Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

SAYA NU-NYA MBAH HASYIM ASY'ARI, BUKAN NU-NYA SAID AQIL SIRAJ ??? Nasional


 

Ketika mengikuti Aksi 212 ada warga Nahdliyin yang membawa spanduk digantung di leher dengan tulisan “Saya NU Mbah Hasyim Asy’ari, Bukan NU Said Aqil Siraj”, Tulisan itu kemudian menjadi viral di media sosial.

Fenomena itu tentu menimbulkan pertanyaan, bukankah Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj itu ketua PBNU ??? dan warga NU yang dikenal patuh pada pimpinannya, tiba-tiba membangkang kepada pimpinan PBNU ? Ada apa sebenarnya ?

Oleh karena itu, melalui tulisan, kami mencoba merekam ulang tentang sosok Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj (SAS) pemikiran, sikap dan berbagai kebijakan:

Pertama, SAS dinilai sebagai ketua PBNU yang paling tidak taat pada aturan dan AD/ART nya sendiri, logikanya, kalau terhadap AD/ART nya sendiri saja tidak ditaati, mana mungkin akan taat pada aturan yang lain, dan jangan berharap dapat ketaatan atau kebaikan dari warga NU, ini sejalan dengan firman Allah, “…wain asa-tum falaha”, jika keburukan yang diperlihatkan, maka keburukan yang akan didapatkan”, maka wajar sebagai ketua PBNU yang seharusnya dihormati, tetapi karena perbuatannya sendiri, sekarang ia malah dibangkang oleh warga NU sendiri.

Kedua, SAS menjadi ketua PBNU adalah produk Muktamar yang dijalankan dengan kecurangan, ini diakuai sendiri oleh Nusron Wahid dan ketika Kyai Said Aqil Siraj (SAS) menerima salah satu pimpinan Banom di kantor PBNU, SAS mengatakan, “ Lebih baik menang meskipun curang daripada kalah tapi menjelek-jelekkan ” bagi SAS mungkin tidak mengapa dan biasa-biasa saja, tetapi bagi warga NU ini sesuatu yang sangat serius, sebab logika hukum jika ada kecurangan, maka disitu ada tindak pidana, berarti SAS itu melakukan tindakan pidana dan konsekuensinya adalah kepengurusan PBNU yang ada sekarang ini dihasilkan dari tindakan pidana. Dengan begitu panitia Muktamar alun-alun bisa dipidana dan dampaknya seluruh produk-produk Muktamar otomatis ilegal alias melanggar hukum. Pelaksanaan muktamar dengan kecurangan jelas-jelas bertentangan dengan aturan hukum dan juga bertentangan dengan ajaran Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Ketiga, Warga NU menilai Kyai Said Aqil Siraj (SAS) berpaham Syi’ah, meskipun beliau membantah keras atas tuduhan itu, tetapi setelah warga NU menyaksikan sebuah video di Yotube sambil mencermati pernyataan, perbuatan dan gerakan SAS, rasanya sangat sulit untuk tidak mengatakan sebagai pengikut Syi’ah. Semenatara Mbah Hasyim Asy’ari mendirikan NU tujuannya untuk membentengi umat Islam dari pengaruh Syiah, Wahabi, dan Sekularisme.

Keempat, SAS dinilai oleh warga NU telah mengubah PBNU bukan lagi ormas keagamaan yang mengedepankan moral dan etika sebagaimana tujuan awal didirikan oleh Hadratus Syaikh Hasyum Asy’ari !!!, sebagaimana penilaian oleh KH. Mustain Syafi’i (mudir Madrasatul Quran Tebuireng) bahkan dengan terang-terang mempersoalkan PBNU sebagai ormas keagamaan, dan integritas keulamaan yang mengendalikan PBNU. Saya kira penilaian Kiyai Mustain Syafi’e tersebut mewakili perspektif mayoritas umat Islam tentang keadaan di PBNU sekarang ini dibawa kepemimpinan SAS.

Kelima, PP. Sidogiri menerbitkan buku “Menolak Pemikiran SAS”, karena dianggap telah keluar dari pemikiran Aswaja an- Nahdhiyah yang diajarkan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Saya kira sikap PP. Sidogiri ini mewakili hampir seluruh pesantren di Indonesia. Maka wajar pesantren-pesantren pendiri NU melakukan mufaraqah (memisahkan diri) terhadap PBNU yang dinakodai SAS, dan sikap mufaroqoh itu juga mewakili sikap mayoritas pesantren-pesantren di lingkungan NU.

Keenam, Warga nahdhliyin menilai SAS telah keluar dari akhlak Aswaja yang diajarkan hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, karena dianggap ghairal haya’ (tidak ada rasa malu) hal ini terlihat dalam mengangkat besan dan anaknya serta kroninya, seolah-olah PBNU warisan keluarganya.

Ketujuh, Pernyataan SAS, “Pemimpin non-Muslim yang adil lebih baik dibanding pemimpin Muslim yang tidak adil” pernyataan itu dinilai oleh warga NU keluar dari ajaran Hadratus Syikh Hasyim Asy’ari, apalagi kemudian itu dirujuk dari kitab Ibnu Taimiyah, sementara Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari telah menetapkan bahwa NU itu dalam bidang fiqih mengikuti empat Madzhab dibidang Aqidah mengikuti al-Asy’ari dan Al-maturidi, sedangkan dibidang Tasawwuf mengikuti al-Ghozali dan Junaid al-Baghdadi. Oleh karena itu wajar jika warga NU menilai SAS tidak patuh dan bahkan membangkang terhadap ajaran Hadratus Syaikh Hasyim Asyari karena mengutip pendapat dari luar bukan Imam Madzhab yang ditetapkan dalam AD/ART NU.

Kedelapan, Mbah Hasyim Asya’ari mengajarkan agar berlaku santun dalam menyikapi perbedaan, tetapi SAS sebagai ketua PBNU justru memberi contoh tak terpuji dan tak santun, seperti tentang janggut SAS mengolok-olok, bahkan menyatakan semakin panjang semakin goblok. SAS lupa bahwa empat Madzhab menyatakan janggut itu sunnah. Ini sungguh menyedihkan pemimpin NU menglolok-olok pendapat empat Madzhab yang dianut oleh orang NU sendiri.

Kesembilan, Warga NU memahami Bah Hasyim Asy’ari mengajarkan Islam ala ahlusunnah waljamah, tetapi SAS kini menggantinya dengan Islam Nusantara. Katanya dengan Islam Nusantara itu ingin menunjukkan Islam yang santun, bukankah ajaran Ahlusunnah yang diajarkan Hadratus Syaikh itu telah mengajarkan dan mencontohkan kesantutnan justru SAS sendiri tidak santun (ingat kasus janggut, SAS mengatakan semakin panjang semakin Goblok), kalau dengan Islam Nusantara ingin nunjukkan Islam itu menghargai budaya, bukankah Islam Aswaja yang diajarkan Bah Hasyim itu telah menunjukkan penghargaan budaya ??!!

Dampaknya warga NU merasa dirugikan karena orang luar melihat NU tak lagi ASWAJA, tetapi Islam Nusantara..apalgi jadi olok-olokan nanti di alam kubur ditanya malaikat dialam kubur ditanya siapa agamamu…apakah dijawab agamaku Islam Nusantara, pasti dipukul malaikat jika dijawab begitu.

Kesepuluh, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari mengajarkan bahwa NU itu harus diurus dengan semangat pengabdian dan perjuangan, tetapi SAS memperlihatkan mengurus NU dengan semangat menurut istilah Gus Mus dengan visi amplop. Hal itu terbukti setiap pidato sering kali SAS menyebut–nyebut amplop.. dan amplop (miskipun itu awalnya goyun), tetapi karena sering kali diucapkan, maka itu dipahami visinya memang amplop. Sebagaimana kejadian pada acara penutupan Munas Alim Ulama’ di kantor PBNU lt 8, dalam sambutan SAS mengatakan, kalau ceramah itu di lembag-lembaga Negara amplopnya tebal jangan di musolla NU, atau pesantren Raudhatut Thalibi amplopnya tipis yang disambut gerrr (mungkin goyun), kemudian Gus Mus sambutan dan langsung merespon , “Ini ketua PBNU visinya kok amplop”, dan para ulama yang datang juga warga NU meyakini apa yang diucapkan Gus Mus tersebut.

Baru-baru ini ketika umat Islam tersinggung al-Quran dinistakan oleh Ahok, SAS justru memberi karpet merah Jems Riady sebagai sekutu penista datang di PBNU. Ini semakin meyakinkan warga NU bahwa SAS mengurus NU bukan dengan pengabdian dan perjuangan untuk umat sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Kesebelas, Warga NU melihat SAS telah memanipulasi dan memanfaat NU untuk agenda dia yang tersembunyi, seperti fatwa tidak sah Solat jumat di aksi 212, sebenarnya itu pendapat pribadi dengan merujuk bahsul masail Muqsit Ghozali bukan keputusan PBNU (sebab yang memutus fatwa itu Syuriah bukan SAS), tetapi SAS dengan lantang depan presiden (di acara konggres Muslimah) SAS mengatakan itu pendapat PBNU, karena itu wajar jika bahsul masail Jember protes fatwa SAS tersebut sebab secara mekanisme salah dan isinya juga bermasalah.

Warga NU semakin marah setelah membuka kitab Mdzhab Sayfi’I yang menyatakan sah solat jumat diluar masjid. Bagi warga NU SAS telah dianggap manipulasi PBNU dan Imam Mdzhab. Ini sungguh menyedihkan dan memalukan.

Keduabelas, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari mengajarkan Aswaja yang didalamnya ada prinsip I’tidal, artinya tegak lurus dan bersikap adil serta berjuang menegakkan keadilan, tetapi SAS justru melarang-larang warga NU datang ke Aksi (411,212). Padahal sudah jelas yaitu menuntut keadilan.

Dari paparan di atas jelas sekali sepanduk yang dipasang oleh warga Nahdhyyin di aksi 212.. “Saya NU-nya Mbah Hasyi Asy’ari, bukan Nu-nya Said Aqil Siraj” tulisan itu mewakili perasaan warga NU secara menyeluruh.

(Abul Mufiz)

 

Dikutip dari             : Aswaja Garis Lurus

Penulis                   : -
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments