Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

SOCIAL DISTANCING (ATAU PHYSICAL DISTANCING?) #3 Nasional


 

Social Distancing (atau Physical Distancing?)

Sebuah Telaah Kritis tentang Arsitektur Ruang Publik 
dalam rangka Menjaga Iman dan Imun.

Bagian 1: ’Ancaman ‘Wuhan Covid-19’'.

diolah oleh : 
Dr. Tendy Y. RAMADIN, S.Des., M.T. (Arch.)

Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior - ITB,

Arsitek sejumlah Masjid, Sekolah/Sekolah Peradaban/Universitas Islam/Islamic Society,

Anggota Tim Arsitek YPM Salman ITB,

Ketua III Bidang Pendidikan dan Latihan serta Riset dan Pengembangan ANNAS. 

Virus Corona menjadi titik tolak percepatan Digitalisasi dan Otomasi Kota? (lanjutan...)

Bagi negara-negara di seluruh dunia, tindakan untuk memerangi penyebaran dan efek Wuhan COVID-19 adalah menerapkan karantina (lebih drastis nya adalah lockdown); membatasi pergerakan populasi umum sembari mengisolasi orang-orang yang terinfeksi oleh penyakit, meski pun tanpa batas waktu. Hasilnya: ruang publik dan pribadi telah ditutup dalam upaya untuk mengekang atau mengendalikan jumlah kasus baru. Pada saat yang sama, meningkatnya jumlah kematian telah menambah ketidakpastian sosial dan ekonomi, diiringi dengan pertanyaan "bagaimana kita akan bekerja?" atau, lebih lugas lagi adalah: "bagaimana kita makan?"

Pada kebanyakan praktisi profesional, "rumah kantor" telah menjadi norma baru untuk menjaga segala sesuatunya berjalan. Keadaanlah yang pada akhirnya membuat banyak orang mempertanyakan masa depan transportasi umum dan mobilitas massa. Dengan semakin sedikit orang yang bepergian, (sebagaimana penuturan dai kondang Abdullah Gymnastiar) pusat-pusat kota mengalami penurunan polusi udara secara drastis (dan banyak orang mendapati diri mereka memiliki waktu luang berjam-jam untuk bercengkerama dengan keluarga, mengkaji Al Qur'an, mendalami bacaan literatur yang bagus, melakukan perjalanan virtual ke museum atau menyaksikan tayangan dokumenter di Netflix, YouTube dan lain sebagainya).

Dampak Wuhan COVID-19 juga meninggalkan jejaknya di bidang akademik, yakni memaksa sekolah-sekolah hingga universitas untuk memindahkan kelas secara online, membuat siswa dan guru sama-sama merefleksikan pro dan kontra dari pelajaran virtual atau tatap muka. Barangkali dalam benak sambil juga mempertanyakan bagaimana biaya yang terkait dengan infrastruktur pendidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap akses belajar.

Perhatian publik juga beralih ke sektor e-commerce dan distribusinya, ketika robot dan drone mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pekerja manusia dan memaksa banyak pihak yang berkecimpung di sektor ini untuk berspekulasi tentang masa depan pekerjaan bagi sebagian besar populasi manusia.

Bagi orang-orang yang tidak memiliki kemewahan bekerja dari rumah dengan laptop, seperti - anemer atau kuli bangunan, pengemudi, dan pekerja pribadi lainnya, hari-hari di karantina berarti hari-hari omong kosong (har-mo-ko), tanpa pekerjaan sekaligus kehilangan upah. Dilematis, "tidak bisa bekerja dan tidak bisa makan". 

Kian lama, disadari bahwa penyakit pun berperan dalam menentukan arah ekonomi global dan pergerakan orang di dalam kota; kendati ini bukan hal baru sebagaimana hal yang pernah ditunjukkan oleh sejarah.

Akankah otomatisasi memengaruhi peran kontributif arsitek/desainer dalam kehidupan?

Kebutuhan untuk mengisi kesenjangan tenaga kerja yang ditinggalkan oleh pandemi menyebabkan banyak inovasi teknologi dan sosial yang dahulu di Eropa sebagai Era Renaissance. 

Penemuan industri mesin cetak telah mengubah cara manusia berkomunikasi.  Desain perkotaan semakin menekankan ventilasi dan pencahayaan untuk meningkatkan kehidupan mereka yang tinggal di kota. Berabad-abad kemudian, perkembangan beranjak lebih maju yang termanisfestasikan dengan sanitasi perkotaan yang dibuat ketika 'Gerakan Higienis' memimpin perjuangan melawan wabah Tuberkolosis ( TBC) di Paris.

Keadaan itu mendorong penelitian ilmiah yang mengarah pada optimalisasi ruang publik dengan cara merancang ventilasi dan paparan sinar matahari yang optimal. Bahkan, banyak yang dapat  dilihat dalam trend arsitektur dan urbanisme saat ini berasal dari langkah-langkah yang serupa dengan yang diambil lebih dari seabad yang lalu itu. Langkah keputusan demi memastikan kesehatan, kebersihan, dan kenyamanan bagi penduduk suatu kota.

Kesibukan dengan pertumbuhan populasi dan dampaknya pada pusat-pusat kota dalam beberapa dekade mendatang bukanlah masalah kecil, terutama ketika mempertimbangkan bagaimana hal itu akan mempengaruhi pekerjaan dan mobilitas. Pertanyaan berikutnya adalah How Will We Live Together? 

Dengan kenyataan sekarang bahwa ancaman pandemi baru yang selalu ada, bagaimana kita akan menghadapi tantangan ini di era digitalisasi dan otomatisasi?

Inovasi baru, bersamaan dengan hadirnya material baru dan teknologi terbaru, sesungguhnya menjadikan segala sesuatu lebih mudah diakses setiap hari dalam rangka mendefinisikan kembali bagaimana produk didistribusikan dan bagaimana orang dapat bekerja. Sebagai misal open source furniture hingga buah kerja sahabat saya kang Permana di Departemen Arsitektur ITB yang merencanakan dan merancang 'Rumah Kayu Modular' yang dapat  diunduh online, lalu dicetak, dan dibangun secara online pula, boleh jadi akan  menjadi 'tradisi baru' dalam membangun. 'Robot' peletakan bata atau kayu modular interconnected akan mengubah aturan konstruksi dan memasuki era keemasan pencetakan konstruksi bangunan 3D (tiga dimensional).

Apakah kita berada di ambang produksi dan konstruksi yang bebas dilakukan oleh setiap manusia?
Without an Architect! (tanpa dibutuhkan seorang arsitek) Imagine of that (bayangkan). 

Sementara itu, pertanyaannya yang mengganjal tetap berkutat pada- apakah ini sebuah pandemi yang mempercepat digitalisasi dan otomatisasi kota-kota kita? Akankah kita, jikalau tidak berharap pada rezim pemerintah, dapat move on (melangkah maju), bila perlu merangsek maju. Ingat! Segala perangkat pun sudah banyak tersedia ketika harus Work from Home (WFH) juga Home Schooling. Kita dipaksa untuk memulai lebih cepat secara berjamaah. 

Pada sisi lain, secara sosial, kecepatan informasi via berita di media sosial membuka mata banyak pihak tentang kekejaman di Uyghur hingga tragedi di Wuhan misalnya, dengan segera menyebar di internet asbab dari smartphone (telepon seluler pintar) dalam genggaman.

Teknologi informasi dan era keterbukaan menjadi setting an Allah Azza wa Jalla untuk bahkan membuka kedustaan di ruang publik (jika ada) terbeberkan dengan sendirinya.
Yuk jaga iman dan imun. 

bersambung lagi esok hari, insya Allah. 


Kota Baru Parahyangan, Bada Ashar, 5 Syaban 1441 H. / 30 Maret 2020 M.

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Dr. Tendy Yulisca Ramadin S.Sn.,MT
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...

 


Comments