Quotes

  • SABAR memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah

  • Bersabar itu atas MUSIBAH, bukan atas KEDZALIMAN

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • IKHLAS adalah memilih jalan-Nya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain

NEO-GHAZWUL FIKRI Oase Iman



Dokumen RAND Corporation menganjurkan sangat rinci langkah-langkah agar antara satu kelompok Muslim dengan kelompok yang lain tidak pernah bersatu, saling curiga, saling menghina dan saling menghujat.
 

TIBA-TIBA saja kita berhadapan dengan berbagai jenis ‘Muslimin’ yang sangat jauh dari yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan para Sahabatnya. Muslimin yang hati, lisan dan tindakannya jauh dari Al-Quran dan As-Sunnah, namun sangat yakin dirinya Muslim. Bahkan tidak jarang jenis ini berteriak lebih lantang dan bertindak lebih garang daripada mereka yang bermujahadah untuk setia kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Teriakan lantang dan tindakan garang inilah yang memancing jidal bahkan perpecahan. Semua seperti berjalan alamiah. Tidak. Tidak alamiah dan tidak tiba-tiba.

Inilah panen Neo-Ghazwul Fikri, Perang Pemikiran Jenis Baru. Sebuah kelanjutan dari usaha sistematis menjauhkan kaum Muslimin dan umat manusia dari Islam dan dilakukan secara besar-besaran.

Sasarannya lebih spesifik: individu atau komunitas Muslim tertentu yang diriset secara sungguh-sungguh, dikategorikan secara hati-hati, diperlakukan dengan tindakan-tindakan yang terukur, dalam dosis waktu yang lama, yang akhirnya menghasilkan cara berfikir individual dan komunal yang lantang dan garang menyuarakan Islam, tapi jauh dari aqidah dan akhlaq Islam. Atau tetap mengaku Muslim tapi menentang apapun yang datangnya dari Islam.

Dua puluh atau tiga puluh tahun yang silam, istilah Ghazwul Fikri masih kita fahami secara umum: Media massa yang menjauhkan umat manusia dari Islam, bahkan memusuhi Islam. Jenis ini masih berlangsung sampai sekarang.

Neo-Ghazwul Fikri lebih tajam sasarannya: individu tertentu, komunitas tertentu.

Contoh yang paling sempurna bernama Mus’ab Hassan Yousef, putra tokoh Hamas (Gerakan Perlawanan Islam Palestina) di Tepi Barat yang ditangkap penjajah Zionis Israel ketika berusia 19 tahun. Mus’ab di penjara selama 16 bulan.

Sekeluarnya ia dari penjara –tanpa diketahui siapapun kecuali agen Shin Bet (dinas rahasia Zionis) yang merekrutnya– Mus’ab bekerja untuk agen rahasia itu untuk kepentingan penjajah Zionis.

Dalam waktu 16 bulan di penjara Zionis, isi fikiran, hati, lisan dan tindakan Mus’ab berubah dramatis. Hal-hal berikut ini adalah keyakinannya yang baru:

  • “Islam agama teroris”
  • “Tuhannya orang Islam mengajarkan terorisme”
  • “Nabinya orang Islam melakukan terorisme”
  • “Al-Quran memerintahkan terorisme”
  • “Hamas penjahat brutal”
  • “Israel melakukan kejahatan tapi dengan tata tertib dan beradab”

Semua keyakinan barunya ini masih tersimpan secara rahasia selama sepuluh tahun sesudahnya, mulai tahun 1997 sampai 2007. Yaitu ketika Mus’ab secara aktif bekerja sebagai agen rahasia Shin Bet sambil tetap hidup serumah, makan bersama, dan bercengkerama keluarga kandungnya, termasuk ibu dan ayahnya, Hassan Yousef di Ramallah, Tepi Barat, hanya 10 kilometer dari Masjidil Aqsha.

Selama sepuluh tahun itu, tak terhitung tokoh perjuangan Palestina disekap dan disiksa oleh Zionis Israel, sebagai hasil kerja Mus’ab. Banyak operasi jihad yang digagalkan. Diantara tokoh yang dipenjara akibat lisan Mus’ab ialah Abdullah Barghouti, seorang komandan Brigade Asy-Syahid ‘Izzuddin Al-Qassam, yang divonis pengadilan penjajah Zionis dengan penjara selama 6.633 tahun.

Sambil terus bekerja sebagai pengkhianat Islam dan Masjidil Aqsha, Allah semakin jauhkan Mus’ab dari Islam sampai ia memutuskan murtad dan memeluk Kristen. Tahun 2005 secara rahasia Mus’ab dibaptis di Tel Aviv. Dua tahun kemudian, ia meninggalkan Palestina pindah ke San Diego, California.

Dalam proses mendapatkan kewarganegaraan Amerika Serikat itulah, Mus’ab muncul secara terbuka menunjukkan jatidiri aslinya sebagai kafir, tahun 2008. Hakim pengadilan California memanggil agen Shin Bet yang merekrutnya di Palestina, untuk bersaksi bahwa Mus’ab yang berganti nama menjadi Joseph benar-benar “orang kita” (24 Juni 2010).

Agen Shin Bet itu bernama Gonen Ben-Itzhak, yang selama sepuluh tahun menjadi mentor Mus’ab yang waktu itu diberi nama sandi ‘Lu’ai’. Ben-Itzhak menjelaskan kepada pengadilan bahwa Joseph adalah “teman sejati” yang telah “bertaruh nyawa setiap hari untuk mencegah terjadinya kekerasan”. Tak lama kemudian Joseph resmi jadi warganegara Amerika Serikat.

Tak lama kemudian, Joseph alias Mus’ab jadi bintang film. Ya, bintang film layar lebar. Filmnya berjudul “Green Prince” (Pangeran Hijau) bercerita tentang kisah hidupnya dipromosikan besar-besaran di berbagai festival film. Begitulah istidraj, Allah ‘memanjakan’ seorang yang kafir agar semakin jauh tersesatnya.

Komunitas

Sekarang, bayangkan kalau resep yang telah digunakan oleh Shin Bet atas individu bernama Mus’ab Hassan Yousef, diaplikasikan kepada komunitas tertentu yang memiliki psiko-sosiologi tertentu. Maka kita akan menyaksikan pemimpin-pemimpin organisasi Islam dan sebagian massanya berpikiran, berkata-kata, bersikap dan bertindak sangat aneh karena jauh dari aqidah dan akhlaq Islam yang sebenarnya.

Dan ini bukan sekedar bayangan. Sudah terjadi. Selama 40 tahun terakhir, lewat berbagai fasilitas beasiswa besar-besaran bagi remaja dan pemuda Muslimin untuk sekolah dan belajar Islam kepada para Orientalis Yahudi dan Kristen di negara-negara barat, kini hadirlah para sarjana, master dan doktor yang fikiran, kata-kata, dan tindakannya justru melemahkan aqidah umat Islam.

Diantara fikiran dan kata-kata itu:

  • Islam bukan satu-satunya sumber kebenaran
  • Al-Quran bukan wahyu Tuhan tapi kata-kata manusia
  • Muhammad bukan manusia suci dan sempurna
  • Sahabat-sahabat Muhammad manusia biasa yang punya ambisi pribadi dan politik
  • Sunnah adalah tradisi Arab, tidak cocok untuk semua manusia
  • Syariah adalah hukum yang hanya cocok untuk masyarakat Arab 1400 tahun lalu

Dan banyak lagi. Ketika fikiran dan kalimat-kalimat seperti ini muncul sebagai keyakinan seorang yang mengakui Muslim, tak perlu ragu, ia atau mereka telah jadi korban Neo-Ghazwul Fikri.

Bila umat Islam sudah dikacaukan dan dibingungkan oleh fikiran-fikiran yang seperti di atas, maka resep berikutnya lebih bersifat sosial-politik. Seperti yang diluncurkan oleh RAND Corporation, sebuah lembaga riset teknologi senjata yang berubah jadi lembaga riset pemikiran. Tahun 2003, RAND menyiarkan sebuah dokumen berjudul “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies”. 

Dokumen ini berisi tuntunan praktis bagi seluruh elemen peradaban Barat untuk memecah belah, mengadu domba serta memelihara kelemahan-kelemahan umat Islam. Seperti dulu Clifford Geertz memecah belah umat Islam Indonesia menjadi “Islam Santri” dan “Islam Abangan”. RAND Corporation membagi umat Islam menjadi empat kelompok:

– Fundamentalis: kelompok masyarakat Islam yang menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat Kontemporer, serta menginginkan formalisasi penerapan Syariat Islam;

– Tradisionalis: kelompok masyarakat Islam Konservatif yang mencurigai modernitas, inovasi dan perubahan. Mereka berpegang kepada substansi ajaran Islam tanpa peduli kepada formalisasinya;

– Modernis: kelompok masyarakat Islam Modern yang ingin reformasi Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga bisa menjadi bagian dari modernitas;

– Sekularis: kelompok masyarakat Islam Sekuler yang ingin menjadikan Islam sebagai urusan pribadi dan dipisah sama sekali dari urusan negara.

Dokumen RAND Corporation menganjurkan secara rinci apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan agar antara satu kelompok Muslim dengan kelompok yang lain tidak pernah bersatu, saling curiga, saling memicingkan mata, saling menjauh, saling menghina, saling menghujat.

Siapapun tokoh Islam atau pribadi Muslim yang menggunakan keempat istilah di atas ini untuk menjelaskan umat Islam, berarti dia telah terjebak dalam adu domba yang didesain oleh RAND Corporation atau lembaga sejenisnya.

Tak heran, kalau hari-hari ini kita menghadapi kenyataan, betapa susahnya silaturrahim dan sambungan hati apalagi tindakan dipersatukan di kalangan umat Islam. Seruan Al-Quran untuk berpegang kepada tali Allah dan jangan sampai berpecah belah seperti menghadapi tembok raksasa yang seakan mustahil dijebol. Karena ternyata, benih-benih perpecahan itu telah disemai bertahun-tahun yang lalu, dan ada yang memelihara kesuburannya.

Jangan sampai ini kita biarkan menjadi warisan bagi anak keturunan kita. Berhentilah. Bersihkan hati kita masing-masing. Bertaubatlah. Lalu bersilaturrahim lah. Buka pintu kita selebar mungkin untuk Saudara-saudara Muslim kita. Berlombalah lebih dahulu mengucap salam, memberikan senyum, menjabat tangan. Semoga Allah kokohkan kekuatan kita.

Waspada

Menurut Dr. Adian Husaini, ada tiga ancaman penyakit terhadap aqidah Islam di zaman kita ini, yang berpotensi memporak-porandakan kesatuan umat: 1) Pemurtadan lewat Kristenisasi dan Yahudisasi; 2) Gerakan SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme); 3) Aliran-aliran sesat yang tampil mirip Islam tapi sebenarnya mengandung ajaran-ajaran yang merusak aqidah (Syiah, Gafatar, Bahaisme dll.).

Namun ketiga ancaman penyakit ini akan menjadi semakin mudah penyebarannya di tubuh umat Islam apabila telah berjangkit satu penyakit saja pada diri seorang Muslim, sebuah keluarga Muslim atau di sebuah masyarakat Muslim: penyakit Al-Wahn. 

Di saat Al-Wahn telah berjangkit, seseorang akan sangat mudah untuk murtad, sangat mudah menjadi sekularis, pluralis dan liberalis. Bahkan sangat mudah untuk menganut berbagai aliran sesat.

Penyakit ini telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam bahayanya. Al-Wahn adalah “cinta dunia dan benci mati”. Berarti dalam keadaan sehat, seyogianya seorang Muslim “cinta mati, karena rindunya bertemu Allah, dan benci dunia, karena semua kehinaannya”.

Seorang Muslim akan mencintai semua yang ada di dunia hanya semata-mata hal yang dicintai Allah dan Rasul-Nya saja. Sedangkan kerinduannya untuk mendapatkan janji-janji Allah di Akhirat mengalahkan seluruh kecintaannya pada dunia dan segala isinya. Pada saat itulah ia, keluarganya, dan komunitasnya tak akan bisa dibeli dengan harga apapun, kecuali jaminan Syurga dari Allah.*

Penulis adalah wartawan Hidayatullah
 

Dikutip dari             : hidayatullah.com

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments