Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

TAQIYYAH ALA BUNG HAIDAR (bag. 2) Editorial

 

Kalau begitu, dimana letak perbedaan konsep taqiyyah ala Syiah dengan taqiyyah yang dijelaskan al-Qur’an?

Orang-orang Arab biasa mengungkapkan kata taqiyyah dengan kalimat “tuqah”. Dalam al-Qur’an disebutkan:

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِير

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS. Al-‘Imran [3]: 28)

Al-Qur’an membenarkan seseorang mengucapkan kata-kata kufur, jika terancam jiwa, badan atau harta bendanya. Dalam al-Qur’an dijelaskan:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An-Nahl [16]: 106)

Dalam berbagai kitab tafsir dijelaskan, bahwa ayat ini turun menyangkut kasus sahabat Nabi saw., bernama ‘Ammar bin Yasir Ra., yang mengucapkan kalimat kufur karena dipaksa oleh kaum musyrik untuk mengucapkannya, dan jika enggan akan dibunuh, sebagaimana mereka telah membunuh kedua orang tuanya. Akibat desakan tersebut, Ammar mengucapkan kalimat kufur, dan ketika ia menyampaikan halnya kepada Rasulullah saw., maka turunlah ayat di atas yang membenarkan sikapnya, dan Rasulullah saw. berpesan kepadanya: “Kalau mereka kembali mengancammu, maka engkau boleh mengucapkan lagi kalimat kufur, selama hatimu tetap tenang dalam keimanan.”[1]

Secara tersurat, ayat ini merupakan dalil bagi bolehnya mengucapkan kalimat-kalimat kufur atau perbuatan yang mengandung makna kekufuran, saat seorang muslim berada dalam keadaan terpaksa, walaupun menurut mayoritas ulama, menyatakan dengan tegas keyakinan justru lebih baik, sebagaimana dilakukan oleh kedua orang tua Ammar.[2]

Dari sini, para ulama memahami, bahwa taqiyyah merupakan sebuah rukhshah (dispensasi Syariat) yang dapat diterapkan hanya dalam keadaan terdesak (idhtirar). Karena itu, dalam ayat ke-28 surat Ali Imran di atas, taqiyyah dijadikan sebagai pengecualian dari larangan menjadikan orang mukmin sebagai wali: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin... kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.”

Bahkan, status taqiyyah sebagai rukhshah yang hanya bisa diterapkan dalam keadaan terdesak ketika menghadapi orang kafir ini sudah merupakan kesepakatan ulama (ijma’). Dalam hal ini, Ibnu al-Mundzir berkata:

أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ مَنْ أُكْرِهَ عَلَى الكُفْرِ حَتَّى خَشِيَ عَلَى نَفْسِهِ الْقَتْلَ فَكَفَرَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌ بِالإِيْمَانِ أَنَّهُ لَا يُحْكَمُ عَلَيْهِ بِالْكُفْرِ.

“Para ulama bersepakat bahwa orang yang dipaksa menjadi kafir dengan pemaksaan hingga pada taraf yang membahayakan dirinya dengan dibunuh, lalu ia menyatakan kekafiran, namun hatinya tetap tenang dalam keimanan, maka orang tersebut tidak dihukumi kafir.”[3]

Kendati diperbolehkan menggunakan konsep taqiyyah dalam keadaan terdesak, akan tetapi kesepakatan para ulama selanjutnya adalah lebih mengutamakan orang yang tidak menggunakan taqiyyah. Mengenai hal ini, Ibnu Bathal menegaskan:

وَ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ مَنْ أُكْرِهَ عَلَى الكُفْرِ وَاخْتَارَ الْقَتْلَ أَنَّهُ أَعْظَمُ أَجْرًا عِنْدَ اللهِ.

“Para ulama bersepakat bahwa orang yang dipaksa untuk kafir, namun ia lebih memilih dibunuh, maka ia akan mendapatkan pahala yang lebih besar di sisi Allah Swt.”[4]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa taqiyyah hanya dapat diterapkan dalam menghadapi orang kafir dan dalam keadaan terpaksa. Islam sebagai agama dakwah, tidak mematok taqiyyah sebagai konsep yang permanen. Taqiyyah juga tidak diterapkann secara umum dan menyeluruh untuk semua umat Islam. Akan tetapi tertentu pada individu-individu yang lemah dan hanya dalam tempo yang diperlukan beserta ada unsur keterpaksaan. Nah, apabila faktor-faktor tersebut sudah tak ditemukan, maka keleluasaan untuk menerapkan konsep taqiyyah sudah tidak diberikan lagi.[5]

Maka dari itu, para ulama salaf berkesimpulan bahwa taqiyyah tidak bisa di pakai lagi setelah Allah Swt. menjayakan agama Islam. Sahabat Muadz bin Jabal dan Imam Mujahid berkata: “Taqiyyah diterapkan dalam Islam sebelum orang-orang Islam kuat dan jaya, sedangkan pada masa sekarang taqiyyah sudah tidak difungsikan lagi, sebab Islam sudah jaya dan orang-orang Islam sudah kuat.”[6]

Penjelasan mengenai pengertian, latar belakang, maksud dan tujuan serta ruang-lingkup penggunaan taqiyyah dalam konsep Islam, seperti dikemukakan di atas, tentu saja sangat kontras dengan taqiyyah ala Syiah, baik mengenai pengertian, latar belakang, maksud dan tujuan serta ruang-lingkup penggunaannya.

Dengan begitu, mengajukan kasus Ammar bin Yasir untuk mengclearkan taqiyyah ala Syiah tentu tidak relevan secara akidah dan ilmiah, namun bisa jadi sah-sah saja bagi orang yang sedang memberi “jawaban taqiyah”. Bukankah bagi orang bertaqiyyah, segala sesuatu itu menjadi serba mungkin?

By Amin Muchtar, Anggota Dewan Syuro ANNAS

 


[1] Lihat, Tafsir ath-Thabari, Juz 17, hlm. 304; Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4, hlm. 605; dan Sayyid Quthb, Tafsir fi Zhilal al-Qur’an, Juz 4, hlm. 492.

[2] Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 12, hlm. 314.

[3] Lihat, Fath, al-Bari, Juz 12, hlm. 314.

[4] Ibid., hlm. 317.

[5] Lihat, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, Juz 2, hlm. 980-981.

[6] Ibid., hlm. 978. Bandingkan dengan penjelasan Al-Qurthubi dalam Tafsir al-Qurthubi, Juz 4, hlm. 57 dan Asy-Syaukani dalam Fath al-Qadir, Juz 1, hlm. 331.

 

Dikutip dari            : -

Penulis                   : Amin Muchtar, Anggota Dewan Syuro ANNAS​

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments