SIKAP MU'MIN DALAM MEMPOSISIKAN DIRINYA DITENGAH BERKECAMUKNYA PEPERANGAN ANTARA IRAN VS ISRAEL & AS Beranda ANNAS

Mengalir sangat deras sekali ke dalam HP saya berbagai pertanyaan berkait perang yang sedang berkecamuk antara Iran di satu pihak dan Israel serta Amerika di pihak yang lain. Pertanyaan semua fokus pada bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai umat Islam. Apakah kita bersikap netral atau bolehkah kita berpihak?
Tentu saja tidak mudah memberikan pemahaman sikap apa yang harus diambil oleh seorang Muslim karena masalah ini menyentuh wilayah yang sangat sensitif sekali, akidah di satu sisi dan realitas geopolitik yang komplek di sisi yang lain.
Secara akidah dan syariah, Islam jelas memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan syiah. Bahkan benang pemisah antara hak dan yang batil di antara keduanya sangat-sangat jelas sekali, seperti jelasnya siang dan malam, hitam dan putih.
Secara siasah, para ulama, para fukaha menetapkan prinsip ta'awun muqayyan. Kerjasama terbatas dengan siapapun tanpa melihat agama dan keyakinan seseorang. Tentunya dengan syarat selama tidak berdampak kepada pembenaran akidah syariat tertentu seperti syiah yang nyata-nyata bertentangan dengan akidah dan syariat Islam.
Allah SWT berfirman, Bertolong-tolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan pernah bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan.
Perbedaan akidah tidak usah menghalangi keberpihakan dalam nilai-nilai kemanusiaan. Allah mengajarkan kita prinsip yang sangat mendasar ini.
Lihatlah bagaimana Allah memperlakukan orang-orang kafir kendati mereka nyata-nyata mengkufuri Allah SWT dan menolak syariatnya yang membuat Allah bukan hanya saja tidak ar-Rahim, maha Penyayang pada mereka, bahkan Allah sangat maghdu bi'alayhim, sangat murka pada mereka.
Namun karena Allah SWT adalah Rabbul Alamin, Tuhan seluruh alam semesta termasuk Tuhan yang orang kafir, maka Allah tetap saja Ar-Rahman, Maha Pengasih, untuk memenuhi hak mereka di dunia.
Sekali lagi hak mereka selama hidup di dunia.
Karenanya ketika terjadi perang antara Roma dan Persia di zaman Rasulullah SAW, umat Islam sangat sedih. Karena tadinya... Mereka berharap bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh orang Roma. Kendati kedua luar pihak adalah orang-orang kafir di mata Allah, tetapi umat Islam lebih dekat kepada orang-orang Roma yang kafir kitabi ketimbang orang Persia yang saat itu menyembah api.
Sikap umat Islam seperti ini sama sekali tidak disalahkan oleh Allah SWT, bahkan Allah menghibur hati mereka lewat firmannya, dimana Allah SWT menjanjikan bahwasannya setelah beberapa tahun, kelah akan terjadi lagi perang antara orang Roma dan Persia. Dan peperangan itu akan dimenangkan oleh orang-orang Roma.
Atas dasar ini semua, secara siasah, di mana de facto negara yang kini paling terbuka berkonfrontasi dengan Israel dan Amerika dalam isu Palestina adalah Iran dan sekutunya, baik syiah hizbullah di Libanon maupun syiah hauti di Yaman.
Terlepas soal kepentingan apa di balik ini semua. Apakah benar murni untuk membela saudara-saudara kita di Palestina? Ataukah hanya sebatas merebut kawasan di Libanon Selatan yang dikuasai oleh Israel? Atau menguasai Timur Tengah dalam ambisi untuk mengembalikan kejayaan Persia? Wallahu'alam.
Kita sama sekali tidak tahu. Namun dari sisi lain, jangan pernah kita melupakan bahwa sejarah mencatat Iran pernah mendukung rezim Basar al-Assad tahun 2011-2025, di mana Basar al-Assad sebagai tokoh syiah memperlakukan umat Islam dengan sangat kejam, paling tidak tercatat 656.493 umat Islam yang dibantai dan 4 juta rakyat Syria terpaksa harus mengungsi.
Iran juga pernah mendukung Amerika Serikat memerangi Iraq, menggulingkan Saddam Hussein dan untuk ini tidak kurang dari 500 ribu umat Islam yang menjadi korban, belum lagi di Afganistan juga di Aman.
Artinya secara politik sekalipun terima kasih posisi Iran tidak bisa dibaca secara hitam putih. Terkadang umat Islam dibantainya terkadang pula memerangi musuh umat Islam.
Atas dasar pertimbangan akidah dan syariah serta siasah, maka pertama umat Islam diharapkan tidaklah fanatik buta dalam membela Iran dengan mengorbankan prinsip keimanan dan keislaman.
Keyakinan kita tidak boleh dikorbankan hanya untuk kepentingan politik sesaat. Yang kedua, selama tidak mengorbankan akidah dan syariah umat Islam secara siasah, secara politik dibenarkan berpihak kepada siapapun termasuk Iran, di setiap tindakan mereka yang nyata-nyata menguntungkan bagi umat Islam dalam memarangi musuh-musuh umat Islam, terutama Israel yang selama ini telah menzolimi umat Islam, Wallahu'alam bisawab hanya Allah yang maha mengetahui kebenaran dan apa yang terbaik bagi umat Islam yang karenanya kita berserah diri dan berdoa kepada Allah SWT semoga Allah SWT berkenan menakdirkan yang terbaik bagi kita sekalian, Amin Ya Allah Ya Rabbal Alamin.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*********************************************************************
Dikutip dari :
Penulis : -


13 