Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

8 PROPOSISI SEMIOSIS UNTUK PERPPU NO.2/2017 TENTANG PERUBAHAN UU NO. 17/2013 TENTANG ORMAS Nasional


 

PENGANTAR

Sebagai sebuah negara yang telah memilih Pancasila sebagai dasar negara-nya, ancaman terhadap Pancasila jelas merupakan ancaman terhadap kedirian negara (NKRI) itu sendiri;
Oleh sebab itu, semua pihak  yang mengancam posisi Pancasila jelas harus dicegah dan ditindak. Pancasila sudah final. 
Namun, penanganan  terhadap ancaman dan gangguan tersebut—terutama sepanjang pihak yang melakukannya adalah warga negara—sejatinya juga dilakukan berdasarkan keadilan yang dipancarkan oleh Pancasila itu sendiri. 

8 PROPOSISI SEMIOSIS
Berdasar pada apa yang disampaikan di atas, PERPU 2017 tentang Ormas yang telah   dikeluarkan pemerintah  menunjukkan kejanggalan. Secara semiotik, Perpu tersebut menandai beberapa hal sebagai berikut:

1) Teks Perppu merepresentasikan sikap pemerintah yang represif. Fakta tekstual teks yang represif ini tidak bisa dijawab oleh pernyataan lisan pemerintah bahwa  perpu tidak mengancam kebebasan (demokrasi) dan tidak mendiskreditkan ormas Islam;

2) Teks Perppu bersifat asosial atau lepas konteks. Teks ini berkarakter sangat pongah, melupakan konteks sosial yang tengah terjadi ketika ia dikeluarkan;

3) Teks Perppu bersifat ahistoris: pemerintah tidak belajar kepada sejarah, yakni sejarah gagalnya pemerintah dari orde ke orde dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada warganya;

4) Teks Perppu bersifat apolitis. Pemerintah gagal memahami situasi politik hari ini. Kegaduhan politik diatasi dengan kegaduhan baru.

5) Teks Perppu merepresentasikan situasi psikologis penguasa yang ketakutan. Ini karakter laten kekuasaan dari zaman-ke zaman. Suara ketakutan terhadap hilangnya kekuasaan ditransfer ke publik dengan berbagai cara sehingga ia menjadi ketakutan publik. Ancaman terhadap kekuasaan dipolitisasi menjadi ancaman terhadap negara;

6) Teks Perppu merupakan indeks dari politisasi Pancasila. Pancasila menjadi hanya berlaku untuk warga saja, tidak belaku untuk pemerintah.

7) Teks Perppu adalah indeks dari kegagalan pemerintah memahami dan mentransfer pesan dan nilai Pancasila itu sendiri kepada warganya. Dengan perpu seperti ini, Pancasila justru sedang diajarkan secara tidak ideologis (ideologi yang diajarkan tanpa ideologi). Alih-alih diajarkan secara ideologis, teks perpu justru telah mengerdilkan Pancasila itu sendiri.

8) Teks perppu adalah rangkaian kalimat yang berambisi bersifat otonom (sebagai sistem), tetapi justru dengan itu ia saling meruntuhkan pesan berbagai pesan yang hendak disampaikannya. Ia kontradiktif, bahkan ambivalens.

 

Dikutip dari             : - 

Penulis                   : Acep Iwan Saidi - Pembelajar Semiotika
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...


 



Comments