Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

BUKAN PERIODE MENIKMATI Nasional


 

by M Rizal Fadillah *)

Pelantikan telah usai, sumringah wajah Presiden dan Wakil Presiden. Berhasil melewati masa berat kompetisi dan dinamikanya. Seperti biasanya mendapat ucapan selamat sana sini. Mungkin ada cipika cipiki segala. Undangan dari berbagai kalangan, dalam dan luar negeri tak terkecuali Wapres Cina yang menunaikan apa yang dijanjikan petinggi Partai Komunis Cina yang pernah datang berkunjung menemui Presiden dan pimpinan partai, termasuk Gerindra. 

Ada kawan yang pada saat pelantikan menjadi anggota parlemen menyatakan "saatnya menikmati hasil perjuangan". Nah ia beranggapan fase perjuangan itu adalah kompetisi berat untuk mendapatkan kursi. Setelah sukses hingga pelantikan ia seperti melepas kepenatan dan memandang saatnya untuk menikmati hasil. Lupa bahwa kursi yang diduduki adalah amanah, kepercayaan, serta titipan pemilih untuk serius memperjuangan kepentingan yang diamanatkan. Pelantikan adalah saat memulai langkah kaki di arena perjuangan. Bukan waktunya untuk memulai menikmati. 

Presiden Jokowi yang untuk kedua kali menjabat semestinya lebih faham. Begitu juga dengan Kyai Ma'ruf harus lebih faham lagi karena berbekal segudang dalil baik Al Qur'an, Hadits, maupun "qaul" Ulama. Pelantikan adalah momen untuk memulai. Ucapan selamat adalah selamat memulai. Jika dimaknai menikmati, maka dijamin tidak selamat hingga akhir. Apalagi saat pertanggungjawaban kehidupan nanti. Celaka dan penyesalan yang dipastikan akan terjadi.

Merujuk firman-Nya maka keselamatan (salaamun 'alaihi) harus tiga fase , yaitu "yauma wulida" saat dilahirkan (dilantik), "yauma yamuutu" saat dimatikan (akhir jabatan) dan "yauma yub'atsu hayya" saat pertanggungjawaban akhir (akherat).
Jika berpuas diri pada ucapan selamat saat ini saja, maka bersiaplah mengakhiri dengan buruk dan diakherat nanti menerima pembalasan pedih dari Ilahi. 

Dengan gencarnya  menarik investasi  asing, kran impor yang dibuka lebar,  pelumpuhan KPK, serta memperkuat represivitas pada lawan politik, maka patut diduga fase kedua jabatan ini adalah fase menikmati. Pidato Jokowi saat pelantikan tidak memberi harapan menyenangkan dan menenangkan rakyat pada aspek ideologis. Tak ada kekhawatiran pada kapitalisme-liberalisme dan  penyusupan komunisme. 

Lalu ketidakjelasan  arah dan kebijakan demokratisasi. Sejauh mana aspirasi rakyat  dihargai yang gelisah dengan sikap otoritarian, oligarkhis, dan tindakan represif termasuk kriminalisasi.
Demikian juga aspek relijiusitas dimana umat beragama, khususnya umat Islam, semakin samar diposisikan. Terasa terus terzalimi. Korban semburan fitnah terpapar radikalisme dan intoleransi.

Sekedar berpidato tentang infrastruktur, pengembangan ekonomi, birokrasi dan regulasi investasi,  serta "mimpi" peningkatan pendapatan tahun 2045, jelas semata bertumpu pada lingkup materi. Risikonya 5 tahun ke depan Pemerintahan Jokowi akan tetap berhadapan dengan kekuatan anti materialisme, anti sekularisme, pembebasan penindasan  umat beragama, serta perlawanan dari kelompok pro demokrasi termasuk mahasiswa dan lingkungan akademis. 
Jokowi dinilai memang tidak memberi harapan dan jawaban.

Ketika 5 tahun ke belakang dipidatokan sebagai proses yang dijalankan dan janji pada 5 tahun ke depan akan bergeser pada orientasi hasil, maka hal ini semoga bukan dimaknai oleh Jokowi dan lingkarannya bahwa 5 tahun ke depan adalah periode  fase  menikmati. Substansi untuk itu  bisa  korupsi, manipulasi, atau memperbesar hutang luar negeri. 

Kita sudah muak dan mual pada basa basi pidato yang tidak bernurani. Pidato yang kering dan bebas nilai. Untung saja kita pun masih  memaklumi bahwa pidato itu memang dibuat bukan oleh Jokowi. 

*) Pemerhati Politik
 

21 Oktober 2019


 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : M Rizal Fadillah
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments