Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

SOCIAL DISTANCING (ATAU PHYSICAL DISTANCING?) #4 Nasional


 

Social Distancing (atau Physical Distancing?)

Sebuah Telaah Kritis tentang Arsitektur Ruang Publik 
dalam rangka Menjaga Iman dan Imun.

Bagian 1: ’Ancaman ‘Wuhan Covid-19’'.

diolah oleh : 
Dr. Tendy Y. RAMADIN, S.Des., M.T. (Arch.)

 
Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior - ITB,
 
Arsitek sejumlah Masjid, Sekolah/Sekolah Peradaban/Universitas Islam/Islamic Society,
 
Anggota Tim Arsitek YPM Salman ITB,
 
Ketua III Bidang Pendidikan dan Latihan serta Riset dan Pengembangan ANNAS.
 
 
'Dialog' antara Social Distancing (atau Physical Distancing?) dengan Shaf yang Lurus dan Rapat dalam Shalat Berjamaah
 
Sahabat sekalian, sejujurnya, saya belum punya kapasitas yang cukup memadai untuk menganalisis menggunakan fiqih (hukum dan ketentuan) Islam tentang bagaimana Social Distancing (atau Physical Distancing?) ketika berhadapan dengan ketentuan untuk lurus dan rapatnya shaf  ketika akan shalat berjamaah dalam masjid.
 
Alhasil, bahasan sederhana ini saya coba tuliskan, rangkaian telaah kritis yang terinspirasi dari obrolan di WhatsApp Group yang disampaikan sahabat saya kang Uus Supriatna, seorang pegiat dunia perkayuan dari Masyarakat Industri Kayu Lestari (MIKAL), sekaligus dalam kapasitas beliau sebagai salah seorang pengurus DKM di Tasikmalaya. 
 
"Prihatin ningal tayangan live di  Makkah...hampir teu katingal aya nu thawaf..."(Prihatin menyaksikan tayangan langsung dari kota suci Mekkah...hampir tidak nampak ada yang berputar mengelilingi Ka'bah). 
 
"Langkung prihatin deui (sebagai DKM), kiwari netepan teh aya aliran baru: 'jamaah social distance'...(Lebih prihatin lagi, sebagai pengurus DKM, sekarang ditemui ketika shalat tuh adanya aliran baru: jamaah yang mengambil 'jarak sosial' alias posisinya saling berjauhan).
 
Pendapat pribados (pendapat saya):
1. Nilai berjamaah sebagai wujud kebersamaan, kedekatan sosial, kesamaan harkat martabat, telah dihancurkan oleh virus Wuhan COVID-19. 
2. Nilai ketauhidan sedang diuji..., ketika mesjid (seolah di- nafik -kan) sebagai tempat berserah diri hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Begitu takutnya orang datang ke mesjid, asbab hanya takut mati karena virus.
3. Di akhir zaman seperti ini anjuran banyak ber shalawat kepada Nabi adalah doa yg tiada ber hijab... walaupun disampaikan orang berdosa sekalipun. Sekali ber shalawat, Allah langsung membalas 10 (sepuluh) kali...
 
Demikian sesal yang disampaikan oleh kang Uus.
 
Sesal beliau seolah sebagai 'otokritik' bagi saya sendiri, kejadian serupa saya alami dan amati juga di Masjid Ar Rahman dekat tempat bermukim saya sekeluarga. Bukan kebetulan saya hadir di sana juga sebagai salah seorang pengurus inti DKM. Inisiatif me- lockdown masjid memang sebagai upaya tawakal dan sudah melalui tahapan musyawarah para pengurus dan pembina DKM. Apa hendak dikata? 
 
Secara khusus, keputusan berjamaah dengan social distancing/physical distancing pun telah pernah dilakukan di masjid Salman ITB, sebagai bagian dari upaya - ijtihad menjaga keselamatan ummat.  Sebelum akhirnya Pembina dan Pengurus Masjid Salman memutuskan untuk lockdown: menghentikan sementara aktivitas di sekitar lingkungan masjid Salman ITB demi menghindari kemungkinan mudharat yang lebih besar. Lha, saya ada juga di sub-organ kecil di sana. Duh... 
 
Sejurus saya tergelitik untuk mencermati  Fiqih Shalat berjamaah dari literatur yang mashur ke-shahih-annya. 
Disebutkan dalam hadits Anas bin Malik, Rasulullah _Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
 
 سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ. 
“Luruskanlah barisan kalian, karena pelurusan barisan merupakan bagian dari penegakkan shalat.” (HR. Bukhari no. 723 dan HR. Muslim no. 433).
 
Para imam shalat yang mafhum dengan fiqih shalat jamaah biasanya dapat memilih ucapan sebelum shalat didirikan antara lain:
1. Sawuu shufuufakum, fainna taswiyatash shoffi min iqomatish sholaah “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk tegaknya sholat”. (HR. Bukhari).
atau:
2. Sawuu shufuufakum, fainna taswiyatash shoffi min tamaamish sholaah. "Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat”. (HR. Muslim)
 
Dengan demikian inti maknanya adalah perintah tegas untuk merapatkan dan meluruskan shaf dalam shalat berjamaah. Tiada peluang untuk renggang meski pun 5 (lima) 10 (sepuluh) centimeter, apalagi hingga 1 (satu) meter. 
 
Karena sesungguhnya menurut hemat saya, jika memang sudah tidak aman untuk shalat di masjid berkenaan dengan ancaman Wuhan Covid-19, maka ummat pun dipersilahkan bahkan diharuskan shalat di rumah saja yang dianggap paling aman. Ketentuan shalat berjamaah dengan shaf lurus dan rapat tetap tidak ditinggalkan sebagai rukun shalat.
 
Maka tidak perlu heran ketika belakangan hari-hari ini kita akan banyak mendengar adzan dikumandangkan dengan tambahan kalimat pembeda asbab situasi saat ini. 
 
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
 
إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ
“Apabila engkau selesai mengucapkan ‘ Asyhadu allaa ilaha illallah, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’ , maka janganlah engkau ucapkan ‘ Hayya ’alash sholaah’. Tetapi ucapkanlah    ‘ Sholluu fii buyutikum’   (Sholatlah di rumah-rumah kalian) .
 
Kumandang kalimat khas adzan ini menggiring muadzin  ketika pertamakalinya menyeru seraya terisak sendu, menyadari kehangatan masjid yang akan ditinggalkan dalam tempo yang entah berapa lama. 
 
Jika demikian, lantas, mengapa social distance merambah wilayah ketentuan dalam shalat berjamaah? Kendati demikian saya pribadi tetap menghormati upaya ijtihad yang semoga tetap mendulang pahala dari-Nya.
Sesungguhnya jika memang sudah tidak aman, maka shalat di rumah saja.
 
Berkenaan pemahaman tentang social distance, saya diingatkan secara tidak langsung oleh kolega saya, seorang kandidat doktor desain  komunikasi visual di ITB. 
 
Istilah social distance kadung sudah dipopulerkan di kalangan antropolog sejak 1966 oleh Edward T. Hall, dalam bukunya "The Hidden Dimensions". 
 
Pak Hall menggambarkan jarak antarpribadi manusia (jarak relatif antara manusia) ke dalam empat zona yang berbeda: 
(1). ruang intim (2). ruang pribadi (3). ruang sosial, dan (4). ruang publik.
 
Jarak di sekitar seseorang akan membentuk ruang. Ruang dalam jarak intim dan jarak pribadi disebut ruang pribadi . Ruang dalam jarak sosial dan jarak pribadi disebut ruang sosial. Dan terakhir, ruang dalam jarak publik disebut ruang publik.
 
Social distance berdasarkan pendapat pak Hall ini merujuk kepada konsep horizontal (antar manusia), yakni:
1. Intimate distance untuk merangkul, menyentuh atau berbisik. Fase dekat: kurang dari 1 cm hingga 2 cm, fase jauh: 15 cm hingga 46 cm)
2. Personal distance: untuk interaksi di antara teman baik atau keluarga. Fase dekat: 1,5 kaki sd. 2,5 kaki (sekitar 46 cm hingga 76 cm), fase jauh: 2,5 kaki sd. 4 kaki (76 cm hingga 122 cm). 
3. Social distance: Jarak sosial untuk interaksi di antara kenalan, fase dekat : 4 kaki sd. 7 kaki (1,2 meter hingga 2,1 meter), fase jauh : 7 kaki sd. 12 kaki (2,1 meter hingga 3,7 meter). 
4. Public distance Jarak publik yang digunakan untuk berbicara di depan umum. Fase dekat: 12 kaki sd. 25 kaki (3,7 meter hingga 7,6 meter).
 
Thus, andai kita sama-sama menyadari betapa jauh korelasi nya penerapan social distancing dengan ketentuan shalat berjamaah, saya mengajak, yuk, kita review lagu 'kiat kreatif' dalam menjaga iman dan imun.
 
Saya mengajak untuk mencoba juga menyelami ujaran Kang Eet Riswana, Ketua Masyarakat Industri Kayu Lestari (MIKAL), tokoh masyarakat santri di Tasikmalaya yang membagikan pandangannya dengan cukup mencerahkan:
 
Hawatos Indonesia, 
Hawatos urang Sunda, 
Hawatos ahli Masjid, (Kasihan orang Indonesia, kasihan orang Sunda, kasihan ahli masjid).
 
Dipaksa berperang tanpa kesiapan sarana kanggo perangna anu secara akal biologis,(Dipaksa berperang tanpa kesiapan sarana untuk perang berdasarkan akal. sehat). 
 
Mung sejarah mencatat umat Islam Indonesia teu weleh dipaparin pitulung Allah SWT ku cara 'ke Indonesia-an'. 
(Namun sejarah mencatat umat Islam Indonesia senantiasa diberikan pertolongan Allah SWT dengan cara khas Indonesia).
 
Perang ngalawan Belanda, Jepang, Sekutu, pesawat tempur tur senjata modern dilawan ku bambu runcing, takdir Allah SWT meunang (Perang melawan Belanda, Jepang dan Sekutu, pesawat tempur dan senjata modern dilawan oleh bambu runcing, dengan takdir Allah SWT toh meraih kemenangan). 
 
Umat Islam anu taat,
cara nganggo anggean, 
cara tuang
Adab upami nyarios sareng anu sanes
Adab upami udur
Adab ngajagi kabersihan lingkungan(Umat Islam yang taat, cara berpakaian, cara bersantap. Adab ketika berbicara dengan orang lain, adab ketika sakit, adab memelihara kebersihan lingkungan).
 
Adab ngajagi wudhu, upami batal wudhu deui, henteu wae bade sholat
(Adab menjaga bersuci, jika batal ber - wudhu lagi, bukan saja ketika hendak menunaikan shalat). 
 
Eta teh bio security(Itu adalah sistem keamanan bio/alami) 
 
Perang jaman kiwari nyaéta perang biologis.(Perang hari-hari ini adalah perang biologis)
 
Lawan na nyaéta bio security
(Lawannya adalah sistem keamanan bio/imun alami). 
 
Bismillah(Dengan menyebut asma Allah). 
 
Ku katangtosan Allah, umat muslim anu taat, anu ngajagi marwah kahormatan agami Allah SWT sareng Rasul-Na, 
(Atas kehendak Allah, ummat Muslim yang taat, yang menjaga marwah dan  kehormatan agama Allah SWT dan Rasul-Nya), 
 
Janji Allah, baris dipaparin perlindungan sinareng pitulung Allah SWT. (Janji Allah adalah akan dihadiahkan perlindungan dan pertolongan Allah SWT). 
 
Janji Allah Maha Benar. 
 
Teu weleh emut ka Allah dina unggal renghap napas teh:
Bio Security(Senantiasa mengingat Allah dalam setiap helaan nafas adalah: sistem keamanan bio/imunisasi alami).
 
Mari jaga iman untuk daya imun.
 
Bersambung esok hari, insya Allah. 
 
Kota Baru Parahyangan, Tengah Malam, 6 Syaban 1441 H. / 31 Maret 2020 M.

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Dr. Tendy Yulisca Ramadin S.Sn.,MT
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments