Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

LAYAKKAH MENGURUS PINDAH IBUKOTA DIMASA PANDEMI ? Nasional


 

Ir. Mei Sutrisno MSc., Ph.D

Ada berita bahwa rencana pindah ibu kota akan jalan terus. Masalahnya, resiko besar bukan di tangan pejabat tapi pada rakyat. Di suasana pandemi ketidak pastian sangat tinggi,  sehingga resiko juga pasti tinggi. Bias antara  luaran yang dicanangkan dengan realita yang terjadi bisa sangat besar, itu berarti kegagalan. Pikiran jernih dari semua elemen masyarakat perlu dimintai pendapatnya terutama generasi muda sebagai pewaris dampaknya. 

Pemindahan ibukota itu sendiri mempunyai ‘political risk’ yang sangat tinggi, karena terkait masalah ketahanan nasional. Masyarakat Kalimantan masih perlu waktu panjang untuk dibentuk sebagai sebagai pusat kekuatan. Mengambil keputusan dengan resiko tinggi, umumnya hanya untuk tujuan yang sangat mendesak.  Seperti alasan perang untuk menyelamatkan negara dari bahaya. Tapi proyek ini tidak dalam keadaan memaksa. Pengalaman menunjukkan bangsa Indonesia cukup lambat dalam perpindahan tempat apalagi ada estafet kepemimpinan.  Ketika akan memindahkan pusat Mabes ABRI dan jajarannya dari Jakarta ke Cilangkap saja butuh waktu itu cukup lama, 10-20 tahun. Apalagi pindah ibukota dari jakarta ke Kalimatan yang belum siap infrastrukturnya.  Peristiwa buruk seperti proyek Hambalang janganlah terulang. 

Bagi Indonesia dana Rp 466 trilyun, bukan angka kecil apalagi bila mayoritas dana adalah dari hutang luar negeri. Dari situlah pangkal masalah. Lebih parah lagi bila pengerjaannya dengan teknologi dan pelaku asing, akan sangat minim manfaat untuk tenaga kerja bangsa sendiri. Dalam kondisi ekonomi sulit seperti saat ini, negara akan terbebani oleh pengembalian hutang dan ‘interest’ serta tekanan ‘exchange rate risk’ akibat hutang riba yang semakin menjulang. Harus diingat, membangun ibukota tidak sama dengan proyek konsesi seperti jalan tol yang punya ‘revenue’. Jangan jadikan negara tersandera gegara pindah ibukota. Bila dijalankan dengan membabi buta, bisa memicu gejolak politik. Akan muncul persepsi di masyarakat, adakah ‘udang’ dibalik proyek ini? Bukankah masih banyak alternatif urusan lain yang lebih baik layak untuk didanai di masa pandemi.

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Ir. Mei Sutrisno, M.Sc, Ph.D.
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...

 


Comments