RESONANSI HIJRAH MASA KINI Nasional

Mei Sutrisno Ph.D
Hijrah adalah gerak penyelamatan peradaban manusia. Islam datang mengubah tujuan hidup manusia dari orientasi duniawi jahiliyah menjadi hidup dalam kesejahteraan dua dimensi Islami. Pada dimensi spiritual, tujuan hidup adalah untuk mengenal Rabb-nya dan menjadi khalifah-Nya serta mengabdi kepada-Nya, adapun pada dimensi kemanusiaan adalah untuk mencapai kebahagiaan bersama saling tolong dan menyayangi sehingga tercipta suasana rahmatan lil-alamin secara duniawi dan akhirati. Itulah peradaban luhur Islam yang perlu dihidupkan sepanjang zaman.
Kebenaran Islam yang dibawa oleh Rasullah SAW sebenarnya telah diakui secara akal oleh mayarakat Quraisy. Namun para pembesar menolaknya, karena telah menikmati tradisi berkuasa atas rakyatnya. Tauhid dengan ketaatan total kepada Allah dengan teladan Rasul-Nya akan menurunkan kepatuhan rakyat kepada pembesar mereka. Imbalan kekuasaan duniawi sebagai ‘win-win solution’ pun ditolak oleh Rasulullah SAW, akhirnya mereka melakukan agitasi dan ancaman. Penyelamatan terhadap ideologi Islam dengan hjirah pun terjadi atas izin-Nya. Itulah latar belakang sejarah. Sudah lama berlalu, namun perlawanan terhadap Islam senantiasa terulang yang dilakukan oleh neo-Quraisy masa kini, bahkan mungkin sepanjang zaman. Wajib bagi Ummat Islam mempelajari, meresonansi dan menghidupkan gerak hijrah yang senantiasa dibutuhkan.
Konsep hijrah, yang pertama adalah menanamkan kesadaran bahwa nilai luhur peradaban Islam ini perlu dijaga dan dikembangkan. Modal awal menjalaninya adalah niat ikhlas yang disertai dengan kesabaaran dalam menjalani dan menghadapi segala tantangan. Optimisme atas keberhasilan perlu tertanam dalam keyakinan sesuai firman-Nya bahwa Allah senantiasa bersama orang yang membela agama-Nya (Qs 47:7; 9:40).
Konsep kedua adalah strategi seleksi arah dan tempat hijrah. Survey langsung ke beberapa wilayah dan pengujian kualitatif terhadap karakter komunitas yang diharapkan. Akhirnya sampailah pada pilihan kepada masyarakat Madinah setelah mememenuhi syarat dalam Bai’atul Aqobah I, yang intinya adalah: (1) pengakuan terhadap agama Islam dan kepemimpinan nabi Muhammad SAW; (2) ketaatan untuk tidak berbuat: syirik, mencuri, berzina, membunuh anak mereka, menuduh orang lain, dan (3) tidak menentang Rasulullah SAW. Adapun Bai’atul Aqobah II mensyaratkan: (1) taat dalam keadaan semangat maupun lemah, (2) bersedia berinfak dalam keadaan sempit dan lapang, (3) melakukan amar ma’ruf nahi munkar, (4) berani berdakwah, (5) tidak takut kepada pencela ketika berjuang di jalan Allah, dan (6) siap melindungi Nabi Muhammad SAW sebagaimana melindungi para wanita dan anak sendiri.
Strategi seleksi ini memberikan inspirasi terhadap pembentukan kualitas komunitas yang relevan masa kini, yakni: (1) kehadiran pemimpin berahlak Islami yang kuat, dakui dan dicintai oleh mayoritas ummat Islam; (2) generasi yang bertauhid dan berahlak qur’ani yang senantiasa berkomitmen terhadap syariat dan pengembangan dakwah dalam keadaan lapang dan susah; (3) bersatu padu dalam ukhuwah Islamiyyah sehingga terbentuk jiwa pembelaan terhadap: agama, pemimpin, ulama dan ummat seperti keluarga sendiri.
Konsep ketiga, kehadiran Islam ketika hijrah harus bermanfaat kepada ‘stakeholders’ dan lingkungannya. Inilah harapan masyarakat Madinah terhadap kepemimpinan Rasulullah SAW dan keadilan Islam untuk menyelesaiakan pertikaian yang telah lama antara suku Aus dan Khozroj. Ternyata kehadiran Islam memberikan manfaat jauh lebih baik dari harapan mereka, karena ajaran Islam juga menjamin hidup sejahtera lahir batin di dunia dan kekal sampai akhirat.
Konsep keempat, hijrah yang esensinya adalah untuk membangun peradaban Islam, membutuhkan keberanian dan pengorbanan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka rela meninggalkan kesenangan duniawi seperti tempat tinggal, harta dan sebagian keluarganya untuk memperoleh hidup tenang beribadah secara islami. Pengorbanan kenikmatan duniawi adalah keniscayaan untuk merebut kebahagiaan kekal akhirati yang kualitasnya jauh lebih besar daripada nikmat duniawi.
Konsep kelima, strategi hijrah yang terbagi dalam tiga tahapan yakni: persiapan, proses perjalanan, program pasca hijrah. (1) Persiapan hijrah: diawali dengan memahami permasalahan, survey dan perencanaan yang meilbatkan seluruh sahabat dan Rasulullah SAW. (2) Proses perjalanan hijrah: berangkat dengan kepahaman ruang jelajah bersama penunjuk arah, pengaburan jejak jelajah dengan route awal yang berlawanan, penghapusan jejak melalui domba gembalaan, menginap di gua Tsur untuk melengahkan lawan, route zig zag perjalanan, dan meminimalkan bekal bawaan dengan memanfaatkan lingkungan perjalanan. (3) Program pasca hijrah: persaudaraan ummat, kesepakatan masyarakat seluruh kota melalui Piagam Madinah, penguatan pertahanan dan perluasan ruang dakwah.
Dengan memahami lima konsep hijrah dan mempraktekannya untuk kondisi masa kini, atas ridlo-Nya niscaya ummat Islam akan bangkit mencapai kejayaan dan kesejahteraan lahir batin bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga Allah memberikan hidayah dan kekuatan serta kesabaran kepada ummat Islam sehingga mampu meresonansi konsep gerak hijrah untuk keberhasilan hidup dunia-akhirat. Aamiin.
*********************************************************************
Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION
Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)
Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)
Hubungi Hot Line Kami
Di 081 12345 741
Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30
#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation
#ANNASINDONESIA
Dikutip dari : -
Penulis : Ir. Mei Sutrisno, M.Sc, Ph.D.
Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share. Lets change the world together saudaraku !...


981 
Comments