SOCIAL DISTANCING (ATAU PHYSICAL DISTANCING?) #5 Nasional

Social Distancing (atau Physical Distancing?)
Sebuah Telaah Kritis tentang Arsitektur Ruang Publik
dalam rangka Menjaga Iman dan Imun.
Bagian 1: ’Ancaman ‘Wuhan Covid-19’'.
diolah oleh :
Dr. Tendy Y. RAMADIN, S.Des., M.T. (Arch.)
....
Gaya Kepemimpinan dan "Salah Fokus" menghadapi Krisis akibat Serangan Wuhan Covid-19
Sahabat sekalian, tidaklah mudah bagi sebagian besar orang dalam masyarakat kita untuk move on dari situasi 'terbelahnya pemikiran bahkan pendirian' akibat suasana politis dan pergerakan sosial hingga menjelang akhir tahun silam. Demikian saya sadari ketika membaca Twitter pertengahan Maret 2020 yang lalu, ketika sempat menempatkan tagar #IndonesiaNeedLeader dalam posisi teratas trending topic nya.
" Lha , sampeyan iku (anda itu) jika menemukan usulan solusi terkait Wabah Covid-19, mestinya itu harus di-Utara-kan jangan di-Selatan-kan, salah alamat!" ('utara' dan 'selatan' ini dalam pendekatan semiotik menjadi simbol dari dua 'kutub geografis' gedung kantor pemerintahan di ibu kota).
Seloroh dalam kalimat di atas menunjukkan adanya tarik menarik peran yang tengah berlangsung dalam manajemen organisasi pemerintahan. Ruang publik 'tersandera' oleh kesalahan fokus yang dipertontonkan kasat mata.
Manakala berbicara tentang 'salah fokus', pada akhirnya menggiring ke arah opini para pemikir untuk turut berkontribusi dalam rangka menyikapi wabah Wuhan Covid-19 ini.
Menang atau Binasa
Ulasan di bawah ini sebagian besarnya adalah olahan dari buah pemikiran pak Heppy Trenggono, pemrakarsa 'Gerakan Beli Indonesia' dan pendiri Indonesia Islamic Business Forum (IIBF), seorang pebisnis kawakan sekaligus motivator ulung yang dikenal luas. Saya mencoba ' adon /ramu' sedikit dengan selingkung bahasa saya dikaitkan dengan krisis yang bukan saja melulu soal ekonomi, namun lebih ditekankan kepada visi kepemimpinan, afwan jiddan.
Banyak kalangan yang bertanya, apakah wabah Wuhan Covid-19 ini akan dengan segera memicu krisis ekonomi? Lantas mengapa pemerintah (sebagai 'organisasi terbesar' penjaga ekonomi negara) terlihat secara kasat mata kerap menampakkan gestur 'gagap dan gugup' dalam setiap langkah untuk mengatasinya. Apakah sikap pemerintah itu karena didorong rasa khawatir bahwa ekonomi akan terganggu?
Jujur saja, Indonesia diprediksi memang akan masuk dalam krisis ekonomi, jauh sebelum adanya wabah Wuhan Covid-19. Bahwa krisis ekonomi bagi Indonesia hanya persoalan waktu saja. Hari ini, wabah Wuhan Covid-19 yang datang menjadi faktor percepatan 'kemungkinan' itu, bahkan bagi sebagian besar orang krisis ekonomi itu sudah terjadi hari ini, nilai tukar rupiah yang terjun bebas, lonjakan harga barang, menghilangnya pasokan, kebutuhan pokok mulai sulit dipenuhi, bentuk bentuk krisis yang bisa dilihat. Jauh dari prediksi ekonomi akan meroket yang pernah digaungkan pemerintah. Ditambah lagi keharusan 'di rumah saja' hari-hari ini. Hmmm...
Lantas sekarang harus bagaimana dan berbuat apa?
Yah, inilah kenyataan yang harus dihadapi. Keluh kesah tidak akan dengan segera dan efektif mampu menyelesaikan persoalan.
Tentu saja tidak semua orang mengalami hal sama, karena ada juga individu atau kelompok masyarakat yang justru dapat berkah dari krisis. Mereka hendaknya patut bersyukur, karena bagi sebagian besar di antaranya pilihannya hanya dua, win or die!
Lantas bagaimana kiat melewati krisis ini?
Pak Heppy menyebutkan setidaknya ada 4 (empat) faktor yang menentukan untuk menang atau 'menang-gung kalah' dan terkapar menghadapi krisis ini.
1). Leadership
Semua soal dimulai dari sini. Harus dipahami bahwa krisis ini bukanlah aib, ini kenyataan yang harus dihadapi, usahlah malu, temannya banyak. Hampir semua negara di dunia pun mengalami krisis wabah ini.
Langkah efektif yang diperlukan adalah siapkan mindset yang tepat. Mindset yang tepat ukurannya adalah kesiapan mental menghadapi kenyataan dan kemampuan untuk bertindak dengan tegas dan lugas.
Kunci memenangkan krisis letaknya bukan pada sumber daya yang dimiliki, tetapi pada Leadership.
Memimpin di saat semuanya baik-baik saja niscaya bisa dilakukan oleh banyak orang, tetapi kepemimpinan sejati dilihat pada saat ini, di saat menghadapi krisis!
Krisis menguji kepemimpinan.
Dr. Mahathir Mohammad memimpin Malaysia menjadi satu-satunya satunya negara yang paling cepat pulih dari krisis 1998 justru karena menolak bantuan International Monetary Fund (IMF). That is leadership!
2). Strategi dan Manajemen
Isu paling sentral dalam melewati krisis adalah persoalan keuangan, persoalan likuiditas, persoalan arus kas ( cashflow ) di samping fokus pada persoalan kesehatan yang sudah banyak pihak menengarainya. Bagaimana tidak, krisis kali ini membatasi ruang gerak secara drastis dan ekstrim.
Prioritasnya sekarang adalah bagaimana agar tidak kehabisan 'nafas', agar tetap bisa memenuhi kebutuhan minimal, paling tidak bagi masyarakat lapisan bawah, agar situasi tidak berkembang menjadi chaos.
Diperlukan adalah Contingency Plan, Extra Ordinary Action, bukan sekadar langkah langkah mainstream yang umum dan normal.
Pikirkan dan lakukan dengan cepat. Lakukan mitigasi resiko.
3). Fokus pada Peluang
Krisis yang umum dalam perspektif ekonomi, terjadi karena daya beli menurun secara meluas, mengakibatkan banyak yang tidak mampu membayar utang, mengakibatkan pemasok barang tidak sanggup lepas barangnya, mengakibatkan barang menjadi langka, mengakibatkan bank kesulitan likuiditas, mengakibatkan banyak perusahaan tutup, mengakibatkan banyak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), mengakibatkan daya beli turun lebih meluas lagi, demikian terus berputar dalam waktu cepat sehingga kehidupan menjadi sulit.
Namun demikian, hukum keseimbangan itu tidak saling meniadakan, tetapi memberikan keseimbangan. Ketika satu pintu tertutup maka ada pintu lain yang sedang terbuka.
Sebagaimana kitab suci menyampaikan :
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Al-Insyirah:5) dan ayat ini pun diulang lagi:
"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS. Al Insyirah:6)
Jadi, selain meluluh lantakkan tatanan ekonomi,
krisis ternyata juga melahirkan berbagai kisah kebangkitan.
Bagi bangsa Indonesia sendiri, hari ini saatnya kita seharusnya belajar menjadi lebih mandiri dari ketergantungan asing. Why not (kenapa tidak)? Paling tidak dalam mengambil keputusan penting bagi bangsa kita sendiri.
Toh hampir semua bangsa dan negara di belahan bumi ini ikut terserang wabah pandemi Wuhan Covid-19. Mereka pun disibukkan mengatasi krisis di dalam negeri mereka sendiri.
Tidak perlu membuang-buang dollar yang menyengsarakan, tidak perlu ada defisit neraca perdagangan lagi. Hari ini saatnya mulai membela produk bangsa sendiri.
Perlu komitmen dari pemimpin nasional dan daerah, dari para tokoh, kita dorong masyarakat untuk menggunakan produk anak bangsa. Ikuti fitrah pemimpin sebagai raa'in (pengurus) dan mas'ul (penanggung jawab). Dengan cara ini maka produk-produk baru akan segera bermunculan, maka usaha akan mulai menggeliat, maka ekonomi akan berangsur pulih dengan keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Jalankan sistem ekonomi yang benar yakni mendayagunakan semua potensi ekonomi baik berupa fai' dan kharaj, dharibah, infak rakyat dan utang syar'i ke warga negara yang kaya untuk mengatasi krisis akibat Wuhan Covid-19.
4). Keyakinan
Tugas pemimpin itu inspire confident, menjadi cermin bagi orang orang yang dipimpin. Ketika ragu semua orang akan lebih ragu, jika ciut semua orang akan takut. Sementara tidak ada kemenangan yang terjadi dengan modal ragu dan takut.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". (QS. Al Baqarah:286).
Dengan demikian, jika Allah saja mempercayakan, kenapa harus tidak percaya dengan diri sendiri?
Hari ini saatnya untuk banyak belajar, banyak mendengar, banyak menimba pengetahuan. Keyakinan lahir karena pengetahuan. Memiliki keyakinan artinya juga memiliki kesabaran, orang bisa sabar karena dia yakin. Yakin bahwa di balik kesulitan ini ada kemudahan.
Disaat krisis ini seyogianya semua pihak terpanggil untuk lebih banyak melakukan kebaikan, lebih banyak berbagi, lebih banyak menolong, lebih menunjukkan tanggung jawab sosial sebagai cermin keyakinan. Mari bulatkan tekad dan bertawakal.
Semoga bangsa Indonesia segera terlepas dari kesulitan dan mendapat hikmah dari kesulitan yang hari ini dihadapi.
Sehingga tidak perlu sampai terdengar atau terbaca umpatan: "dasar gorong-gorong sial”. (Kata 'gorong-gorong' sempat menjadi viral di tahun 2014 dan 2019).
Pojok Tunggu Dulu
Setelah ini mungkin saja ada pendapat nyinyir yang mengatakan :" lho, sampeyan (anda) kan arsitek, kok nulis ngalor ngidul sing nggak ono hubungane karo desain? (kok menulis ke sana ke mari yang tidak berhubungan dengan desain". He he, dan saya pun akan jawab : "Kaya sing dak karepake, mumpung mikir durung dilarang. Sesuk yen nggak oleh mikir, yo wis meneng wae...". (seperti yang saya maui, selagi berpikir belum dilarang. Nanti kalau berpikir sudah dilarang, ya diam saja). Pendapat mu, ya terserah lo-deh...
Tabik...
(insya Allah bersambung esok hari)
Kota Baru Parahyangan, Bada Isya, 7 Syaban 1441 H. / 1 April 2020 M.
*********************************************************************
Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION
Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)
Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)
Hubungi Hot Line Kami
Di 081 12345 741
Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30
#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation
#ANNASINDONESIA
Dikutip dari : -
Penulis : Dr. Tendy Yulisca Ramadin S.Sn.,MT
Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share. Lets change the world together saudaraku !...


1354 
Comments