Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

HAM DAN TOLERANSI Oase Iman


 

Pakar: Soal HAM dan Toleransi, Nonmuslim Harus Belajar Pada Ummat Islam

ANNASINDONESIA.COM - - Setidaknya lebih dari 14 abad yang lalu Ummat Islam telah diperkenalkan tentang konsep hak azasi manusia (HAM) maupun sikap toleransi khususnya dalam beragama. Rasulullah Saw melalui Piagam Madinah setidaknya menjadi bukti bahwa Ummat Islam lebih dulu mengenal, belajar serta memahami bahkan mempraktekan HAM dan toleransi.

Demikian disampaikan Anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat Dr.Abdul Chair Ramadhan,SH kepada Annas Media. Ia menambahkan bahwa munculnya  tuduhan kaum muslimin tidak menjunjung  tinggi HAM dan sikap toleransi beragama adalah bentuk pengkaburan sejarah.

“Ilmuwan dan akademisi dari barat sendiri mengakui dengan jujur bahwa Piagam Madinah adalah tonggak sejarah penegakan HAM. Ini bukti bahwa jauh sebelum ada Declaration of Human Right dan sejenisnya Ummat Islam lebih dulu mempraktekkannya tentang prinsip HAM dan sikap toleransi,”jelasnya.

Lebih lanjut Abdul Chair menjelaskan bahwa setiap orang sebagai subyek penerima hak namun sekaligus sebagai pelaksana kewajiban. Antara hak dan kewajiban, sambungnya, dua hal yang tidak bisa dipisahkan atau berdiri sendiri.

“Orang  tidak bisa hanya sekedar menuntut haknya sementara kewajibannya tidak ia laksanakan. Ingat di dalam hak yang ia dituntut ada hak orang lain yang wajib ia penuhi,”terangnya.

HAM sendiri menurut Abdul Chair tidak bersifat absolut, sebagai misal pasal 28 UUD 1945 termasuk yang di amandemen memuat  tentang  hak setiap warga Negara. Namun dibalik hak yang ia dapat, ada kewajiban yang harus ia laksanakan juga.

Sementara itu terkait dengan kehidupan beragama seseorang, ada kebebasan seseorang untuk memeluk dan menganut suatu kepercayaan atau agama. Namun demikian dalam kebebasan beragama pun tidak ada kebebasan mutlak.

“Di Islam misalnya kebebasan juga tidak absolut. Tidak ada paksaan dalam beragama dan berkeyakinan seperti yang Allah jelaskan dalam Surat Al Baqarah ayat 256, namun ketika seseorang telah memilik agama maka ia tidak lagi bisa bebas. Ia terikat dalam aturan agama dan ada hak sekaligus kewajiban yang harus ia tunaikan,”paparnya.

Terkait hal ini dalam kehidupan beragama pun ada sikap toleransi yang harus diwujudkan bersama untuk membentuk suasana harmonis dalam hidup bermasyarakat. Namun demikian,Abdul Chair menjelaskan bahwa ada batas toleransi dalam kehidupan beragama.

“Misalnya dalam masyarakat tidak boleh ada perzinahan atau perjudian karena dalam Islam sangat dilarang. Perbuatan demikian juga melanggar norma kesusilaan dalam bermasyarakat sehingga tidak boleh seseorang menuntut haknya berbuat munkar (zina,judi,mabuk, red) sementara kewajiban menjaga ketertiban dan kesusilaan tidak ia penuhi,”jelasnya.

 Sementara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Islam sangat menghargai kebhinekaan dalam suatu masyarakat yang  terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, bahkan bahkan keyakinan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 13 agar saling mengenal. Namun demikian menurut Abdul Chair kebhinekaan bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama khususnya Islam dengan budaya atau tradisi dalam masyarakat.

Islam menghargai kemajemukan namun bukan berarti budaya diatas ajaran Islam.  Islam menghargai HAM, sikap toleransi serta kebebasan beragama namun tidak boleh seseorang mengatasnamakan HAM kebebasan beragama dan budaya kemudian menistakan ajaran Islam,”pungkasnya. [ ]

 

Dikutip dari             : ANNAS Media

Penulis                   : Abu Muhammad
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments