Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

MERAGUKAN FATWA MUI DAHULU, YAKIN KEMUDIAN Oase Iman



 

Kiriman dr sahabat 

Yang masih anggap enteng, remeh lembaga MUI, tak kenal maka tak sayang...

MERAGUKAN FATWA MUI DAHULU, YAKIN KEMUDIAN

Denai Chaniago

Membaca tulisan Tere Liye yang menceritakan perjalanan sejarah persepsinya thd fatwa2 MUI, saya pun nyinyir. Upaya glorifikasi ia lakukan. Dia menceritakan, awalnya dia selalu nyinyir thadap fatwa2 yang ditetapkan oleh MUI. Saat MUI memfatwakan ttg masalah keagamaan, ttg aliran keagamaan seperti Ahmadiyah, al-Qiyadah, dst, kritikan ke MUI "ngapain MUI urusin keyakinan orang, fatwa korupsi jauh lbih penting". 
Saat MUI menetapkan fatwa ttg hukuman mati bagi tindak pidana tertentu seperti korupsi dan narkoba, datang kritikan ke MUI "ngapain keluarkan fatwa, itu urusan penegakan hukum". Opini kenyinyiran thd MUI yg dibentuk media mempengaruhi saya dlm membangun persepsi saya ttg MUI n Fatwa2nya. 

Singkat kata, MUI itu bentukan pemerintah, orang2 oportunis, pragmatis, dan tidak kompeten. Saat saya baca tulisan Tere Liye, yang cerita, pd awalnya nyinyir pd fatwa MUI hingga ada suatu peristiwa yg bersifat reflektif, krn ditegur temannya sembari mengingatkan 
"Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yang tidak pernah belajar agama sendiri", demikian tulis Tere mengutip temannya. 

Cerita berikutnya penuh semangat, kenyinyiran tsb berasal dr sentimen diri n kebodohan kita.... Cerita itu, dlm benak saya, penuh glorifikasi, dan semakin membuat saya nyinyir. Tidak ngefek. Itu awalnya.... 

Hingga kemudian saya tergerak u mengetahui kebih jauh, siapa2 manusia di balik fatwa MUI itu. Siapa the man behind the gun yang berperan dalam penetapan fatwa. 

Saya pun hunting untuk lakukan penelitian khusus. Dalam beberpa hari saya riset khusus lewat browsing, cari buku2 fatwa MUI, datang ke kantor MUI, mmpelajari pedoman penetapan fatwa, dan bertanya kanan kiri. Akhirnya, saya menemukan data, yang kemudian menggoyahkan "iman" saya, iman akan kenyinyiran thd fatwa dan orang2 yang terlibat di dalamnya. 

Siapa Anggota Komisi Fatwa Dalam daftar kepengurusan MUI Periode 2015-2020 yang ada dalam dokumen MUI, hasil Munas di Surabaya, komisi fatwa ada di urutan pertama.   

Anggota Komisi Fatwa MUI berjumlah 67 orang, terdiri dari 12 orang Guru Besar, 32 doktor di berbagai bidang hukum dan keIslaman, serta pimpinan lembaga fatwa ormas Islam, pimpinan pondok pesantren, pimpinan perguruan tinggi Islam, serta ahli hukum dan bidang2 terkait

Di level pimpinan, latar belakang akademik pimpinan Komisi Fatwa menunjukkan kompetensi yang membuat kita semakin tak berani untuk meragukannya. 

Ketua Komisi Fatwa, Professor Doktor Hasanudin Abdul Fattah adalah Guru Besar bidang ushul fiqih, filsafat hukum Islam asal Banten. Pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, juga Dosen Pascasarjana. 

Sekretarisnya, Doktor Asrorun Ni'am Sholeh Lc, MA, doktor di bidang Ushul Fiqh. Ulama muda dengan beragama prestasi, mengenyam pendidikan di berbagai pesantren, pernah belajar langsung kepada Syaikhul Azhar Prof. Dr. Ahmad al-Tayyib. Ia jg pernah belajar di National University of Singapore (NUS) dan John Hopkins University Baltimore USA. Untuk semangat kebangsaan, tak diragukan lagi, ia Alumni Pendidikan kepemimpinan nasional paling prestisius, PPSA XX Lemhannas RI, termuda di angkatannya. Di jajaran Wakil Ketua, ada Kyai Malik Madany, Ulama ahli fikoh senior, Mantan Katib Am Syuriyah PBNU, Dosen dan mantan Dekan Fak Syariah UIN Yogyakarta. 

Ada Prof. Dr. Fathurrahman Djamil, guru besar bidang Ushul Fikih yang merupakan tokoh Muhammadiyah. Ada Prof. Dr. Muhammad Amin Suma, guru besar hukum Islam yang juga sarjana dan master hukum. 

Ada juga Wakil Ketua LBM PBNU. Di Wakil Sekretaris, ada Guru Besar bidang hukum Islam dan ahli hukum ekonomi Syariah, Guru Besar UIN Bandung, yang pernah menjabat sebagai Ahli di Mahkamah Agung. 

Ada juga Wakil Ketua LBM PBNU dan pimpinan Pesantren Darurrahman Jakarta. 

Ada Ahli Astronomi dari Pimpinan Muhammadiyah, ada juga dari PB al-Washliyah. Latar belakang keilmuan serta akademik anggota Komisi Fatwa juga sangat beragam. 

Ada Ahli tafsir, mantan Rektor Institut Ilmu Al-Quran, Dr. KH. Ahsin Muhammad. Ada guru besar hukum Islam Universitas Indonesia, Prof. Dr. Uswatun Hasanah.

Ada Direktur Pascasarjana IIQ Dr. KH. Munif Suratmaputra, MA. Ada Guru Besar bidang linguistik, bidang hukum, bidang hadis, bidang fikih, bidang tafsir, bidang filsafat hukum Islam. 

Ada juga peneliti hukum, ada juga hakim serta ahli hukum dari Mahkamah Agung, serta dari Kementerian Hukum dan HAM. 

Ada juga Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah Prof. Dr. Syamsul Anwar, Pimpinan Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Pimpinan Lembaga Fatwa PB al-Washliyah, PUI, DDI, Persis, al-Irsyad, Rabithah Alawiyyah, dan berbagai ormas Islam lainnya. 

Ada juga pimpinan Fakultas Syari'ah dan Hukum Perguruan Tinggi Islam terkemuka, seperti UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung, IAIN Banten, PTIQ, IIQ, Uniersitas Asy-Syafiiyyah, Universitas Indonesia, serta pimpinan dan alumni pondok pesantren terkemuka seperti Lirboyo, Ploso, Kajen, Tebuireng, Gontor, Padangpanjang, al-Khoirot, Buntet, Cipasung, Sarang, Langitan, Krapyak, Tambakberas, Garut, dan sebagainya .

Melihat latar belakang keilmuan orang2 yang berada di balik Komisi Fatwa MUI, maka saya menyerah. Tiada daya dan argumen lagi untuk meragukan kredibilitas dan kompetensi mereka dalam menetapkan fatwa dan karenanya saya tidak kuasa untuk mendegradasi fatwa2 yang dihasilkan. Tidak ada pilihan kecuali untuk menerimanya sbg panduan dan tuntunan bagi saya. sami'na wa atha'na.... 

Bagaimana dengan anda?

 

Dikutip dari             : Ahmad Qonit

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments