Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

KEHADIRAN MEDIA MENJADI PESAN Kegiatan ANNAS



 

Bandung. Setelah memaparkan alasan kenapa mengambil judul: Perang (Media) Melawan Syiah, dengan memberi tanda kurung pada kata “Media” dalam untaian pokok (keynote speech) mengawali pembukaan Diklat Jundullah ANNAS se Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta, pada Ahad (14/8/2016) lalu, selanjutnya pengurus Dewan Pakar Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat, Prof. Dr. Engkus Kuswarno, MS mengingatkan kepada para peserta diklat atas pemikiran ahli komunikasi Marshall Mc Luhan yang menyatakan bahwa kehadiran media sudah menjadi pesan itu sendiri.

Prof. Engkus menjelaskan bahwa Marshall Mc Luhan, adalah seorang ahli komunikasi kelahiran Kanada tahun 1911, yang menyebutkan bahwa “medium is the message”, yang bermakna bahwa kehadiran media sudah menjadi pesan itu sendiri. Mc Luhan percaya dengan tanpa melihat isi pesan, kehadiran media akan mempengaruhi kita. Media yang menciptakan hubungan simbolik dengan perasaan dan pikiran kita.

Pesan akan tercipta jika media tersebut dimanfaatkan secara maksimal, karena media membentuk pola dalam aktivitas manusia. Singkatnya, jika media dimanfaatkan secara maksimal oleh pengelolanya, maka media yang mengandung ideologi pada akhirnya akan menjadi ideologi bagi yang menerimanya.

Pengurus Dewan Pakar ANNAS ini lebih mempertegas lagi menyatakan, ketika Syiah (dan tentu ideologi lainnya, seperti Jaringan Islam Liberal yang hakikatnya sudah merusak Islam) sangat sadar media dan memanfaatkan betul keberadaan media tersebut, dengan keyakinan bahwa nanti ideologi yang mereka sajikan dan sebarkan melalui media, secara lambat atau cepat tetapi pasti akan menjadi ideologi bagi penerimanya. Celakanya, pada umumnya masyarakat kita adalah pengkonsumsi media yang cukup berat,  terutama penikmat media sosial. Bahkan keseharian kita bersama dengan media tersebut, tegasnya.

Lebih lanjut Prof. Engkus mengajak kita untuk melihat beberapa data pengguna media di antaranya, pertama, Masyarakat Internet. Jika total penduduk Indonesia tahun 2016 berjumlah 270 juta, masyarakat online Indonesia (masyarakat pengguna media online) berjumlah 93,4 juta pada tahun 2015. Dua tahun sebelumnya hanya 72,7 juta, dan meningkat 83,6 juta pada tahun 2014. Melihat angka tersebut pertumbuhan masyarakat online di Indonesia sekitar 20% pertahun.

Berdasarkan catatan APJII, tahun 2015 sampai 139 juta pengguna internet di Indonesia dan diperkirakan tahun 2018 jika penduduk Indonesia 300 juta orang, maka setengah jumlah penduduk Indonesia (150 juta orang) adalah pengguna internet. Lima kali lipat jumlah penduduk Negeri Jiran Malaysia. Jumlah ini akan menjadi pangsa pasar yang prospektif bagi Syiah yang sudah mengembangkan berbagai situs dan blog secara masif untuk menyebarluaskan ajaran mereka.

Kedua, Konsumsi Media. Media televisi masih mendominasi masyarakat Indonesia dengan porsi 43,5%. Kemudian media internet 30,4%, diikuti Radio 17,4% dan terakhir Surat Kabar hanya 8,7%. Melihat persentase tersebut, kehidupan Surat Kabar semakin mengalami kesulitan bersaing terutama untuk upaya dapat diminati kaum muda (sampai dengan usia 34 tahun). Masyarakat Indonesia mencurahkan waktu dengan internet lebih dari 3 jam sehari, atau sedikitnya seperdelapan waktu hidupnya bersama internet. Tanpa sadar, Syiah telah menempatkan sedikitnya 33 situs untuk menggempur kita di seperdelapan waktu keseharian kita.

Ketiga, Jejaring Sosial media online. Berpuluh media jejaring sosial yang ada, dengan berbagai karakteristik jumlah maupun penggunanya menjadi bagian kehidupan masyarakat online Indonesia. Dapat dikemukakan 3 media jejaring sosial yang dijadikan contoh, yaitu Facebook, Tweeter dan Instagram:

Selanjutnya, pakar komunikasi ini lebih merinci data pengguna Jejaring Sosial, di antaranya Facebook. Facebook adalah jejaring sosial secara online yang terbesar di dunia dengan pengguna berjumlah 1,4 milyar. Mark Zuckerberg mendesain beberapa fitur yang menarik di dalam Facebook ini, sehingga bukan saja hanya berupa media sosial, melainkan media transaksi bisnis, hiburan dan penyebaran ideologi.

Pengguna facebook di Indonesia adalah 80,2 juta orang dan diproyeksikan mencapai 96,2 juta orang pada tahun 2018. Indonesia merupakan negara keempat terbesar pengguna facebook di dunia, yaitu 20 juta pengguna lebih banyak dibanding dengan Negara Inggris. Jakarta adalah kota terbesar kedua setelah Bangkok sebagai pengguna Facebook dengan populasi 7,4 juta orang.

Pengguna facebook 70% usia di bawah 25 tahun (dewasa awal). Pada sisi lain, 75% pengguna facebook menggunakan perangkat mobile (phone, pad, note). Pantas saja Syiah telah menempatkan sedikitnya 13 grup facebook di Indonesia, untuk menjadi bagian pengguna keempat terbesar di dunia ini.

Twitter yang merupakan microblogging ini memiliki setengah miliar pengguna atau hampir setengah pengguna Facebook. Didirikan tahun 2006, Twitter cepat mendapat hati di kalangan netizen khususnya pengguna mobile. Sejumlah 26,4 juta orang pengguna twitter di dunia, dan Jakarta adalah kota tertinggi pengguna twitter di dunia (di atas Tokyo, London dan New York), dengan jumlah 2,4 juta orang. Setiap hari rata-rata terkirim 385 tweets yang terbagikan. Sedangkan Bandung, pada urutan ke enam di atas kota Paris.

Instagram tidak hanya sebuah jejaring sosial, Instagram juga sebagai aplikasi pengolah gambar. Saat ini miliki 100 juta pengguna. 10, 5 juta pengguna di antaranya adalah orang Indonesia.

Keempat, Video Online (seringkali dikenal dengan Youtube). Data menarik tahun 2012 lalu, ditemukan bahwa 46% pengguna internet adalah pencari video online (gambar/film bergerak). Setengah jumlah tersebut ternyata berusia 15-24 tahun. Secara kuantitatif ternyata 1 milyar pengguna khusus perbulan, 6 milyar penonton perbulan. Waktu yang digunakan rata-rata 18 menit persesi dan 900 ribu jam menonton video perhari, serta 22% di antaranya menonton melalui perangkat mobile nya. Beberapa alamat ditemukan video online yang menyajikan aktivitas kaum Syiah. Untuk menampilkan sosok yang ditujukan agar lama kelamaan merasa menjadi bagian kehidupan penontonnya.

Kelima, Digital Mobile. Bagaimana perilaku masyarakat Indonesia dalam menggunakan digital mobile? Berdasarkan hasil riset “On Device Research” (2013) diketahui bahwa Android merupakan sistem yang terpopuler digunakan (53%), kemudian OS BB (35%), Windows (9%) dan IOS Apple (4%).

Apa yang mereka gunakan? Ternyata digital mobile terutama untuk media sosial (24%), kemudian hiburan (20%), informasi umum (16%), e-mail (14%), permainan/game (12%), belanja (8%) dan pencarian lokal (6%).

Disimpulkan bahwa masyakarat Indonesia menggunakan mobile phone (telepon bergerak/genggam) pada umumnya ketika mereka merasa menyendiri. Akan tetapi mereka akan cenderung menggunakan mobile phone ketika di tempat tidur (69%), ketika sedang menunggu seseorang/sesuatu (35%), ketika sedang menonton TV (29%), ketika sedang bersama keluarga (17%), ketika sedang berkendara (14%), ketika sedang rapat/kuliah (6%), dan ketika sedang di kamar mandi (6%).

Akhirnya, setelah pemaparan data-data, lebih lanjut Prof. Engkus mempertanyakan, Bagaimana memaknai semua angka-angka itu?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tunggu tulisan berikutnya dan baca juga tulisan sebelumnya berjudul: Perang Media Melawan Syiah.
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : T. Abu Muas
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments