Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

JAWABAN ATAS FITNAH DINA SULAEMAN TERKAIT SERANGAN GAS KIMIA DI IDLIB Internasional


 

Pembantaian besar-besaran yang baru-baru ini dilakukan oleh pasukan rezim Assad di Khan Sheykhun, Idlib menorehkan duka mendalam di hati kaum muslimin. Pada Selasa (4/4/2017) lalu, Khan Sheykhun menjadi target serangan 4 buah roket yang dijatuhkan dari jet Sukhoi-22 milik pasukan rezim Assad. Roket-roket tersebut berisi senyawa kimia berbahaya yang ‘sukses’ merenggut nyawa banyak orang. Baca juga: Rusia Benarkan Jet Suriah di Balik Serangan di Khan Sheikhoun, Idlib

The Union of Medical Care Organizations, sebuah koalisi internasional badan penyelamat yang membiayai banyak rumah sakit di Suriah, menyatakan bahwa jumlah korban tewas sedikitnya mencapai 100 orang dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

“Kami dilingkupi gas. Kami tidak bisa berdiri. Saya merasa pusing dan mual. Saya merasa sulit bernafas”, ujar salah seorang korban.

Seluruh dunia digemparkan oleh serangan gas kimia yang dilakukan oleh pasukan rezim Assad. Merasa tak mau ketinggalan, aktivis Syi’ah, Dina Sulaeman, ikut angkat bicara. Tidak seperti yang lain, dengan sangat percaya diri, ia memaparkan sejumlah hal yang menurutnya “janggal”. Ada beberapa faktor yang ia persoalkan dalam serangan bom kimia Idlib, di antaranya adalah:

1. White Helmets

Dalam tulisan yang diterbitkannya, baik di Fanspage maupun di blog pribadinya, lagi-lagi Dina mengarahkan tudinganya kepada regu penyelamat White Helmets, yang berhasil memenangkan Piala Oscar pada Februari lalu dalam kategori film dokumenter terbaik, atas aksi penyelamatan yang mereka lakukan di Suriah.


Relawan white helmet.

Bermodalkan foto yang menunjukkan aksi para pahlawan berhelm putih itu saat sedang menyelamatkan korban, Dina mempertanyakan kebenaran tragedi itu. “Silahkan google, efek gas sarin seperti apa dan hanya orang gila yang mau berada di kawasan yang ada gas sarinnya tanpa pengaman sama sekali (lihat lelaki berjaket paling kanan, tanpa masker, tanpa sarung tangan),” tanya Dina.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan beberapa korban menunjukkan tanda-tanda yang sesuai dengan dampak paparan agen syaraf. Sebuah tim dari organisasi amal medis, MSF (Médecins Sans Frontières) atau dikenal sebagai Dokter Lintas Batas, yang ikut merawat korban serangan di Idlib mengeluarkan pernyataan bahwa gas yang digunakan dalam serangan tersebut adalah gas sarin, sejenis agen racun syaraf.

 

Namun selain sarin, ada senyawa kimia lain yang diduga digunakan oleh rezim Assad dalam pembantaian di Khan Sheykhun. Senyawa tersebut adalah gas klorin, sebagaimana yang disebutkan oleh Dokter Lintas Batas dalam pernyataan yang diterbitkan di website mereka.

“Delapan pasien menunjukkan gejala-gejala seperti biji mata mengerut, kejang otot dan buang air besar tanpa sadar, yang merupakan tanda-tanda terpapar racun saraf seperti gas sarin atau senyawa serupa,” menurut pernyataan Dokter Lintas Batas. Mereka juga mengunjungi beberapa rumah sakit lain tempat para korban dirawat dan melaporkan bahwa para korban berbau pemutih yang mengindikasikan mereka terpapar klorin.

Sebelum menanggapi tuduhan Dina, mari kita tinjau kembali perbedaan antara gas sarin dan klorin.

Pertama, bisakah Dina membuktikan bahwa foto ini relevan dengan waktu kejadian serangan rezim Assad? Bukankah selama ini Dina sering melakukan analisis foto dengan “kaidah cocoklogi” andalannya?

Mengenal Sarin
Sarin adalah cairan yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa [1], yang digunakan sebagai senjata kimia karena potensi luar biasa yang dimilikinya sebagai sebuah agen syaraf. Senyawa ini secara umum dikenal sebagai senjata penghancur massal. Produksi dan penimbunan sarin telah dilarang oleh Konvensi Senjata Kimia pada tahun 1997 [2].


Gas sarin (ilustrasi)

Sarin adalah sebuah senyawa organofosfat yang dapat mematikan pada konsentrasi yang sangat kecil. Seperti agen syaraf lainnya, sarin menyerang sistem syaraf dan menyebabkan kontraksi otot tak terkendali dan rasa sakit yang teramat parah. Hal ini menyebabkan korban tidak dapat bernafas dan akhirnya meninggal karena asfiksia [3].

Dalam bentuk murninya, sarin diperkirakan 26 kali lebih mematikan daripada sianida[4]. Gejala yang muncul setelah terpapar sarin adalah ingusan, sesak dada, dan penyempitan pupil. Segera setelahnya, korban akan mengalami kesulitan bernafas, mual, dan mengeluarkan saliva dalam jumlah tidak normal. Korban akan kehilangan kontrol terhadap fungsi tubuh, muntah, kemudian mengeluarkan feses dan urin tanpa sadar. Fase ini dikuti dengan kejang-kejang. Akhirnya, korban akan pingsan dan mati lemas seiring dengan kejang yang dialaminya [5].

Sarin disebut juga sebagai GB. Huruf G menandakan bahwa senyawa ini termasuk agen syaraf tipe G, yaitu agen syaraf yang pertama kali disintesis oleh ilmuwan dari Jerman (G=Germany). Senyawa-senyawa seri G dikenal sebagai senyawa yang non-persisten. Huruf B menunjukkan bahwa senyawa ini termasuk agen pembunuh B, yaitu akibat bronkore dan bronkospasme.

Bronkorea adalah suatu keadaan dimana sekresi cairan oleh selaput lendir terjadi secara berlebihan dan sangat berpotensi merusak paru-paru, sedangkan bronkospasme adalah keadaan saat kontraksi otot terjadi secara spontan atau penyempitan pada dinding bronkial. Penyakit-penyakit ini sangat berpotensi menyebabkan kematian[6].

Mengenal Klorin
Klorin merupakan salah satu zat kimia pabrik yang paling banyak digunakan di Amerika Serikat. Biasanya zat ini digunakan sebagai disinfektan untuk kolam maupun air minum. Zat klorin juga digunakan pada pabrik kertas dan pakaian untuk pestisida, karet, dan larutan.

Gas klorin memiliki bau yang sangat tajam seperti pemutih dan memiliki warna kuning-hijau. Karena klorin memiliki kepadatan dua setengah kali lebih besar dari udara, ia bisa jatuh ke tanah di area dengan sirkulasi udara yang kecil.

Ketika klorin digunakan sebagai senjata dalam penyerangan, zat ini sangat mematikan. Dalam Perang Dunia I, terdapat larangan penggunaan zat ini di medan perang oleh perjanjian internasional. Sifat korosif dari gas tersebut memiliki efek buruk bagi kesehatan.

Meskipun dalam level yang rendah, klorin dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan mengganggu sirkulasi udara. Dengan menghirup gas klorin atau kontak langsung dengan mata atau kulit, akan mengakibatkan sesak pada dada, penglihatan yang kabur, pusing, pernafasan yang memendek, dan perih pada kulit. Perubahan keseimbangan pH pada darah juga akan menghancurkan organ. Dosis yang berlebih juga berpotensi pada kematian setelah beberapa jam kemudian.

Gejala akut yang berhubungan dengan gas klorin akan menghilang setelah tiga sampai lima hari, namun membutuhkan waktu berbulan-bulan agar fungsi paru-paru dapat kembali normal.


Foto relawan White Helmet mengevakuasi jenazah bocah korban serangan gas kimia.

Foto di atas digunakan Dina Sulaeman untuk memunculkan keraguan publik terhadap tragedi ini. Bukan rahasia lagi bahwa aktivis-aktivis Syi’ah semacam Dina gemar mencari-cari kesalahan. Namun, ada beberapa hal yang patut dipertanyakan dari tudingan Dina mengenai aksi White Helmets yang menurutnya janggal ini.

Pertama, bisakah Dina membuktikan bahwa foto ini relevan dengan waktu kejadian serangan rezim Assad? Bukankah selama ini Dina sering melakukan analisis foto dengan “kaidah cocokologi” andalannya?

Kedua, jika memang benar foto di atas relevan dengan waktu kejadian serangan, apa yang membuat Dina dan para pengikutnya yakin bahwa daerah dalam foto tersebut terpapar gas sarin dan bukan gas klorin? Karena secara umum gas klorin memang tidak lebih berbahaya daripada gas sarin.

Gas klorin memang mematikan, tapi butuh waktu beberapa jam sampai muncul gejala paparan berat. Tidak seperti gas sarin yang dapat dengan cepat meracuni bagian dalam tubuh melalui paparan pada kulit, gas klorin cenderung meracuni tubuh melalui jalur inhalasi (pernafasan).

Ketiga, terlepas dari gas apa yang menyerang daerah dalam foto tersebut, bagaimana Dina memastikan pada saat foto tersebut diambil, gas beracun masih menyelubungi daerah itu? Artinya, ada kemungkinan saat foto itu diambil gas beracun tidak lagi menyelubungi daerah itu.

Selalu ada faktor x seperti angin yang dapat membuat kepekatan gas beracun di daerah tersebut menjadi berkurang. Apakah Dina sudah memastikan keberadaan faktor x ini?

Dari satu foto saja, banyak hal yang belum dipastikan oleh Dina, sehingga argumen Dina terkait aksi penyelamatan White Helmets yang menurutnya janggal itu tidak ilmiah, tidak bisa dijadikan dasar untuk memunculkan keraguan.


Relawan kemanusiaan harus menghirup oksigen pascamelakukan tugas evakuasi. Kredit :
Ammar Abdullah/Reuters

 

Regu penyelamat White Helmets, dengan perlengkapan seadanya, rela mempertaruhkan nyawa mereka demi menyelamatkan nyawa rakyat sipil yang menjadi korban keberingasan rezim.

Bahkan gambar di atas menunjukkan seorang relawan harus diberi asupan oksigen setelah menolong warga Idlib dalam serangan pada Selasa (4/4/2017). Namun lihatlah bagaimana Dina memojokkan mereka. “Hanya orang gila yang mau berada di kawasan yang ada gas sarinnya tanpa pengaman sama sekali.”, ujarnya.

Gas klorin memang mematikan, tapi butuh waktu beberapa jam sampai muncul gejala paparan berat. Tidak seperti gas sarin yang dapat dengan cepat meracuni bagian dalam tubuh melalui paparan pada kulit, gas klorin cenderung meracuni tubuh melalui jalur inhalasi (pernafasan).

2. Dr. Shajul Islam

Tidak hanya White Helmets, dokter yang ikut menolong korban serangan gas kimia di Khan Sheykhun pun tak luput jadi bahan gosip Dina Sulaeman. Dina mempermasalahkan Dr. Shajul Islam yang sempat mengeluarkan kicauan di akun Twitter pribadinya saat korban serangan gas kimia membanjiri rumah sakit.


Pada pukul 06.24 UTC (09.24 waktu setempat) Dr. Shajul Islam yang berbasis di Binnish, 50 km utara dari Khan Sheykhun mentweet, “Rumah sakit kami penuh dengan korban serangan bom sarin hari ini. Siapapun yang ingin bukti, saya akan kirimkan video kepada anda.” Tak lama setelah itu, pada pukul 06.33 UTC (09.33 waktu setempat) Dr. Shajul Islam mengirim video yang menunjukkan 9 anak meninggal, korban dari serangan kimia yang dipublikasikan secara online.

Sejak saat itu, tidak ada kabar lagi dari Dr. Shajul Islam baik pada akun Twitternya maupun saluran Youtube miliknya, sampai akhirnya ia mengunggah sebuah video pada akun Twitternya (pukul 07.46 UTC atau 10.46 waktu setempat) yang menunjukkan semua pupil korban serangan gas mengecil dan tidak merespon cahaya.

Mari kita perhatikan video berikut.



Berdasarkan analisis dengan Youtube Data Viewer, sebuah program investigasi milik Amnesti Internasional, video ini diunggah Dr. Shajul Islam ke saluran Youtubenya pada pukul 10.18 UTC (13.18 waktu setempat). Dalam video ini Dr. Shajul Islam menjelaskan situasi di rumah sakit Binnish yang merawat pasien korban serangan gas kimia. Jika diperhatikan dengan saksama, terlihat bahwa cukup banyak terdapat tenaga medis yang menangani pasien.

Jika dilihat dari kondisi di atas, akan muncul pertanyaan : apa yang salah dengan aksi Dr. Shajul Islam membuat sebuah tweet? Lagi pula tweet berikutnya muncul satu jam setelahnya, dan bukan berarti Dr. Shajul Islam terus-terusan membuat cuitan di Twitter.

Tidak cukup menyebutkan aksi aneh (menurutnya) yang dilakukan Dr. Shajul Islam, Dina juga menyebut hal lain tentang beliau. “Dokter satu ini rekam jejaknya berafiliasi dengan ‘mujahidin’,” tudingnya.

Penyesatan opini yang selalu dilakukan oleh orang-orang semacam ini adalah dengan pola kill the messenger, sebuah cara yang dilakukan untuk menjatuhkan opini dengan mendelegitimasi fakta. Bagaimana mereka melakukannya? Mudah saja. Dina selalu melakukan itu dalam analisisnya dengan memfitnah penyebar pesan adalah seorang teroris, berafiliasi dengan kelompok “ekstrimis”, radikal, dan sebutan-sebutan semacamnya. Tak jarang, masyarakat awam yang belum mengenal sepak terjang Dina mudah sekali termakan oleh hastan Dina Sulaeman.

Jangan lupakan fakta juga, bahwa Dina pernah melakukan hal semacam ini dalam memfitnah Mahmoud Raslan. Seorang fotografer yang mengabadikan gambar Omran Daqneesh, si bocah kursi oranye. Baca juga: Menyanggah Logika Sesat Dina Sulaeman Soal Aleppo dan Suriah

Dengan orang seperti Dr. Shajul Islam yang menunjukkan bukti serangan gas kimia saja, dunia masih acuh-tak acuh, apalagi jika beliau tidak menyuarakannya.

Penyesatan opini yang selalu dilakukan oleh orang-orang semacam ini adalah dengan pola kill the messenger, sebuah cara yang dilakukan untuk menjatuhkan opini dengan mendelegitimasi fakta.

3. Tak ada  wartawan yang langsung meliput di lapangan?
Dalam tulisannya, istri dari Otong Sulaeman ini berani mengklaim tak ada satupun jurnalis yang meliput serangan gas kimia di Idlib. Argumen ini lemah sekali karena faktanya beberapa wartawan datang ke lokasi serangan untuk meliput. Jurnalis muda Hadi Al Abdallah merilis video liputannya yang jelas menunjukkan sebuah kawah di jalan, yang dilaporkan sebagai akibat serangan itu.

“Ini adalah korban meninggal dan terluka di distrik Al Shamali di Khan Sheykun sebagai akibat dari serangan roket yang mengandung gas kimia. Sementara ini lebih dari 70 korban dan 200 terluka akibat serangan tersebut. Kita sekarang berada di lokasi kejadian yang diserang dengan gas kimia,” lapornya.

Hadi juga menyampaikan bahwa mereka, maksudnya tim pers, tidak diperbolehkan untuk berada di sana sebelumnya karena bau gas masih tersebar di wilayah tersebut. Beberapa lokasi lainnya yang terkena serangan juga ditunjukkan dalam sebuah video yang diterbitkan oleh saluran Pusat Jurnalisme Suriah di laman Youtube.

“Pemukiman warga diserang hari ini. Tidak ada pangkalan militer di daerah-daerah yang ditargetkan oleh serangan udara (yang diserang adalah sipil). Roket pertama menghantam pada pukul 06.30 yang berlokasi agak jauh dari sini, roket kedua menghantam lokasi ini, di sini!” lapor wartawan pada video tersebut.

Untuk lebih memahami detil serangan, silahkan baca laporan yang dirilis oleh Seraa Media.

Entah terbuat dari apa nurani seorang Dina Sulaeman dan orang-orang semacamnya sampai begitu gigihnya memutarbalikkan fakta. Lagi pula kenapa harus repot-repot menutupi fakta kemanusiaan di Suriah? Sementara PBB sudah berkali-kali mengatakan konflik di Suriah telah menelan 290.000 korban jiwa dan jutaan pengungsi ke berbagai belahan dunia sejak tahun 2011.

Memasuki tahun 2017 diprediksi sudah 450.000 warga tewas. Bahkan UNICEF menyebut tahun 2016 adalah tahun mematikan bagi anak-anak Suriah, dan di tahun ini, mereka merasakan derita serupa, namun Dina dan teman-temannya masih berusaha keras memutarbalikkan fakta?
 

Ibu Dina Sulaeman, saya juga berharap agar gambar dan video anak-anak yang mati dan menderita di Suriah itu palsu, tapi sayangnya tidak begitu.
 

Ditulis oleh : Astriva Harahap, mahasiswi Jurusan Kimia Fakultas MIPA Unila, Sekjen Muslimah MPI Lampung.

Referensi :
[1]https://www.cdc.gov/niosh/ershdb/EmergencyResponseCard_29750001.html
[2]https://www.questia.com/magazine/1G1-16435096/nearly-half-a-million-liters-of-chemical-warfare-agents
[3]https://www.lawfareblog.com/poisonous-affair-america-iraq-and-gassing-halabja-joost-r-hiltermann
[4]http://library.thinkquest.org/27393/dreamwvr/agents/sarin1.htm
[5]Gussow, Leon. 2005. Nerve Agents: Three Mechanisms, Three Antidotes. Emergency Medicine News. 27(7):12.
[6]Evans, R.J. 2008. The Third Reich at War, 1939–1945. Penguin. p. 669. ISBN 978-1-59420-206-3.
[7]https://nationalgeographic.co.id/berita/2016/09/dampak-mematikan-gas-klorin-dalam-konflik-suriah

 

Dikutip dari             : kiblat.net

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments