Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

KEPADA SEMUT, KEPADA HUD-HUD, DAN ANJING YANG TURUT (2) Oase Iman


 

(Epilog)
@salimafillah

Ini juga tentang cemburu kita kepada Hud-hud.

Seribu lima ratus mil ia terbang di musim dingin itu dari Kan’an menuju Saba’ untuk menyaksikan sebuah negeri yang makmur sentausa serta dipimpin oleh seorang Maharani yang bijaksana. Dan Hud-hud si burung yang lulut, trenyuh hatinya oleh keprihatinan melihat keadaan mereka yang sayangnya belum mengenal Allah sehingga beribadah kepada sang surya.

Maka ia terbang berbalik arah seribu lima ratus mil lagi menuju tuannya, sang da’i agung, Nabi Diraja Sulaiman ‘Alaihissalaam. Dihaturkannya keprihatinan itu dengan penuh semangat.

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tiada mendapat petunjuk..” (QS An Naml [27]: 24)

Sulaiman putra Dawud yang bijaksana meminta Hud-hud membuktikan laporan ini dengan mengutusnya untuk membawa surat dakwah ke negeri Saba’. Maka burung berjambul itu terbang lagi seribu lima ratus mil ke selatan dan menjatuhkan suratnya di pangkuan sang ratu serta memastikan bahwa ia dibaca serta dibahas dengan para nayaka dan punggawa Saba’. Lalu Hud-hud yang berhasil terbang kembali menuju rajanya yang adil, hingga genaplah 6000 mil perjalanan dakwah si burung kecil.

Adakah kita seperti Hud-hud? Terbang jauh ke utara dari Nusantara dan menemukan suatu kaum yang hampir 2 milyar jumlahnya dengan sebahagian besar tak mengenal siapa penciptanya? Terbang sedikit ke lepas pantai timurnya dan menemukan sebuah negeri dengan orang-orang yang mengamalkan kebersihan sebagai bagian dari keyakinan tanpa mengetahui ada hadits “Wath thahuuru syathrul iman”, amat rajin membaca tanpa pernah mengenal ayat “Iqra’”, amat menghargai waktu meski tak mengkaji tafsir surat “Wal ‘Ashri”, dan hidup dalam tertib teratur lagi taat hukum meski tak percaya bahwa kelak ada akhirat untuk mempertanggungjawabkan diri?

Adakah kita seperti Hud-hud? Terbang ke timur melintasi samudra terbesar di dunia dan menjumpa sebuah bangsa yang adidaya, penduduknya bangga akan kemakmuran dan kemajuannya, baik hati pada dasarnya, hanya sayang ketidaktahuan khalayak sering berpadu dengan kepentingan beberapa insan kuasa yang tamak, sehingga tak ramah kepada kita yang mengimani Allah sebagai Rabb Maha Pengasih dan Muhammad sebagai Nabi terpilih? Adakah kita seperti Hud-hud; terenyuh dan dadanya gemuruh untuk segera membawakan fahaman yang menyentuh dan menjernihkan segala keruh?

Adakah kita seperti Hud-hud? Melintas lagi ke timurnya, menggapai sebuah benua tua yang pernah menumpuk-numpuk kekayaan dari segala penjuru dunia? Benua yang kini sedang diuji: Akankah nilai-nilai tentang hak asasi bagi setiap insan, persamaan yang tak membedakan asal, warna kulit, dan bahasa, juga persaudaraan kemanusiaan yang melampaui batas kebangsaan menang di hadapan ego untuk mendaku “asli”, merasa “pribumi”, serta menganggap mereka yang datang sebagai gangguan, ancaman, bahkan teror? Sedangkan arus manusia dari bentangan Maroko hingga Suriah dan Iraq hingga Bangladesh yang datang hanya mengikuti kaidah alami: ke mana sumberdaya penopang hidup mengalir, ke sana manusia bergerak.

Adakah kita seperti Hud-hud; menata keprihatinan itu kepada warga budaya Yunani-Roma sekaligus pada saudara seiman kita di tengah mereka yang gegar budaya? Adakah kita bergegas melapor kepada mereka yang punya kemampuan untuk menyampaikan Diin ini dengan memesona seperti yang dilakukan Sulaiman pada Ratu Saba’? Atau bahkan kita harus melaporkan itu kepada anak-anak kita, agar mereka bergegas setelah iman serta Quran dan hadits serta sains, belajar bahasa Inggris dan Perancis, Spanyol dan Latin, Jerman dan Rusia, Mandarin dan Jepang juga?

Ini tentang cemburu kepada Hud-hud sehingga kita berkata pada anak-anak kita, “Nak, dakwah Nusantara sudah menjadi jatah Ayahanda; di luar itu, tugasmu membentang sejauh kepulauan Jepang hingga Eropa, dari daratan Cina hingga benua Amerika.”

“Sebab”, lanjut kita pada mereka, “Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dijadikan Allah sebagai rahmat bagi semesta alam. Tapi dalam tapak-jejaknya di atas bumi beliau baru sejauh-jauh menyusuri Makkah-Madinah-Tabuk-Al Quds. Maka kitalah, kami dan kalianlah yang bertugas menjadi duta-dutanya kepada alam semesta, menjadi sarana Allah untuk menghadirkan rahmatNya bagi ummat manusia di manapun berada.”

 

Dikutip dari             : Muslim Djamil

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments