Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

PEMINDAHAN IBU KOTA UNTUK SIAPA ? Nasional


 

Mei Sutrisno Ph.D

Mendekati akhir Maret 2021 muncul berita bahwa RUU pemindahan ibu kota akan dikebut. Miris mendengar rencana tersebut. Bisa dibayangkan dengan suasana  Covid yang belum tuntas. Laju ekonomi yang terus menurun justru Pemerintah akan merencanakan hutang ratusan trilyun untuk pemindahan ibu kota yang belum jelas manfaatnya, ini untuk apa dan untuk siapa? Rencana sebesar itu perlu ditelaah oleh seluruh anak bangsa, bukan oleh segelintir orang yang sedang menduduki tempat terhormat yang semu. Mari kita coba lihat tangga kebutuhan Indonesia untuk maju dengan akal yang sehat.

Dalam sejarah kemajuan suatu bangsa dan negara selalu dimulai dari gerak pemikiran dan pembangunan sumber daya manusianya, bukan dari pembangunan fisik. Ini adalah hal paling fundamental yang perlu menjadi acuan. Sehingga investasi besar Indonesia saat ini dengan nilai lebih dari 400 trilyun paling layak adalah bidang pembangunan sumberdaya manusia berkualitas. Sejarah kemajuan Yunani di era tahun 500 SM adalah didorong oleh kemajuan Athena sebagai pusat ilmu pengetahuan. Demikian pula Eropa yang tumbuh akibat Gerakan Renessaince yang didorong Gerakan Averoisme yang digagas Ibnu Rusyd seorang ilmuwan Islam Andalusia. Jejak sejarah cahaya Islam membangkitkan Eropa tak bisa dipungkiri. Kemajuan sains dan teknologi juga didorong oleh para ilmuwan Islam seperti Al Kahawarismy, Ibnu Sina dan lain-lain. Dan hal ini diteruskan ke Amerika Serikat akibat banyaknya ilmuwan dan tehnokrat yang pidah ke sana.

Era perkembangan berikutnya adalah didorong oleh kemajuan industri, ini bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi Eropa yang bergerak cepat ketika mesin uap telah ditemukan. Ini terus bergerak cepat menumbuhkan industri baik di Eropa, Jepang dan juga Cina. Sangat perlu introspeksi bahwa Indonesia saat ini belum mempunyai industry andalan yang menjadi komoditi ekspor. Thailand mempunyai andalan industri produk pertanian padahal Indonesia dengan sumber daya alamnya sangat mampu menandinginya. Kasus oknum mengekspor benur ke Vietnam dan tidak ingin membudidayakannya di Indonesia menunjukkan semangat membangun industry sederhana saja masih terasa kurang. Jadi terobosan industry pilihan sebagai basic economy sebagai lanjutan kemampuan sumber daya manusia sangat layak mendapat prioritas investasi besar darpada memindahkan ibu kota.

Orang banyak terkesima dengan hasil infrastruktur fisik, sebagai produk ‘hard infrastructure’ tetapi lupa dengan ‘soft infrastructure’ yakni kekuatan ideology dan semangat nasionalisme bangsa. Ketika Jepang terkena bom atom pada tahun 1945, bisa segera bangkit sehingga di tahun 1979 yang geliat ekonominya menandingi Amerika yang berjaya saat itu. Kekuatan mental bushido menjadi senjata andalan menanamkan kerja keras yang berbasis nasionalisme. Demikian juga Korea dan Cina maju pesat akibat kekuatan mental bangsanya. Jangan lupa, semangat juang bangsa Indonesia pada era awal abad 20 dengan berdirinya Sarikat Islam sebagai produk Pendidikan Pesantren hasil uzlah para ulama pernah menggerakkan semangat kebangsaan. Pergerakan ini kemudian dilanjutkan oleh berdirinya partai-partai politik yang menumbuhkan semangat kemerdekaan. Sebaliknya kehancuran Islam di Spanyol dan dinasti Utsamni di Turki adalah akibat menurunnya soft infrastructure di era kejayaan mereka yang ditandai oleh melemahnya semangat  juang pemudanya. Inilah yang wajib diwaspadai oleh bangsa Indonesia akibat serangan budaya ‘tik tok’ yang berpoensi melemahkan jiwa juang pemudanya. Maka investasi pembangunan ‘soft infrastructure’ sebagai penggerak mental bangsa juga perlu mendapat prioritas.

Semua masih ingat lolosnya usulan RUU HIP tahun lalu di era pandemic juga menunjukkan lemahnya semangat Pancasila ‘garis lurus’ dalam rencana system pembentukan perundangan di Indonesia. Hal yang seperti ini seharusnya tidak terulang kembali pada kasus pembentukan RUU Pemindahan Ibu Kota. Kajian Pemindahan Ibu Kota lebih layak dikaji dari berbagai disiplin ilmu oleh ahli-ahli di Perguruan Tinggi  yang menjadi naskah akademik handal sebelum menjadi produk politik. Investasi besar jangka panjang yang kurang dikaji secara mendalam sangat rentan keberhasilannya dari sisi ‘political risk’. Inilah salah satu kelemahan besar Indonesia yang belum bisa melahirkan Rencana Jangka Panjang NKRI yang komprehensif. Sangat disayangkan bila investasi besar akan kandas tanpa hasil memuaskan untuk kemajuan anak bangsa akibat kurang telaah. Semoga Allah membimbing jiwa anak bangsa yang patriotik tergugah untuk memikirkan Indonesia ke depan yang jauh dari kepentingan sesaat. Aamiin

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Ir. Mei Sutrisno, M.Sc, Ph.D.
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...

 


Comments

Donasi