Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

SOCIAL DISTANCING (ATAU PHYSICAL DISTANCING?) #2 Nasional


 

Social Distancing (atau Physical Distancing?)

Sebuah Telaah Kritis tentang Arsitektur Ruang Publik 
dalam rangka Menjaga Iman dan Imun.

Bagian 1: ’Ancaman ‘Wuhan Covid-19’'.

diolah oleh : 
Dr. Tendy Y. RAMADIN, S.Des., M.T. (Arch.)

Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior - ITB,

Arsitek sejumlah Masjid, Sekolah/Sekolah Peradaban/Universitas Islam/ Islamic Society

Anggota Tim Arsitek YPM Salman ITB,

Ketua III Bidang Pendidikan dan Latihan serta Riset dan Pengembangan ANNAS.

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ruang Publik dan Pandemik (lanjutan) 

Baru beberapa waktu lalu seorang arsitek asal Italia telah mengembangkan CURA ( Connected Units untuk Penyakit Pernafasan), berupa serangkaian plug-in Pod perawatan Intensif dalam rangka merespon pandemi Wuhan COVID-19. Dasar desainnya sangat 'terbuka' dan cukup fleksibel untuk menjadi sebuah rumah sakit darurat.  Unit pertama proyek saat ini sedang dibangun di Milan, Italia. CURA adalah solusi siap pakai yang terdiri dari unit yang dapat dipasang dengan cepat, mudah dipindahkan, dan relatif aman.

Reaksi positif semacam itu seyogianya patut ditiru oleh para arsitek/desainer tanah air. Semangatnya adalah   rame ing gawe sepi ing pamrih (giat bekerja tanpa pamrih). 

Pada sisi lain dari kesibukan 'pahlawan medis' bagi pemulihan level kesehatan di masyarakat, berbagai kota terlihat bereaksi dengan memanfaatkan  arsitektur dan perencanaan strategis perkotaan sebagai alat untuk pengendalian virus. Boleh jadi sesekali menghancurkan gagasan lama tentang kota dan perencanaan ketahanan dalam arsitektur.

Sesungguhnya apa yang perlu kita ketahui tentang virus Corona? Ia bukanlah barang baru! Pertama kali pernah diidentifikasi pada tahun 1960-an. Pada umumnya yang terjangkit adalah manusia dan hewan. Beberapa dari jenis virus ini tidak terlampau berbahaya, sementara beberapa yang lainnya bisa sangat serius membahayakan jiwa.

Apabila mengamati evolusi wabah ini, akan terungkapkan wawasan yang menarik tentang bagaimana berbagai kota (baik di Cina dan di beberapa negeri yang lain) merespons krisis ini.

Sejak wabah yang dilaporkan pada 9 Januari oleh Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ), pasar daging Wuhan, tempat virus Corona berasal, langsung ditutup. Dua pekan kemudian kota Wuhan dikunci, dan segera setelah itu, zona itu diperluas ke 15 (lima belas) kota (termasuk Disneyland di kota Shanghai). Terhitung total 56 (lima puluh enam) juta orang secara fisik terputus dari dunia luar dengan transportasi umum yang dinonaktifkan dan semua jalan ditutup, kendati selama Tahun Baru China: Imlek! 

Bagaimana kita pun patutnya bereaksi terhadap keadaan ini? Menariknya, ada dua sisi yang dapat diketengahkan dari situasi ini, ketika pemerintah Indonesia pernah secara kolektif melalui kepala negara dan beberapa menteri nya 'meneriakkan' anjuran tenang dan berupaya menenangkan dengan berita seolah Indonesia bebas pandemic virus Wuhan Covid19 ini. Ironi yang berbanding terbalik secara kontras dengan adegan-adegan kesedihan yang merebak di kota-kota kiwari (saat ini) yang sekarang bak menjadi kota hantu.
Keadaan tersebut diiringi tindakan spontan oleh warga sipil dalam upayanya menciptakan kebebasan batiniah yang natural: menciptakan zona bebas virus!

Langkah secara teknis struktural dalam wujud tembok bata ada bermunculan dalam upaya untuk mencegah orang luar mengakses daerah-daerah tertentu di berbagai belahan kota. Hampir semuanya disertai dengan spanduk-spanduk yang berbunyi: 'Orang Luar Dilarang Masuk', bahkan banyak ditemukan pos pemeriksaan kesehatan sukarela. Warga tidak melakukan ini semata atas perintah pemerintah, tetapi merupakan inisiatif dalam upaya untuk menjaga sekaligus mencegah komunitas mereka dari risiko wabah virus.

Desakan alamiah untuk lebih jauh mengasingkan diri dari kota besar pun menggejala. Meski pun mengandung resiko ruang publik yang membesar karenanya, sekaligus peluang wabah memperlebar jangkauan nya. Fenomena mudik! 

Berlindung di rumah, dalam konteks ini, untuk jangka waktu yang lama menguji kota-kota yang bergantung pada mobilitas. Manakala penduduk hanya diidzinkan pergi sekadar untuk berbelanja bahan pokok makanan. Hal ini nampak menjadi masalah karena beberapa jalan telah ditutup.

Sekelompok besar orang didapati tetap berkumpul pada titik-titik tertentu untuk berbelanja sebagai konsekuensi logis dari diterapkannya ideologi perencanaan terpusat.

Pelajaran berharga yang bisa diambil dari Prof. Nikos Salingaros dalam 'jurnal' ArchDaily: Perencanaan terpusat dapat mengarah pada peningkatan kemungkinan infeksi virus. Desentralisasi dalam hal ini tidak hanya mengurangi ketergantungan mobilitas dengan menghilangkan kebutuhan akan mobilitas secara keseluruhan, tetapi juga memberikan ketahanan masyarakat karena komunitas yang lebih kecil masih dapat berfungsi jika mereka memutuskan untuk memotong mata rantai sambungan dari kota yang lebih besar. Batasi pergerakan manusia!

Dari sudut pandang konstruksi dan arsitektur, negeri 'tirai bambu' Cina tidaklah mengecewakan dengan sumber daya luar biasa yang diinvestasikan untuk mendukung kebutuhan kesehatannya. Pembangunan rumah sakit 1.000 (seribu) tempat tidur dimulai dengan tenggat waktu penyelesaian hanya 6 (enam) hari. Setelah itu, satu tambahan diumumkan untuk menampung 1.300 (seribu tiga ratus) tempat tidur, dengan batas waktu penyelesaian 15 (lima belas) hari.

Banyak rumah sakit direnovasi dalam waktu singkat, cepat, untuk menampung peningkatan jumlah pasien.

Sementara itu sekarang di tanah air, pada saat menyaksikan pasien berbaris berbanjar di bangsal rumah sakit, terasa amatlah mencekam.

Situasinya sangat buruk sampai-sampai beberapa dokter dilaporkan menggunakan popok agar tidak membuang waktu untuk berurusan dengan toilet, Alat Pelindung Diri (APD) berupa jas hujan plastik pun jadi diraih, karena pemerintah masih terkesan abai menyiapkan 'perangkat perang' berupa APD bagi para tenaga medis.

Lonjakan permintaan bagi konstruksi darurat yang adaptif dan cepat, mengesampingkan sementara masalah konsep arsitektur berkelanjutan demi kelangsungan hidup manusia.


Virus Corona menjadi titik tolak perpercepatan digitalisasi dan otomasi kota?


Memiliki teknologi maju yang dapat diandalkan tentunya dapat membantu, karena kota-kota kita kelak akan semakin terwujud menjadi taman bermain bagi para pegiat teknologi informasi. Dengan meningkatnya popularitas Kota Pintar, manakala pasar IoT ( Internet of Thing) diperkirakan akan meledak mencapai 20 (dua puluh) miliar tahun ini (2020) dan 41 (empat puluh satu) miliar pada 2025, kekayaan data akan lantas menjadi trend baru.

Namun demikian- selain masalah privasi, ada kritik bahwa penggunaannya terutama dibatasi oleh perusahaan teknologi informasi besar untuk keuntungan bisnis mereka semata. Mereka membatasi komunikasi data antara perangkat kota pintar dan lintas sistem yang mereka miliki. Pilihan sulit di antara kebebasan hakiki dan big data yang nyaris menghilangkan ruang pribadi apalagi rahasia. 
Kumpulan data dalam big data dapat diproses melalui alat Artificial Intelligence (AI).

Dengan dataset terbatas, memang wabah virus Corona konon berhasil dideteksi 9 (sembilan) hari sebelumnya oleh algoritma AI Kanada. Sehingga dengan demikian semestinya akan lahirlah kebutuhan untuk standarisasi protokol antara operator kota pintar dan produsen perangkat.

Selanjutnya, sebagaimana dunia yang tengah mengamati dengan seksama tentang pandemi ini, adalah kebutuhan mendesak untuk meningkatkan diskusi. Diskusi yang dimaksud adalah antara berbagai pemangku kepentingan dalam ikhtiar memperlebar pengetahuan terhadap bidang kesehatan bagi publik; termasuk di antaranya bagi organisasi Arsitektur dan Perkotaan, seperti halnya IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), IALI (Ikatan Ahli Arsitektur Lansekap Indonesia), IADI (Ikatan Ahli Desain Indonesia), HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia), ADPI (Asosiasi Desainer Produk Indonesia), bahkan ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) bersama IDI (Ikatan Dokter Indonesia) mau pun berbagai asosiasi profesi yang lainnya, bersama perusahaan teknologi informasi besar.

Diskusi tentang masa depan kota-kota, di dunia 'urban' kita saat ini, hanya dapat memiliki hasil yang berkelanjutan jika semua aktor memahami atau diatur untuk memahami, tentang hubungan rumit antara berbagai dimensi perkotaan - termasuk fenomena sosial yang hadir. Mengenai hal ini, para profesional desain perlu bersuara. Penting bagi kita untuk berkontribusi dalam diskusi, karena kita sedang menyaksikan bencana global.

Sebagai 'pemilik karakter' pemecah masalah, arsitek/desainer dapat bekerja sama untuk mempelajari bagaimana memberikan tingkat kehidupan yang lebih tinggi di kota-kota besar dan kecil jika virus kian menyebar lebih di hari-hari mendatang.


bersambung lagi esok hari, insya Allah.


Kota Baru Parahyangan, Bada Isya, 4 Syaban 1441 H. / 29 Maret 2020 M.

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Dr. Tendy Yulisca Ramadin S.Sn.,MT
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments