Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

MEMBANGUN KEPEMIMPINAN Oase Iman


 

Dunia semakin kompleks dan kompetisi juga semakin tajam antar ideologi dan kepentingan di masyarakat yang majemuk. Figur pemimpin perlu disiapkan oleh ummat Islam sebanyak-banyaknya dalam berlomba menuju kebaikan, astabiqul khoirot (Qs 2:148). Pemuda-pemuda tangguh perlu dibimbing dan dipersiapkan untuk menghadapi tantangan ke depan yang lebih berat. Beberapa karakter yang perlu ditanamkan adalah dengan meneladani karakter dan kepemimpinan Rasulullah SAW. 
 
Karakter pertama seorang pemimpin adalah memiliki ahlak yang luhur (Qs 68:4). Salah satunya adalah jujur, yakni berani hidup sesuai dengan kebenaran hukum. Tidak hanya hukum duniawi tapi juga mengikuti kebenaran akhirati dengan mentaati Kehendak-Nya. Rasulullah SAW sebagai uswah hasanah sejak awal mendapat julukan Al-Amin yakni orang yang bisa dipercaya. Beliau tidak pernah goyah oleh bujuk rayu dunia, karena ahlak ihsan senantiasa ada di dalam dada. Setiap perbuatan dilakukan dengan kesadaran seolah melihat Allah atau dilihat oleh-Nya. Pendirian tak akan goyah walaupun dirayu dengan iming-iming matahari diletakkan di tangan kanan dan bulan di tangan kiri. Ahlak luhur dalam melihat kebutuhan masyarakat telah beliau jalani sejak muda seperti ketika beliau terpilih sebagai pengangakat hajar aswad, symbol kemulyaan. Beliau menghamparkan selendangnya sehingga semua kepala kabilah juga bisa ikut berpartisipasi dalam mengangkat bersama-sama. Jabatan bukan tujuan tetapi jalan untuk berkontrbusi menegakkan tugas Ilahi, yang dipertanggung-jawabkan di dunia dan akhirat. 
 
Karakter kedua adalah fathonah, cerdik pandai dan cerdas sehingga bisa membaca situasi untuk mengambil keputusan yang tepat dalam membangun ummat. Beliau berjuang mulai dari seorang diri dengan mendekati orang-orang terdekatnya. Diawali dengan orang yang setia yakni istri beliau. Kemudian di kalangan pemuda di ajaknya Ali bin Abi Thalib, dari kalangan pemuda berilmu dilibatkan pula Abu Bakar, dari kalangan hartawan adalah Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Adapun dari kalangan orang berpengaruh didekati pula Hamzah serta ditambah dengan orang kuat dalam pengamanan kegiatan seperti Umar. Beliau juga mendekati anak-anak muda yang bersemangat seperti Arqom, Ibnu Mas’ud dan kawan-kawannya, bahkan sampa kepadai kalangan budak seperti Bilal. Dengan strategi cerdas itulah Rasulullah SAW memperkenalkan kebenaran dan bersama mereka membangun peradaban. 
 
Karakter ketiga adalah visioner, yakni mempunyai strategi jangka panjang untuk keberhasilan tugasnya. Rasulullah SAW menempatkan stretegi awal di Makkah dengan menanamkan pondasi keimanan sehingga mendatangkan berkah dari Allah berupa ikatan batin sesama ummat Islam. Strategi kedua adalah hijrah sebagai pembuka jalan menghidupkan dakwah dan berkembangnya kebenaran Islam. Strategi ketiga adalah membangun masyarakat Madinah yang sejahtera dalam naungan dynul Islam. Strategi keempat menanamkan kekuatan sehingga mampu bertahan dari dari serangan lawan. Strategi kelima secara bertahap mengembangkan potens dakwahi ke luar Madinah sehingga kebenaran semakin meluas. Strategi keenam merebut kemenangan di Makkah sebagai symbol perjuangan. Strategi ketujuh menanamkan keagungan alqur’an dan implementasinya di masyarakat kepada generasi penerus untuk kelanggengan perjuangan menegakkan dynul Islam.
 
Karakter keempat adalah berkeyakinan penuh bahwa pertolongan Allah pasti datang kepada siapapun yang membela agama-Nya (QS 47). Walaupun demikian Rasulullah SAW juga memahami bahwa ikhtiar secara manusiawi adalah kewajiban yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Seorang pemimpin sejati tidak cengeng dalam menghadapi tantangan walaupun berat menjalaninya. Ketika dikepung hendak dibunuh oleh gabungan dua belas kabilah yang bermukim di Makkah, beliau meloloskan diri bersama Abu Bakar untuk menuju Madinah. Beliau mengecoh pengejarnya dengan menginap di Gua Tsur, walau sangat dekat dengan musuh, beliau tetap yakin bahwa Allah senantiasa mendampingi perjuangan hamba-Nya (Qs 9:40). Demikian pula ketika perang Badar, yang di luar skenario harus menghadapi pasukan Quraisy yang kekuatannya tiga kali lipat ummat islam, Rasulullah SAW menguatkan doa agar Allah berkehendak memenangkan kebenaran terhadap kebatilan (Qs 8:42-44).
 
Karakter kelima adalah sabar. Walaupun mendapat perlakuan yang keji dan kasar Rasulullah SAW terus berbuat baik dalam jalan kebenaran. Bahkan keadaan tertekan justru beliau semakin menunjukkan jiwa kesabaran. Ketika seorang Yahudi berusaha mempermalukan dengan menagih hutang beliau di depan umum, beliau tetap sabar. Pembelaan Umar kepada beliau juga tidak diperkenankan: ‘Biarkan dia menjalankan haknya’. Bahkan beliau beliau membayar hutangnya lebih besar sebagai kompensasi  ketakutan orang Yahudi tersebut kepada Umar. Kesabaran itu pulalah yang kemudian menjadikan Yahudi berbalik mendukung perjuangan Rasulullah SAW.
 
Karakter keenam adalah mempunyai syifat syukur. Rasulullah SAW senantiasa bersyukur atas potensi yang diberi oleh Allah. Shalat adalah salah satu potensi besar yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Dzat Yang Maha Berkuasa, Maha-Kuat, Maha-Adil dan Bijaksana sehingga beliau shalat sampai kakinya bengkak. Shalat juga sebagai sarana meminta pertolongan dan menjaga ketenangan dalam menghadapi berbagai keadaan(Qs 2:45 dan 153). Shalat berjamaah juga menjadi sarana untuk menegakkan ukhuwah. Waktu-waktu setelah sholat menjadi sarana komunikasi dengan para sahabat. Beliau juga mensyukuri Al-Qur’an sebagai sumber hukum untuk menjalani kehidupan dan mengajarkannya kepada para sahabat dengan sebaik-baiknya. Al-Qur’an mengajarkan semua aspek kehidupan dengan sangat baik sehingga semua ummat Islam bisa mensyukurinya dan menjadi sarana bertambahnya nikmat kepada ummat Islam (Qs 14:7). Kepahaman ummat terhadap Al-Qur’an akan berdampak kepada meningkatnya iman sebagai kekuatan spiritual ummat.
 
Karakter ketujuh adalah hidup sederhana. Kehidupan sehari-hari Rasulullah SAW sangat sederhana. Dalam memimpin ummat beliau menjalankannya dari masjid dan tidak pernah memiliki tempat khusus. Pernah umar bin Khattab menangis menjumpai Rasulullah SAW yang terlihat bekas guratan-guratan di pipi beliau selepas tidur beralaskan anyaman daun kurma. Tapi Rasulullah SAW malah berkata: ‘Apa urusanku dengan dunia?’ Ketika Fatimah putri beliau meminta pembantu untuk menjalani kehidupan sehari-hari malah Rasulullah SAW mengajarjarkan dzikir sebagai gantinya. bahkan beliau juga tidak meninggalkan harta kepada keluarganya. Sikap ini perlu ditanamkan kepada pemimpin jaman sekarang karena jabatan pemimpin  adalah amanah bukan keinginan pribadi. Hal ini untuk menghindari praktek sponsor masa kampanye yang di kemudian hari meminta tebusan berupa keputusan-keputusan pemerintah yang berpihak kepada bisnis mereka.
 
Karakter kedelapan menegakkan keputusan bersama secara musyawarah. Rasulullah SAW dalam perang Ahzab menengarkan masukan dari  para sahabat, termasuk dari Salman Al-Farisi yang mengusulkan pembuatan pertahanan parit. Demikian pula saat akan menghadapi perang Uhud keputusan untuk menyongsong musuh di Uhud adalah dari masukan para sahabat, walau sebenarnya beliau lebih menghendaki perang di dekat kota. Ketika sudah diputuskan ada beberapa sahabat yang mendatangi beliau untuk mengubah keputusan, tapi beliau tetap mempertahankan keputusan majelis. Contoh lain adalah dalam menjaga konsistensi pelaksanaan perjanjian Piagam Madinah Rasulullah SAW juga mengambil keputsan tegas kepada pelanggar perjanjian bersama. Hal ini terjadi pada  kabilah Bani Nadir dan Bani Qainuqa yang terusir dari Madinah disebabkan pelanggaran mereka. 
 
Sifat kesembilan adalah ikut terjun dalam operasional program.  Rasulullah SAW senantiasa terlibat dalam pelaksanaan keputusan yang diambil. Beliau sendiri menjani tugas incognito, menjadi teiik sandi mencari informasi kekuatan musuh saat perang Badar. Dalam menggali parit di perang Ahzab beliau juga ikut menggali pasir walau dalam keadaan lapar. Banyak pula peperangan yang langsung dipimpin oleh Rasulullah SAW. Bahkan dalam urusan sederhana seperti saat dalam gotong-royong bekerja sama Rasulullah SAW tidak tinggal diam, beliau pernah hanya menjalani tugas sebagai pengumpul kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan bersama.
 
Sifat kesepuluh adalah sebagai Pengambil Keputusan yang adil dan qisty. Sebagai pemimpin Rasulullah SAW melakukan keputusan-keputusan seperti dalam pembagian air, pembagian ghanimah, juga mengambil keputusan untuk menghukum orang yang berzina. Semua dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan mengikuti ketentuan Al-Qur’an sebagai sumber hukum ummat Islam. Keputusan adil  adalah sesuai dengan konteks, situasi dan kondisi. Adapun sifat qisty adalah senantiasa berusaha untuk mengambil keputusan yang akan memuaskan semua pihak secara proporsional. Hal ini bisa dilakukan bila pemimpin dibekali dengan ilmu dan wawasan yang luas serta mempunyai kepekaan terhadap masalah yang dihadapi oleh rakyatnya.
 
Sifat kesebelas adalah istiqomah, Rasulullah SAW sebagai penerima wahyu beliau menjalaninya dengan konsisten dan  istiqomah dalam ketaatan kepada perintah Allah (Qs 11:112). Wahyu-wahyu yang turun berkesinambungan senantiasa dijalankan sebagai suatu kesatuan yang terstruktur. Semakin lama tentu saja semakin banya hukum dan aturan sehingga membuat semakin kompleks menjalaninya. Kedaan ini sekaligus menjadi sarana ujian dalam pengimplementasian ayat-ayat Allah yang juga melibatkan para sahabat. Keistiqomahan Ini juga merupakan laboratorium penggemblengan jiwa kepemimpinan dan sarana seleksi  terhadap ketaatan, terutama dalam menjalani perintah berat seperti jihad fisabilillah (Qs 9:38-39). Dengan cara inilah akan tersingkir sesiapa yang mempunyai sifat munafik dan sebaliknya akan muncul pemimpin-pemimpin yang berkualitas untuk membangun kejayaan Islam.
 
Demikianlah karakter pemimpin agung yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat. Ini bisa menjadi pedoman untuk pembentukan pemimpin-pemimpin  Indonesia yang berkualitas di mana ummat Islam sebagai tuan rumah di tanah airnya. Pemimpin yang berhasil adalah mengetahui karakter yang dipimpinnya serta mencintai dan dicintai oleh rakyatnya. Fungsi pemimpin tidak hanya untuk mencapai kesejahteraan duniawi tapi berperan pula dalam membawa rakyatnya menuju keselamatan dunia dan akhirat. Gambaran karakter pemimpin ideal tersebut juga sebagai panduan bagi setiap orang yang hendak memilih pemimpinnya di segala lini kehidupan. Semoga Allah memudahkan ummat Islam untuk mewujudkan visi rahmatan lil alamin di bumi Indonesia ini. Aamiin.

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Ir. Mei Sutrisno, M.Sc, Ph.D.
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments