebut. Setelah dia berada di dalam Ka’bah, celah itu pun secara ajaib tertutup kembali sehingga kembali normal seperti semula dan Fathimah tertinggal di dalam Ka’bah. Sebagian orang yang melihat kejadian tersebut segera menceritakan kepada orang lain apa yang dilihatnya. Orang-orang berdatangan setelah mendengar cerita mereka yang menyaksikan kejadian ajaib tersebut dan ingin melihat keajaiban tersebut. Mereka membawa kunci pintu Ka’bah dan berusaha membukanya. Anehnya lagi, pintu Ka’bah tidak jua dapat dibuka.

Nabi Muhammad Saw yang baru pulang dari sebuah perjalanan, melewati tempat kejadian, di mana banyak orang berkerumun di sekitar Ka’bah. Nabi Saw turun dari untanya dan menghampiri kerumunan orang. Beliau melihat beberapa orang berusaha membuka pintu Ka’bah tapi mengalami kegagalan. Nabi Saw meminta kunci tersebut dan mencoba membukanya. Dengan izin Allah, pintu pun dapat terbuka. Fathimah yang berada di dalam segera keluar dan membawa bayinya yang mungil yang baru saja dilahirkan.

Fathimah binti Asad menyodorkan bayinya ke Nabi, dan Nabi menggendong bayi kecil tersebut. Ketika berada di dalam gendongannya, sang bayi membuka matanya. Matanya yang jernih dan berkilat-kilat itu menatap wajah sang Nabi. Wajah Nabi Saw-lah yang pertama kali dilihatnya ketika pertama-tama dia membuka matanya. Dan bayi inilah yang kelak senantiasa membela Nabi Saw. Ibu sang bayi, Fathimah binti Asad, menamai bayinya Haydar (Singa), sementara Nabi Saw menamai bayi tersebut dengan nama ‘Ali (salah satu dari Asma al-Husna: Yang Maha Tinggi). Imam Ali bin Abi Thalib adalah satu-satunya orang yang pernah lahir di dalam Ka’bah. Di dalam syair-syairnya, Imam Ali sering menyebut dirinya dengan sebutan putra Ka’bah!”

Pihak Syiah mengklaim, tempat ibu imam Ali masuk ke dalam Ka’bah sampai saat ini masih membekas, meskipun telah berulang kali mengalami perbaikan. Bagian belahan tersebut dikenal dengan nama, mustajar. Setelah 1440 tahun berlalu, retakan pada sisi Ka’bah tersebut masih terlihat dengan jelas meskipun telah berkali-kali mengalami renovasi dan upaya perbaikan. Menurut mereka, ini menunjukkan ke Maha Kuasaan Allah SWT yang hendak menyampaikan, imam Ali as bukan manusia biasa sebagaimana umumnya melainkan Wali Allah di muka bumi sebagai washi Rasulullah saw sebagaimana yang disampaikan Nabi saw dalam banyak sabdanya. Cek di sini

Jadi bagi Syiah, prosesi dan tempat kelahiran Ali ini penting diungkapkan, bukan semata-mata fakta sejarah melainkan bukti keagungan dan kesucian luar biasa orang itu. Terlahirnya Ali bin Abi Thalib di dalam Ka’bah mengandung unsur karomah dan inayah spesial dari Tuhan untuknya. [6]

Untuk lebih meyakinkan akan kepentingan tempat dan proses kelahiran Ali sebagai dalil imamahnya, sebagian ulama Syiah, seperti telah menjadi kebiasaan buruknya, dengan sembarangan mengatakan bahwa tempat kelahiran Ali ini disepakati pula oleh ulama dan sejarawan Ahlus Sunnah. Misalnya, Syekh Amini dalam kitabnya yang terkenal, Al Ghadir, menukil riwayat yang berkenaan dengan kisah tersebut dari enam belas kitab, yang diklaimnya sebagai rujukan terpercaya di kalangan Ahlu Sunah. [7]

Padahal mayoritas pakar sejarah dan riwayat dari kalangan Ahlus Sunnah mencatat, bahwa satu-satunya anak yang lahir dalam Ka’bah yang agung adalah Hakim bin Hizam. Mus’ab az-Zubairi (w. 236 H), pakar silsilah kekerabatan suku Quraisy, menyatakan:

وَلَمْ يُولَدْ قَبْلَهُ ، وَلاَ بَعْدَهُ فِي الْكَعْبَةِ أَحَدٌ

“Tidak seorang pun dilahirkan di Ka’bah selain Hakim bin Hizam, baik sebelum maupun sesudahnya.”[8]

Sehubungan dengan itu, Imam Muslim (204-261 H) menyatakan:

وُلِدَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ فِى جَوْفِ الْكَعْبَةِ وَعَاشَ مِائَةً وَعِشْرِينَ سَنَةً

“Hakim bin Hizam dilahirkan di dalam Ka’bah dan ia hidup pada usia 120 tahun.” (Shahih Muslim, III: 1164, No. 1532)

Pernyataan senada disampaikan pula Ibnu Shalah[9] (W. 643 H), Ibnu Katsir[10] (w. 774 H), dan Imam al-Munawi[11], dengan catatan tambahan bahwa usia 120 tahun itu terbagi dalam dua fase kehidupan: 60 tahun saat jahiliyyah dan 60 tahun setelah memeluk Islam.

Karena itu, pemberitaan tentang kelahiran Ali di dalam Ka’bah telah dibantah kebenarannya oleh salah seorang pakar hadis, Ibnu Mulaqqin (w. 804 H). Ia menyatakan:

حَكِيْمُ بْنُ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وُلِدَ فِي جَوْفِ الْكَعْبَةِ ، وَلَا يُعْرَفُ أَحَدٌ وُلِدَ فِيْهَا غَيْرَهُ ، وَأَمَّا مَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ وُلِدَ فِيْهَا فَضَعِيْفٌ ، وَخَالَفَ الْحَاكِمُ فِي ذَلِكَ فَقَالَ فِي «الْمُسْتَدْركُ» فِي تَرْجَمَةِ عَلِيٍّ أَنَّ الْأَخْبَارَ تَوَاتَرَتْ بِذَلِكَ” اِنْتَهَى .

“Hakim bin Hizam dilahirkan di dalam Ka’bah, tidak diketahui ada seorang pun dilahirkan di Ka’bah selain dia. Adapun riwayat dari Ali bahwa dia dilahirkan di dalamnya maka riwayat itu lemah. Sementara al-Hakim menyalahi tentang itu dalam kitabnya al-Mustadrak pada biografi Ali bahwa kabar tentang itu berstatus mutawatir.” [12]

Penjelasan para ulama di atas menunjukkan bahwa tidak benar Ali bin Abu Thalib dilahirkan di dalam Ka’bah atau paling tidak Ka’bah sebagai tempat kelahiran Ali itu tidak dapat diyakini kebenarannya. Selain tidak benar dari segi sumber, tidak benar pula Ka’bah sebagai tempat kelahiran diyakini dapat berkhasiat terhadap kemuliaan seseorang, apalagi jadi dalil kepemimpinan Ali. Buktinya, Hakim bin Khizam yang lahir ditempat itu ternyata tidak serta merta menjadi khalifah sepeninggal Nabi saw. Di sisi lain, kita tidak pernah mendapatkan keterangan bahwa Ali dan Ahlul Bait Nabi saw. mengklaim hak kepemimpinan kaum muslim karena terlahir sebagai “anak ajaib” di dalam Ka’bah.

Atas dasar itu, tak berlebihan kiranya untuk dikatakan bahwa di balik perayaan kelahiran Ali, kaum syiah memiliki motif lain yang lebih kuat: “promosi ajaran Syiah dan eksistensi imamah Syiah.

 

[1] Lihat, Ash-Shahih min Sirah an-Nabiyy, karya Sayyid Ja’far Murtadha, IV:254

[2] Lihat, Al-Mu’jam al-Kabir, I:54, No hadis. 163.

[3] Lihat, as-Sirah an-Nabawiyah, I:262; Al-Ishabah fii Tamyiz ash-Shahabah, II:501, bab biografi Ali.

[4]Lihat, Al-Mu’jam al-Kabir, I:53, No. hadis 166

[5] Lihat, Fath al-Bari, VII:174; Al-Ishabah, II:507.

[6] Lihat, Dalaa’il as-Shidq, jilid 2, hlm. 508 – 509.

[7] Lihat, Ash-Shahih min Sirah an-Nabiyy, karya Sayyid Ja’far Murtadha, IV:255-257

[8] Lihat, Al-Mustadrak, III: 550, No. 6044

[9] Lihat, Muqaddimah Ibnu ash-Shalah fii ‘Ulum al-Hadits, hlm. 296.

[10] Lihat, Jami al-Masaanid wa as-Sunan, I:6.

[11] Lihat, Faidh al-Qadhir Syarh al-Jami’ ash-Shagir, VIII:96

[12] Lihat, Al-Badr al-Munir, VI:489.
 

Dikutip dari             : sigabah.com

Penulis                   : Amin Muchtar, Anggota Dewan Syuro ANNAS
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments