TELEPON XI JINPING Nasional

by M Rizal Fadillah *)
Rakyat Indonesia telah mendengar pernyataan Presiden Jokowi yang katanya telah menelpon Presiden China Xi Jin Ping. Percakapannya berisi dua hal yaitu pertama empati rasa duka atas wabah virus corona di China dan kedua menawarkan bantuan untuk mengatasi wabah tersebut.
Rasanya rakyat Indonesia tidak terlalu gembira. Ini disebabkan skeptisme kemampuan negara Indonesia untuk membantu. Netizen berseloroh Pak Presiden saja yang berangkat ke China sendiri untuk membantu.
Merenung sejenak, komunikasi melalui saluran telepon menggunakan bahasa apa ya beliau. Bahasa China, Inggris, atau Indonesia. Tidak ada eksplanasi. Bagaimana respons Xi Jinping pun tak jelas. Lalu agak berdecak kagum bahwa Indonesia siap membantu, kira kira bantuan apa yang bisa diberikan ? Dana, tenaga medis, atau do'a ? Sulit untuk menemukan jawaban.
Yang dikhawatirkan adalah jika bentuk bantuan itu adalah kesiapan menampung para "pengungsi" China. Maklum pernyataannya adalah siap bersama China dalam duka.
Atau mungkin tawaran itu hanya basa basi saja ? Nah jika demikian maka ini adalah bagian dari model pencitraan.
Indonesia, sebagaimana negara lain, termasuk negara yang terancam wabah. Kewaspadaan terus diserukan. Antisipasi bukan sekedar medis. Anggota DPR Azis Syamsuddin menegaskan perlunya antisipasi sebagaimana Dr Siti Fadillah Sapari yang "melawan" wabah flu burung secara komprehensif baik medis maupun politis. Ketegasan politik diperlukan untuk melindungi kesehatan seluruh rakyat Indonesia.
Pak Jokowi sebagai Presiden Indonesia haruslah mendahulukan kepentingan bangsa dan negara bukan untuk lebih siap hidup dan mati bersama Pemerintah China. China bukan negara sahabat, tetapi negara komunis yang berbahaya. China yang menghancurkan komunitas muslim Uighur. China negara yang biasa membohongi para pesakitan. China negara yang menafikan nilai nilai moral.
Kepemimpinan ambisius Xi Jinping bukan yang patut ditiru. Tak pernah merasa salah dan angkuh. Kini kena batunya porak poranda diterjang virus. Tidak mampu menutupi meski tetap mencoba untuk membohongi dunia soal korban yang sebenarnya berjumlah besar.
Bohong adalah bawaan negara tirai bambu ini.
Soal telepon Jokowi dan Xi Jinping moga keduanya tidak berbohong dan tidak mendiskusikan soal kebohongan. Bangsa Indonesia tidak suka pada ceritra bohong.
Boleh juga didengar ulang lagu anak sekolah
Scotts Head Public School, NSW Australia saat menyambut Presiden Jokowi.
Abang tukang bakso
Mari mari sini, aku mau beli
Abang tukang bakso
Cepat datang ke mari, sudah tak tahan lagi
Satu mangkok saja lima ribu perak, yang
banyak baksonya
Tidak pakai saos, tidak pakai sambal, juga
tidak pakai kol
Baso bulat seperti bola pingpong
Kalau lewat membuat perut kosong
Jadi anak janganlah suka bohong
Kalau bohong digigit kambing ompong
Pak Jokowi tentu bukan tukang bakso dari Solo, apalagi tukang bohong. Anak SD itu tak perlu dikriminalisasi. Mereka hanya sedang menghibur Pak Jokowi.
*) Pemerhati Politik
Bandung, 16 Februari 2020
*********************************************************************
Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION
Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)
Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)
Hubungi Hot Line Kami
Di 081 12345 741
Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30
#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation
#ANNASINDONESIA
Dikutip dari : -
Penulis : M Rizal Fadillah
Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share. Lets change the world together saudaraku !...


1426 
Comments