TERHADAP KOMUNISME - KERJASAMA ATAU WASPADA Nasional

Mei Sutrisno Ph.D
Ungkapan rasa simpatinya kepada Partai Komunis Tiongkok, adalah sinyal yang perlu ditangkap, diteliti dan dikoreksi agar jangan mengarah kepada wawasan kebangsaan yang salah lagi dan salah lagi. Tragedi komunisme sudah pernah terjadi di negeri ini, maka ‘sudahlah’ jangan lagi diulangi. Untuk itu semua rakyat Indonesia perlu menyegarkan kembali ingatan tentang bagaimana karakter komunisme agar sensitifitas dan kewaspadaan lebih terjaga.
Paham komunis bermula ketika Karl Max, seorang Yahudi Jerman menyampaikan ideologinya ‘Manifest der Kommunistischen’ atau juga dikenal dengan manifesto politik. Marx berkeinginan mewujudkan masyarakat sosialisme tanpa kelas sebagai perlawanan terhadap Kapitalisme. Propaganda komunis dengan ide pemerataan ekonomi mudah diterima oleh masyarakat yang mempunyai jurang sosial yang lebar antara yang kaya dan miskin. Lebih dari itu Marx tidak hanya memusuhi para kapitalist tapi juga anti agama dengan mengatakan agama adalah candu. Ia menghargai kerja dan kerja serta menganggap berdoa adalah perbuatan tidak produktif dan sia-sia.
Ide Marx kemudian diadopsi oleh Lenin yang melahirkan Marxisme-Leninisme sebagai aliran politik berhaluan keras di Rusia. Lenin dan partai Bolshevik berhasil menggulingkan kekuasaan kekaisaran Rusia dalam revolusi Oktober 1917. Tsar Rusia terakhir, Nicholas II bersama seluruh keluarganya dibunuh. Kemudian Rusia menjadi negara republik komunis pertama. Maka jadilah komunisme menjadi wadah politik bagi orang-orang atheis-sosialis-revolusioner, berhaluan keras dalam mencapai kekuasaan. Keberhasilan tersebut Rusia memperbesar pengaruhnya ke negeri sekitar sehingga pada tahun 1922 terbentuklah Uni Soviet yang akhirnya runtuh tahun 1991.
Mengikuti langkah Rusia, Chen Duxiu dan Li Dazhao mendirikan Partai Komunis Tiongkok pada tahun 1921. Ketika itu adalah satu dasawarsa pasca berdirinya Republik Tiongkok setelah Revolusi Xinhai menggulingkan Dinasti Qing pada tahun 1911. Sun Yat Sen sebagai presiden pertama memimpin negara dengan kondisi yang masih labil, mengalami beberapa pergolakan politik. Tahun 1926 Sun Yat Sen meninggal, Chiang Kai Shek dari kelompok tentara nasionalis Kuomintang diangkat menjadi presiden. Pada tahun itu kelompok komunis ikut bergabung membantu tentara nasionalis dalam ekspedisi militer ke utara.
Tahun 1927 persekutuan nasionalis – komunis berakhir akibat persaingan. Komunis yang dipimpin oleh Mao Zedong mengambil jalan perlawanan sehingga terjadi perang saudara pertama, mereka mengambil kesempatan saat negara dalam kesulitan. Akibatnya, Chiang Kai Shek sebagai presiden dihadapkan pada tiga masalah besar, yaitu invasi Jepang, perlawanan komunis, dan juga membelotnya sekelompok pimpinan militer. Disamping itu, komunis terus melakukan propaganda kepada rakyat Cina dan akhirnya berhasil mendapat dukungan dari kelompok petani. Akhirnya, pada akhir perang saudara kedua, tahun 1949 komunis dibawah Mao Zedong berhasil mengusir pemerintahan nasionalis Kuomintang dari daratan Tiongkok. Chiang Kai Shek bersama pengikutnya lari ke Taiwan dengan tetap mempertahankan bendera Republik Tiongkok. Adapun Mao dan Partai Komunis Tiongkok kemudian mendirikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Sejarah mencatat dalam rangka membangun otoritarianisme komunis Cina, korban tewas akibat perang saudara, pada perioda I, tahun1927 tercatat sebanyak 1,8 juta jiwa dan pada perioda II, tahun 1949 sebanyak 3,5 juta jiwa (Valentino, B.A. Final solutions: Mass killing and Genocide in the Twentieth Century Cornell University Press. December 8, 2005. p88). Jutaan korban jiwa tersebut adalah monumen hitam dunia yang perlu diantisipasi agar tidak terjadi lagi, di muka bumi ini.
Perioda awal jadi presiden Mao meluncurkan program ‘Lompatan Kemajuan Besar’ yang mempekerjakan rakyat dengan keras di dunia industri baja, dan tercatat 10 juta rakyat tewas akibat kelelahan. Setelah Program tersebut gagal, kemudian Mao meluncurkan program ‘Revolusi Kebudayaan’ pada tahun 1966, bahkan dilakukan dengan gaya semakin otoriter. Semua rakyat harus tunduk kepada perintah Mao. Untuk menjalankan program ini Mao membentuk pasukan Garda Merah yang mengawal program ini secara represif. Umat Islam tidak diberi hak ibadah dengan layak, mereka menutup masjid-masjid, memusnahkan Al-Qur’an, ibadah haji ditiadakan dan semua symbol-simbol Islam dilarang. Para cendekiawan yang membangkang dipenjara tanpa diadili. Dalam kurun 1966-1976 diperkirakan dua juta rakyat Cina meninggal menjadi korban dari program ini.
Setelah Mao meninggal tahun 1976, gaya otoriter dilanjutkan oleh pengganti-penggantinya. Pada tahun 1989 terjadi peristiwa Tiananmen yaitu pembunuhan masal kepada mahasiswa dan peserta unjuk rasa lainnya yang mengkritisi Pemerintah Cina. Korban jiwa yang dinyatakan oleh Pemerintah Cina hanya sebanyak 200 orang sipil dan beberapa lusin aparat keamanan. Namun menurut dokumen Kedubes Inggris, Sir Alan Donald, menyatakan bahwa jumlah korban meninggal sekitar 10.000 orang. Perioda selanjutnya, Cina mulai membuka diri dalam kebijakan politik-ekonomi terhadap dunia luar sehingga kemajuan ekonomi mulai terlihat. Namun perlakuan buruk terhadap umat beragama masih terjadi, di antaranya adalah kekerasan terhadap minoritas muslim etnis Uighur di provinsi Xinjiang. Hal iini wajar karena kekuasaan tertinggi negara adalah di tangan penguasa partai yang terdiri orang-orang atheis, karena salah satu syarat untuk menjadi anggota Partai Komunis Cina adalah atheis.
Setelah melihat karakter komunisme Rusia dan Cina, tentu bangsa Indonesia bisa melihat benang merah dengan rekam jejak Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memberontak pada tahun 1948 dan 1965. Itulah cara-cara komunis untuk mengambil kekuasaan dengan cara paksa sehingga mengakibatkan banyak korban tewas atau menderita. Untuk itu bangsa Indonesia, terutama ummat Islam harus sangat waspada dalam melakukan kegiatan sosial, ekonomi dan politiknya jangan mudah disusupi oleh propaganda komunisme dengan wajah iming-iming pemerataan ekonomi, tapi berujung pada tirani. Walaupun nama komunis itu tidak hadir, tapi sifat-sifatnya harus terus dikenali seperti gaya otoriter, kekerasan terhadap agama terutama Islam, mendorong pertentangan dan pergolakan klas masyarakat. Semua anak bangsa perlu berkonsolidasi untuk membendung tumbuhnya bibit komunisme dalam segala bentuknya agar sejarah kelam tidak terulang.
Saat ini banyak yang silau melihat kemajuan ekonomi RRT dan berpandangan sempit menganggap itu adalah buah dari paham komunisme mereka. Padahal bila dicermati jauh lebih banyak lagi negara-negara di dunia ini yang maju dan rakyatnya sejahtera tanpa komunisme. Sebaliknya Indonesia harus alergi terhadap strategi otoriter gaya Cina yang rela mengorbankan rakyat sendiri. Komunisme bak tiran petinggi partai yang berkuasa membawahi rakyat biasa yang menderita. Strategi OBOR bisa jadi meniru awal ekspansi komunisme Rusia ke wilayah sekitarnya membentuk Uni Soviet, yang akhirnya runtuh. Adapun kemajuan ekonomi Cina bukanlah buah dari komunisme, tapi karena strategi peningkatan kualitas SDM, industrialisasi dan keterbukaan pasar internasional mereka. Bangsa Indonesia yang berpegang pada landasan agama dan berbudaya luhur, tentu bisa memilih jalan kebenaran agar tidak menjadi korban ekspansi komunisme Cina.
Setiap negara punya karakter berbeda, termasuk Indonesia. Tegaknya keadilan politik, ekonomi dan sosial dalam wadah ideologi Pancasila yang dilaksanakan secara riil, murni dan konsekwen adalah jati diri bangsa Indonesia. Semoga Allah menunjukan bangsa Indonesia ke jalan yang benar, dikuatkan oleh-Nya persatuan seluruh rakyat dalam kebaikan sehingga terbentuk negara aman dan sejahtera lahir dan batin seperti yang dicita-citakan dalam Pembukaan UUD 1945. Aamiin.
*********************************************************************
Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION
Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)
Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)
Hubungi Hot Line Kami
Di 081 12345 741
Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30
#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation
#ANNASINDONESIA
Dikutip dari : -
Penulis : Ir. Mei Sutrisno, M.Sc, Ph.D.
Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share. Lets change the world together saudaraku !...


1048 
Comments