Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

PEMURNIAN KHITTAH KEMERDEKAAN Nasional


 

Mei Sutrisno, Ph.D

Tinggal 24 tahun lagi usia 100 tahun kemerdekaan Indonesia yang diharapkan memasuki era keemasannya. Namun bangsa Indonesia tak boleh lupa bahwa parameter nilai keemasan tersebut hendaknya sesuai dengan latar belakang, cita-cita dan khittah kemerdekaan 17-8-1945.  Untuk itu perlu mempelajari tiga poin penting dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945

Pertama, latar belakang kemerdekaan terdapat pada Alinea 1, 2 dan 3 yang kesimpulannya pada ayat 3: “Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Latar belakang ini menunjukkan bahwa founding fathers bangsa telah mencermati bahwa bangsa Indonesia mempunyai karakter agamis. Perjuangan mengusir penjajah ini didorong oleh keinginan luhur, yakni hidup bebas menjalani agamanya untuk tujuan akhirati, tanpa meninggalkan nikmat duniawi (Qs 28:77). Berkat Rahmat-Nya kemerdekaaan itu terjadi, sebagai nikmat yang harus disyukuri dengan cara senantiasa memperjuangkan pencapaian cita-citanya. Dengan syukur itulah Allah akan menambah nikmat-Nya, sebaliknya bila tidak bersyukur Allah akan menimpakan azab-Nya (Qs 14:7). 

Kedua, cita-cita kemederkaan dinyatakan dalam alinea ke empat: “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang (a) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan (b) untuk memajukan kesejahteraan umum, (c) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (d) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial’. Untuk mencapainya kebijakan dan program negara seyogyanya difokuskan untuk mencapai keempat tujuan tersebut sesuai urutan prioritasnya

Ketiga, khittah atau cara pencapaian cita-cita kemerdekaan dinyatakan dalam lanjutan alinea ke empat: “maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada (1) Ketuhanan Yang Maha Esa, (2) kemanusiaan yang adil dan beradab, (3) persatuan Indonesia, dan (4) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu (5) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia." Dalam pernyataan tersebut khittah bangsa Indonesia adalah melalui hidup bernegara berbentuk republik yang berkedaulatan rakyat dengan dasar Pancasila. Kedaulatan rakyat bermakna bahwa rakyat memegang hak kekuasaan tertinggi yang disalurkan melalui wakilnya dalam trias politica. Orang-orang yang duduk dalam eksekutif, legislatif dan yudikatif adalah mengemban amanat rakyat. 

Pancasila adalah pondasi khittah bangsa Indonesia yang menjadi bukti sejarah. Format pertama yang diusulkan secara resmi adalah dalam format Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluknya. Hal ini sesuai latar belakang perjuangan kemerdekaan yang kontribusi terbesar dilakukan oleh ummat islam. Tentu saja tanpa mengabaikan peran ummat lain. Penghargaan terhadap peran nonmuslim ini terbukti ketika format penulisan Pancasila diubah dengan format 18 Agustus 1945, pemimpin-pemimpin ummat Islam saat itu menerima. Hal yang tak boleh dilupakan adalah adanya catatan pernyataan Bung Karno bahwa Piagam Jakarta tetap menjiwai Pembukaan UUD-1945. 

Namun beberapa tahun terakhir ini, ketenangan hidup umat Islam sebagai mayoritas acapkali terganggu oleh nuansa islamophobia di negaranya sendiri. Beberapa kontroversi seperti isu radikalisme, kerjasama luar negeri dengan negara-negara yang cenderung memusuhi Islam, besarnya utang riba luar negeri yang menyengsarakan, cacatnya penegakkan hukum, dan TWK di institusi KPK serta kejanggalan eksistensi BPIP. Semua itu perlu dianalisa penyebab keberadaanya untuk diluruskan sesuai khittah kemerdekaan yang disepakati bersama. 

Ummat Islam sebagai kelompok mayoritas yang peduli pada kehidupan akhirat, perlu sadar dan bersatu. Peran ummat Islam sangat diharapkan untuk bisa menegakkan khittah kemerdekaan yang menaungi keamanan dan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia dengan membawa keadilan ajaran Islam.  Semoga Allah membimbing bangsa Indonesia ke jalan kebenaran yang diridloi-Nya. Aamiin.
 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Ir. Mei Sutrisno, M.Sc, Ph.D.
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...

 


Comments

Donasi