Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

APAKAH MEMPROMOSIKAN ISLAM IDEOLOGI, MENJADI RACUN BAGI MEDIA? Oase Iman


 

Racun secara harfiah adalah zat atau senyawa yang dapat masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang dapat menghambat respon pada sistem biologis sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Racun akhirnya dianggap tidak bermanfaat bahkan merusak tubuh. Di antaranya menyebabkan luka, rasa sakit, daya tahan tubuh melemah, lemas menderita hingga menghantarkan pada kematian. Sehingga wajar banyak orang berusaha menjauhi, menghindari bahkan mencegah masuknya racun ke dalam tubuhnya. 

Jika kita pinjam istilah racun dalam dunia otak, akan keluar sebutan "racun pikiran". Racun pikiran menyebabkan seseorang berperilaku negatif, pendendam, kesal, selalu melihat dari sisi buruk, tidak damai dan tenang. Maka orang-orang pun akan berusaha sekuat tenaga agar tidak masuk racun pikiran ke dalam benaknya. Jika sudah masuk maka akan dilakukan detoksifikasi.

Lalu apakah bisa terjadi, keliru menganggap suatu obat sebagai racun? Bisa saja, ketika seseorang mempersepsikan bahwa yang sejatinya obat tapi dianggap tidak bermanfaat atau bahkan merusak tubuhnya. Alasannya, apakah memang karena ketidaksukaan, ketidaktahuan karena belum dapat pengetahuannya, malas mencari ilmunya atau karena memang tidak mau tahu.

Yang meyakini Islam sebagai sebuah obat berbagai problem kehidupan, sebuah konsep pelipur lara di dunia dan akhirat juga sebagai sebuah tatanan yang menyehatkan masyarakat tidak akan ragu meneguk setiap tata aturan (Syariat)nya. Namun, pada kenyataannya, ternyata tidak semua mensikapi seperti ini. Terutama ketika masuk dalam pembahasan Islam ideologi. Islam yang paripurna menyeluruh. Islam yang diamalkan dalam mengatur tata aturan publik termasuk pemerintahan dan kekuasaan.

Lalu apakah media massa sebagai bagian dari komponen berpengaruh dalam masyarakat terlibat Islamophobia menganggap Islam ideologi sebagai racun? Hingga dipelintir dan diberi angle tertentu, yang akhirnya masyarakat melihat frame Islam yang tidak lagi hakiki?

Jika media massa, baik itu mainstream atau yang bukan, berupaya menyembunyikan, menutupi, memecah belah, mengkotak-kotak, memelintir dan tidak mengetengahkan wajah Islam yang sebenarnya hingga membuat hoax dalam berbagai bentuk, maka media seperti ini, tak diragukan lagi masuk kategori yang menjadikan Islam ideologi sebagai racun. Menganggap jika mengusung Islam ideologi maka akan mengancam ideologi kapitalisme dan konglomerasi media.

Dr. Belinda F. Espiritu menyampaikan,"There is a current obsession in mainstream media and academic discourse pertaining to Islam and the West. This current obsession is tinged with negative signifiers with the global media’s predominantly negative portrayal of Islam and Muslims, depicting Muslims generally as violent, fanatical, bigoted, or as extremists and terrorists" (Ada obsesi saat ini di media mainstream dan wacana akademik yang berkaitan dengan Islam dan Barat. Obsesi saat ini diwarnai dengan penanda negatif dengan media global didominasi penggambaran negatif tentang Islam dan Muslim, yang menggambarkan Islam umumnya sebagai kekerasan, fanatik, atau sebagai ekstrimis dan teroris.) (www.globalresearch.ca). Sairra Patel pun dalam artikelnya "Young Women Speak : A Message to the Media" berpesan agar media tidak hanya menampilkan dua stereotip Muslim. Stereotip yang pertama adalah Muslim yang selalu memuji karakter yang konformis Barat, benar-benar mengadopsi nilai-nilai dan budaya Barat, masih ada tanda-tanda identitas agama atau etnis mereka, dan harus ada isu latar belakang budaya. Stereotip yang kedua adalah yang fanatik, dan identik dengan agama kekerasan. (http://www.themodernreligion.com/)        
                                                         
Yang dianggap fanatik ini adalah yang mengkritik neo-imperialisme, kapitalisme global, kebijakan dan kekuasaan zhalim. Disebut sebagai pemecah bangsa dan mengancam ketahanan nasional. Pada akhirnya, masyarakat terbelah dan saling tuding hingga pada level kekerasan. 

Padahal, ada gambaran Muslim sejati yang menampilkan wajah Islam sebenarnya. Menciptakan perdamaian namun tetap memberi sanksi yang tegas dan adil bagi para perusuh dan perusak. Tata aturan ibadah individu diserahkan pada masing-masing penganut. Namun Islam secara utuh pun memiliki tata aturan publik yang mengayomi dan mensejahterakan semua pihak. Jika rela diatur dengan Islam dalam pemerintahan, maka keadilan yang sudah tersistem adalah jaminan. 

Fakta sekilas ini menjadi pembelajaran bagi media untuk menjadikan Islam ideologi sebagai obat dan disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak melakukan detoksifikasi karena menganggapnya sebagai racun, lalu menjadi pendengki dan pendendam. Tidak perlu takut terancam konglomerasi media dan status quonya. Karena Islam menawarkan yang jauh lebih baik. Pemirsa dan penyimak media pun harus menjadi smart citizen untuk memilah framing dan angle news yang tepat dan tidak. Bahkan, akan lebih tepat jika menjadi opinion maker atau pembuat berita dengan mencerdaskan masyarakat mengenai "The Truth of Islam" atau Islam yang sebenarnya. 

Wallahu a’laam bisshawwaab.
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Rikeu Indah Mardiani, A.Md.
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments