Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

BAWA AGAMA DALAM POLITIK ? Nasional


 

by M Rizal Fadillah *)

Menyimak wawancara Presiden Jokowi dengan wartawan BBC yang menanyakan soal kerukunan beragama cukup menarik. Awalnya soal kepemimpinan non muslim yang dijawab tidak masalah, begitu juga dengan kerukunan jawabannya soal DNA bangsa yang toleran dan moderat. Hanya ujungnya ada kalimat yang menyatakan "kadang kadang ada yang menggunakan  agama untuk politik" ujar Jokowi dengan nada negatif. 

Dengan cepat terlintas waktu Pemilu Pilpres lalu ada beberapa even yang dipublikasi masif baik video maupun foto Jokowi sebagai Presiden yang sekaligus juga Calon Presiden  "menggunakan agama untuk politik". Menjadi imam sholat di beberapa tempat. Menghadap kamera. 
Sholat saja dipolitisasi untuk menjabat kembali sebagai Presiden. Ini namanya permainan politik.

Ketika kasus Ahok dimana terjadi demonstrasi  besar besaran akibat Ahok dinilai melakukan penodaan agama, Presiden Jokowi rajin mendatangi ormas ormas Islam. Ini pun dipastikan masuk dalam ranah "menggunakan agama untuk politik".

Menarik KH Ma 'ruf Amin Ketua Umum MUI sebagai pasangan dalam Pilpres  juga tidak bisa ditepis sebagai "menggunakan agama untuk politik". Demikian pula ketika Presiden berkunjung ke Ponpes Al Anwar milik KH Maimoen Zubair terjadi "politisasi do'a" hasil koreksi Rommy yang kini dibalik jeruji besi. 

Agama Islam yang diduga disorot oleh Presiden Jokowi. Sayangnya pandangan soal agama dan politik dirinya sangat sederhana dan keliru.
Keberadaan partai politik berasas Islam saja sudah menggambarkan agama yang berpadu dengan politik itu lumrah dan legal. Kiprah keagamaan partai adalah aspirasi dari komunitas yang diwakilinya. 

Jokowi sangat keliru menyatakan bahwa agama harus dipisah dari politik sebagaimana diucapkan saat  meresmikan Tugu Titik Nol di Tapanuli Selatan. Agama, khususnya Islam, tidak mungkin dipisahkan dari politik. Sejarah kenabian  sudah mengajarkan keterpaduan tersebut. Al Qur'an dalam banyak ayat ayat-Nya telah menggariskan politik yang tak dapat dipisahkan dari keagamaan. 

Justru cara pandang sekuler atau bahkan komunislah yang membangun jarak antara politik dengan agama. Agama candu masyarakat. Kata Aidit revolusi mental keberhasilannya adalah jauhnya agama dari masyarakat. 

Nah mutatis mutandis dengan pandangan tersebut adalah bahwa "musuh terbesar Pancasila adalah agama".

*) Pemerhati Politik
 

Bandung, 24 Februari 2020

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : M Rizal Fadillah
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments