Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

ORANG-ORANG BESAR MEMILIKI CARA YANG INDAH UNTUK MEMINTA MAAF DAN SALING MEMAAFKAN Oase Iman


 

Kalian harus mendengar cerita indah ini. 

Suatu hari, datanglah seorang mahasiswi IKIP yang memperkenalkan dirinya sebagai putri sulung dari Pramoedya Ananta Toer, menghadap Buya Hamka. 

"Oh, anaknya Pram. Apa kabar bapakmu sekarang?" tanya Hamka ramah. 

Anak perempuan Pram tersebut mengajak laki-laki seorang keturunan Cina.

Kepada Hamka, si perempuan kemudian memperkenalkan diri. Namanya Astuti. Sedangkan yang laki-laki bernama Daniel Setiawan. 

Astuti menemani Daniel menemui Buya Hamka untuk masuk Islam, sekaligus mempelajari agama Islam. Daniel ingin menjadi seorang mualaf. 

Menurut Astuti, selama ini, Daniel adalah seorang non muslim. Ayahnya, Pramoedya, tidak setuju jika anak perempuannya yang muslimah menikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan agama.

Setelah Astuti mengutarakan maksud kedatangannya, serta bercerita latar belakang hubungannya dengan Daniel, tanpa ragu sedikit pun, Hamka meluluskan permohonan keduanya. 

Daniel Setiawan, calon menantu Pramoedya Ananta Toer, langsung dibimbing oleh Hamka membaca dua kalimat syahadat. 

Hamka lalu menganjurkan Daniel untuk berkhitan dan menjadwalkan untuk memulai belajar agama Islam dengan Hamka. Dalam pertemuan dengan putri sulung Pramoedya dan calon menantunya itu,

Hamka sama sekali tidak menyinggung bagaimana sikap Pramoedya terhadapnya, beberapa tahun sebelumnya yang pernah menuduhnya maling. Melalui lembar Lentera di Harian Bintang Timoer, Pram menuduh Hamka plagiat. 

Benar-benar seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara keduanya.

Tanpa dendam, Hamka justru memuji karya Pram, antara lain Keluarga Gerilya dan Subuh. Anak perempuan Pram itu akan menikah dan meminta bantuan Hamka untuk meng-islam-kan calon suaminya. 

Permohonan ini disambut gembira oleh Hamka. Astuti, anak Pramoedya itu, lantas tak bisa menahan ledakan tangisnya karena sikap manis dari orang yang pernah "diganyang" ayahnya.

Alasan Pram mengutus calon menantunya menemui Hamka cukup unik. 

"Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki yang seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka," ujar Pram.

Kalian boleh berkesimpulan. 

Secara tidak langsung, dengan Pramoedya mengirim calon menantunya ditemani anak perempuannya kepada Hamka, adalah bentuk permintaan maaf atas sikapnya yang telah memperlakukan Hamka selama ini. 

Hamka juga telah memaafkan Pramoedya dengan bersedia membimbing dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantunya. 

*

Tanggal 16 Juni 1970, Buya dihubungi Kafrawi, Sekjen Departemen Agama. Pagi-pagi, sekjen ini datang ke rumah Buya. Kafrawi membawa pesan dari keluarga mantan Presiden Soekarno untuk Buya. 

Pesan itu pesan terakhir dari Soekarno. Begini pesannya: 

“Bila aku mati kelak. Minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku."

Tanpa ragu, pesan yang dibawa utusan itu dilaksanakan oleh Hamka. 

Hamka tiba di Wisma Yaso bersama penjemputnya. Di wisma itu telah banvak pelayat berdatangan. Penjagaan pun sangat kuat. Shalat jenazah baru akan dimulai menunggu kehadiran Buya.

Melihat jenazah Soekarno, sahabatnya di masa muda, air matanya mengalir. Ia kecup sang Proklamator, dengan doa. Ia mohonkan ampun atas dosa-dosa sang mantan penguasa. Dosa orang yang memasukkannya ke penjara dan disiksa setiap hari.

Di hadapan jasad Soekarno, dengan takbir, ia mulai memimpin sholat jenazah. Untuk memenuhi keinginan terakhir Soekarno. 

Mungkin, ini isyarat permohonan maaf Soekarno pada Hamka. Isak tangis haru, terdengar di sekeliling.

Usai Shalat, selesai berdoa, ada yang bertanya kepada Buya. 

”Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?”

”Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik,” jelas Buya tanpa ragu.

Buya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakitinya. Bagi Buya, dendam itu termasuk dosa. 

Selama dua tahun empat bulan ia ditahan. Ia merasa semua itu anugerah dari Allah kepadanya. 

Dengan masuk penjara, ia dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz  Al Azhar yang monumental itu. Bila bukan dalam tahanan, ia tidak mungkin ada waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikannya. 

Berkat kekejian PKI dan tangan besi Soekarno kepada Buya, kalian bisa membaca tafsir Al-Azhar dengan sempurna. 

Orang-orang besar memang memiliki cara mereka sendiri untuk meminta maaf kepada mereka yang pernah dizalimi. Demikian sebaliknya yang pernah terdzalimi, mereka  punya hati seluas samudera untuk memaafkan. Apapun bentuknya, cara mereka meminta maaf sangatlah indah. (*)

----

Catatan Anab Afifi dalam bukunya *AYAT-AYAT YANG DISEMBELIH 
 

Dikutip dari             : Muslim Djamil

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments