Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

RENUNGAN HIJRAH DAN PINDAH IBU KOTA Nasional


 

Mei S, 1 Muharam 1441

Hijrah” secara etimologi berarti meninggalkan atau menjauhi. Konsep hijrah ini adalah pindah dari kondisi buruk menuju yang lebih baik untuk menegakkan agama Allah.  Sejarah juga mencatat alasan hijrah ini adalah suatu keniscayaan yang dipicu oleh pemboikotan terhadap dakwah Rasulullah SAW di Makkah, bahkan puncaknya adalah berupa ancaman pembunuhan kepada beliau. Bisa dikatakan alasan pemindahan pusat dakwah dan juga menjadi pusat pemerintahan adalah untuk urusan yang sangat kritis. 

Hijrah dilakukan setelah dilakukan survey yang cukup panjang seperti ke Habasyah dan Tha’if serta kota lainnya sampai akhirnya dipilihlah Madinah.  Jadi hijrah bukanlah spontanitas, tetapi perlu persiapan matang bahkan dilakukan oleh Rasulullah SAW sendiri. Hal yang perlu digarisbawahi adalah pusat kegiatan politik Rasulullah SAW hanyalah sebuah masjid. Tidak perlu biaya mahal, yang hal ini ditunjukkan ketika Rasulullah SAW memindahkan pusat dakwahnya di Madinah, yang awalnya di masjid Quba kemudian dipindahkan ke masjid Nabawi. Dukungan masyarakat Bani Najar sebagai pemilik lahan dengan suka rela mewakafkan tanahnya untuk masjid Nabawi. Teladan Rasulullah SAW yang membangun umat untuk ibadah kepada Allah tanpa kepentingan pribadi menjadi kunci kemudahan beliau dalam pemindahan pusat dakwah sekaligus pemerintahan. 

Beberapa negara lain pernah memindahkan ibukotanya, seperti Jepang telah memindahkan ibu kotanya dari Kyoto ke Tokyo. Kepindahan ini adalah alasan politik yang kritis akibat pergantian keshogunan Tokugawa ke Meiji, di mana kekuatan politikus oligarki yang berperan memindahkan ibu kota ini. Mereka berkepentingan memindahkan ke Tokyo karena untuk kepentingan kemudahan perdagangan bukan menjauhi pusat perdagangan.  Adapun Australia pernah memindahkan ibukotanya dari Melbourbe ke Canberra akibat persaingan antara Melbourne yang merupakan ibukota negara bagian Victoria dengan Sydney sebagai ibukota New South Wales. Pemindahan ini dipicu oleh penurunan pamor Melbourne sebagai kawasan kota metropolis dibanding dengan Sydney yang sedang naik daun, kemudian diambil solusi jalan tengah ibukota dipindah ke Canberra yang masih wilayah New South Wales tetapi terletak di antara Melbourne dan Sydney. Pemilihan Canberra yang sepi ini juga masih menuai kritik tetapi bisa meredam konflik antara kedua negara bagian tersebut. Brazil adalah negara yang dua kali pindah ibukota yakni dari Salvador ke Rio de Janeiro tahun 1763, dengan alasan untuk meningkatkan ekonomi akibat ‘booming’ emas. Kemudian pindah lagi ke Brazillia tahun 1960 dengan alasan politik bahwa Rio de Janeiro rawan politik dan serangan angkatan laut musuh. Masih ada beberapa negara seperi India, Pakistan dan Kazakhstan juga mengalami hal yang sama dan alasan ketahanan nasional yang menjadi alasan utama bukan dengan alasan lainnya. Itulah sekilas alasan perpindahan yang semuanya menunjukkan alasan politik kuat untuk pindah.

Yang tidak kalah menarik dari usulan pembahasan pindah ibu kota ke Kalimantan sampai sekitar Rp 469 trilyun atau $ 33 milyar atau sekitar 25% PDB Indonesia. Bila dibandingkan dengan perpindahan ibukota Myanmar hanya $ 5milyar pada tahun 2005 atau 6,6% PDB Myanmar. Dengan dana sebesar itu hampir mustahil bagi Indonesia membiayai tanpa pinjaman asing. Perlu diingat kelayakan suatu pembangunan perlu dilihat apa nilai ‘out come’-nya yakni seberapa besar peran pemindahan tersebut kepada kemajuan Indonesia baik secara politik, sosial maupun ekonomi. Pelajaran pembangunan dengan dana asing akan membebani kondisi pembangunan yang akan datang, yang seharusnya diteliti dengan seksama, bukan hanya sekedar memunculkan proyek mercusuar yang hanya dinikmati segelintir orang. Krisis ekonomi tahun 1998 adalah pelajaran berharga ketika jatuh tempo pembayaran hutang yang nilainya berlipat-lipat pada waktu yang hampir sama, dengan keadaan ekonomi dalam negeri yang pas-pasan menimbulkan gejolak ekonomi dan politik yang luar biasa. Perlu pula diingat bahwa ibukota Indonesia pernah pindah ke Jogyakarta pada tahun 1946 dengan sederhana, hampir tanpa biaya. 

Kelayakan membangun ibukota baru sangat peka terhadap resiko politik, apabila pemerintahan atau suasana berubah maka keberlangsungan proyek tersebut bisa terbengkalai. Apalagi,kita punya pengalaman pemindahan pusat olahraga ke Hambalang yang gagal adalah pelajaran besar. Demikian pula proyek e-KTP menimbulkan mafia luar biasa yang merupakan adalah korban politik ‘oligarkhi’ bagi-bagi rizki kueh kekuasaan yang kemudian terbongkar ketika suasana berubah. Sangat disayangkan bila dana sebesar itu hanya akan menjadi monumen tanpa guna dikemudian hari, walaupun tentu saja kita tidak berharap demikian.

Kalau dilihat dari sejarah kepindahan negara-negara di atas, unsur terpenting pindah adalah alasan kemapanan politik dan pertumbuhan sumberdaya manusia, bukan urusan lokasi. Salah satu perbandingan bila kita lihat ibu kota Amerika Serikat adalah diujung utara sedangkan wilayahnya jauh membentang sampai keselatan. Salah satu bukti lain adalah peristiwa Papua menunjukkan bahwa ada masalah ketahanan nasional yang bersifat mendasar yakni unsur ‘persatuan’ yang lebih prioritas daripada peminidahan. Harus bisa mencari alternatif penggunaan uang sebesar itu sebagai pembanding.Perbandingan dengan Hijrah Rasulullah SAW.

Marilah kita kaji bagaimana peran hijrah Rasulullah SAW pada pembentukan negara Madinah yang sangat solid hanya dalam kurun waktu 10 tahun, di mana terdapat tiga pilar utama pembangunan negara:
Pertama: mewujudkan persatuan umat. Secara umum diperoleh melalui ‘Piagam Madinah’ yang intinya adalah berisi kesepakatan bersama sebagai warga Madinah untuk saling tolong menolong dan bersatu mempertahankan kota Madinah atau saat itu bernamaYatsrib dari serangan musuh. Secara khusus Rasulullah SAW mempererat persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin yang merupakan dua kekuatan besar pendukung beliau.
Kedua: mewujudkan kepemimpinan yang dipercaya dan dicintai rakyat. Ini dicapai melalui kejujuran, amanah, sederhana dan adil sehingga menimbulkan kepercayaan masyarakat dan menciptakan loyalitas tinggi. Sebagai pemimpin yang adil dan menjalankan hubungan sosio-politik berbasis kebenaran bersumber dari alqur’an. Sifat jujur dan amanah beliau telah teruji sejak muda yang digeri al amin, tidak egois bahkan tidak meninggalkan warisan materi kepada keluarganya juga tidak membedakan hukum walau kepada keluarganya, sehingga beliau pernah berkata: ‘Seandainya Fatimah (putri kesayangan beliau) mencuri maka aku akan memotong tangannya’.
Ketiga: membangun SDM yang tangguh. Ini dicapai melalui tarbiyyah atau pendidikan intensif kepada para sahabat tentang ilmu alqur’an yang melahirkan iman, kejujuran dan ahlak mulia yang dipuji oleh Allah sebagai ‘khoiro ummah’ atau umat terbaik (Ali Imran:110). Kekuatan orang-orang dengan ahlak terpuji inilah menjadi tulang punggung penggerak negara Madinah yang tangguh dan rela berkorban dengan harta dan jiwanya.

Pelajaran penting yang perlu diambil dari hijrah adalah bahwa urusan pindah tempat adalah untuk suatu keperluan yang memaksa dan untuk kepentingan menegakkan kebenaran yang itupun dilakukan dengan biaya perorangan. Sumber kekuatan adalah dari Allah bukan dari yang lain, seperti di dalam ayat An-Nuur:55:
“Allah berjanji untuk orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih bahwa pasti Allah akan jadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Allah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan akan Allah jayakan agama mereka yang Allah ridhai untuk mereka, serta Allah tukar setelah kondisi takut menjadi aman. Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak menyekutukan-Ku dengan apapun.” (an-Nuur : 55).
Adapun peringatan dari sumber-sumber pendanaan yang tidak Islami yang dalam ayat al Munafiqun dinyatakan sebagai dari orang kafir, yang tidak mengikuti kebanaran tidak akan menghasilkan izzah atau kemulyaan dan kekuatan. 
“Apakah mereka mencari ‘izzah (kekuatan) di sisi mereka (orang-orang kafir)? Sesungguhnya semua izzah (kekuatan) kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa: 139).
Semoga peristiwa hijrah menjadi pelajaran buat kita semua, terutama umat Islam di Indonesia. Aamiin.


 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Ir. Mei Sutrisno, M.Sc, Ph.D.
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments