Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

PEMERINTAH JALIN KERJASAMA DENGAN IRAN, MASYARAKAT INDONESIA HARUS SIAP DENGAN Internasional


 

ANNASINDONESIA.COM - - Belum lama ini Ketua MPR RI beserta rombongan melakukan kunjungan ke Negara Syiah Iran. Berikutnya di susul dengan kunjungan kenegaraan Presiden RI Joko Widodo dan bertemu dengan pejabat Negara Iran. Dari kunjungan tersebut juga disepakati beberapa bentuk kerja sama bilateral antar kedua Negara khususnya dalam bidang ekonomi.

Menanggapi hal tersebut Pakar Hukum Tata Negara dan Pengamat Politik dari Unpar Prof.Dr.Asep Warlan Yusuf berpendapat bahwa sesungguhnya kita sudah sangat sadar bahwa Iran itu begitu masivnya menjalankan ideology syiah nya dengan menyebarkannya kepada Negara lain jadi bukan sekedar kerja sama biasa. Sebetulnya itu hak mereka namun harus diingat bahwa masyarakat Indonesia adalah Sunni sehingga akan berpotensi munculnya konflik.

Menurut Prof.Asep dengan dukungan dana yang besar juga dukungan resmi pemerintahnya, Iran akan menjadi ancaman kedamaian dan keutuhan bagi Negara yang menjalin kerja sama dengannya. Meski kerja sama yang digalang adalah bidang ekonomi, social budaya maupun pendidikan namun harus diingat bahwa dibalik itu semua ada misi menyebarkan ajaran Syiah.

“Efek atau akibat yang ditimbulkan dari hubungan bilateral dengan Iran tentu akan berdampak nyata bagi kedua Negara.  Meski kemasannya adalah hubungan ekonomi namun siapa dapat menjamin bahwa yang datang ke Indonesia adalah hanya para pelaku ekonomi saja. Bisa jadi mereka juga akan menyelipkan para ulama atau ahli  Syiah untuk menyebarkan di Indonesia. Hal ini bukan berlebihan atau mengada-ada karena ajaran Syiah ada paham imamah dan al wilayah sehingga Indonesia adalah target yang hendak di rekrutnya,”paparnya kepada ANNAS media.

Menurut Prof.Asep , selain itu dapat kita saksikan bagaimana Iran juga dalam beberapa kasus dalam negeri sebuah pemerintahan terkadang ingin campur tangan juga. Ingat pernyataan Mendagri Iran yang akan mengirimkan bantuan militer jika terjadi kerusuhan di Indonesia. Ini bukan berlebihan tetapi sudah menunjukkan bahwa ada campur tangan yang akan mereka lakukan sebagai sarana untuk masuk dalam urusan politik misalnya Negara yang hendak dijadikan target.

Prof.Asep menyebutkan dalam beberapa Negara khususnya di kawasan Timur Tengah dapat disaksikan peran Iran dalam pemerintahan yang berkuasa meski itu tidak diakui atau tidak terang-terangan. Mereka mensupport milisi-milisi terlatih untuk menjadi oposisi pemerintahan yang sah sebagai upaya adu domba. Setelah itu baru Iran menunjukkan perannya, seperti di Suriah, Irak dan juga Afghanistan.

“Modus ini sebenarnya telah terbaca sehingga tidak ada alasan pemerintah Indonesia tidak tahu sehingga keutuhan NKRI maupun kedamaian rakyat Indonesia jauh lebih penting daripada menjalin kerjasama yang berpotensi menimbulkan hura-hara di kemudian hari,” Prof.Asep mengingatkan.

Ada beberapa bentuk kewaspadaan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dampak kerja sama Indonesia Iran ini antara lain batasi betul hanya dalam bidang ekonomi saja tidak pada bidang lain seperti pendidikan apalagi militer. Meski militer mereka jauh di atas Indonesia kecanggihannya maupun modern peralatannya namun sangat berbahaya jika itu dilakukan.

Berikutnya adalah memastikan bahwa orang-orang atau tim yang terlibat dalam kerja sama tersebut benar-benar mengetahui dan paham dengan bahaya dan ancaman Syiah. Hal ini untuk memastikan bahwa kerja sama tersebut tidak menyimpang dengan memasukkan ideology Syiah di Indonesia.

“Perlu juga ada upaya dari masyarakat khususnya dari parlemen untuk turut mengontrol program-program apa saja yang mereka lakukan di Indonesia. Termasuk orang Indonesia yang akan dikirim ke Iran atau sebaliknya meski dengan dalih untuk transfer teknologi atau ipteknya,”imbuhnya.

Meski ulama, sambungnya, tidak terlibat dalam proses monitoring kerja sama namun sebaiknya peran ulama di Indonesia harus diajak meski tidak formal. Hal ini tentu mengetahui dan memastikan bahwa orang-orang Iran yang ada di Indonesia tidak melakukan penyebaran agama atau ajaran Syiah di tanah air. Sebab ulama-ulama Sunni adalah pihak yang paling mengerti akan bahaya dan ancama Syiah bagi keberlangsungan dan keutuhan NKRI.

Fenomena kerja sama dengan China bisa jadi model yang hampir sama. Meski awalnya kerja sama bidang ekonomi namun merembet menjadi masalah social karena banyaknya tenaga kerja asal China yang terlibat dalam pengerjaan proyek-proyeknya. China ancaman dengan ideology komunisnya sementara Iran dengan ideology Syiahnya. Ini model yang pararel yang perlu dicermati dan diwaspadai bersama,”paparnya.

Prof.Asep Warlan kembali mengingat kasus yang menimpa pemerintah Suriah saat ini dengan campur tangan Iran di Aleppo bisa menjadi pelajaran nyata. Dalam memahami persoalan Suriah khususnya tragedy kemanusiaan di Aleppo alangkah bijaknya tidak sekedar dilihat dari aspek politik akan tetapi juga aspek ideology dan paham mendasar antara Sunni dan Syiah sehingga memicu konflik yang berlarut. [ ]

 

Dikutip dari             : ANNAS Media

Penulis                   : Abu Muhammad
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments