Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

SAATNYA UMMAT ISLAM BERSATU Beranda ANNAS


 

Sungguh sangat Ironis, kendati ummat Islam mayoritas dan sangat besar jasa dan sumbangsihnya bagi kemerdekaan Republik ini, kini keberadaannya acapkali hanya menjadi Maf 'ul "obyek" sejarah, sedikit sekali "jika pun ada" perannya diposisi Fa'il "subyek" yang menentukan dan mewarnai perjalanan sejarah bangsa saat ini.

Di awal kemerdekaan saja, ummat Islam sudah dipaksa harus rela kehilangan prinsip yang sangat mendasar, dengan dihapusnya Piagam Jakarta yang hanya berumur 57 hari, yaitu kalimat dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluknya pada sila pertama  Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sejak zaman orla, orba  sampai  zaman reformasi, nasib ummat mayoritas ini sering diperlakukan bak minoritas yang harus rela kehilangan sekian banyak haknya, demi memenuhi keinginan kelompok yang benar-benar minoritas dengan dalih toleransi yang didefinisikan dan ditafsirkan secara  sangat tidak adil.

Sementara penguasa dan partai pemenang dalam pemilu tidak dianggap intoleran dan melanggar asas-asas demokrasi, ketika  memaksakan ambisinya dalam berbagai aturan dan kebijakan baik di Legislatif, eksekutif bahkan juga di yudikatif, yang acapkali dirasakan  bertolak-belakang dengan aspirasi mayoritas masyarakat yang kalah dalam pesta demokrasi yang kental dengan berbagai tipu-daya dan kecurangan.

Di saat kampanye pilpres, pilleg, pilkada dsb, ummat terutama para Ulamanya tidak sedikit yang diintimidasi, dicari-cari  bahkan direkayasa  seakan-akan melakukan kesalahan, terutama sekali para ulama yang diperkirakan memiliki pengaruh besar  terhadap ummat dan sulit untuk dikendalikan oleh pihak yang sedang memilki kekuasaan untuk mengendalikan. Atau dengan cara kotor lainnya, diantaranya dengan  menyematkan  gelar radikalisme, ekstrimisme dan atau gelar-gelar lainnya untuk menjauhkan sang Ulama dari ummatnya .

Sementara para Ulama yang dinilai lunak dan mudah untuk dikendalikan, disanjung dengan gelar kelompok Islam moderat, dimanjakan sambil diiming-imingi  janji- janji manis. Bahkan ada juga yang langsung diberi amplop, yang berita berikut photonya kemudian viral di media massa dan terasa begitu sangat memalukan dan menjijikkan.

Tidak sedikit juga para kiyai di pesantren yang kemudian dibuat sibuk setiap hari melayani mereka yang berambisi meraup kekuasaan,  yang datang silih berganti ke Pesantren untuk mengumbar janji.

Bahkan diantara mereka ada juga yang non muslim yang datang dari partai-partai yang selama ini jangankan memperjuangkan aspirasi dan  membela kepentingan ummat Islam, bahkan mereka selalu tampil digarda paling depan dan juga paling nyaring suaranya dalam menghentikan  setiap langkah dan upaya  mewujudkan norma-norma Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Begitu pesta demokrasi Usai, dan ambisi kekuasaan sudah didapat, maka bak pepatah "Habis manis sepah dibuang", nasib ummat pun tak  ubahnya sampah yang dibiarkan berserakan. Boro-boro menikmati berbagai hak untuk hidup dalam iklim yang Islami sesuai dengan keyakinan, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang menuntut haknya  berujung kemudian dengan dikriminalisasikan.

Keberadaan ummat Islam yang mayoritas namun bernasib tragis seperti ini, sudah sangat mendekati sinyalemen yang digambarkan Rasululloh SAW, bak makanan siap saji yang tengah diperebutkan oleh mereka yang sangat rakus dan lapar.

Dimana setiap orang baik secara pribadi atau dengan kendaraan  partai,  berupaya  dengan cara dan gaya masing-masing untuk  memakan hidangan spesial bernama ummat Islam.

Sudah seharusnya ummat Islam memetik   'Ibrah  "hikmah dan pelajaran" dari pengalaman pahit selama ini, agar dikemudian hari tidak lagi harus  jatuh dilubang penderitaan dan kekecewaan yang sama.

Ummat Islam harus pandai membaca mana partai penjilat, penipu dan penghianat, yang memanfaatkan suara ummat hanya semata-mata untuk mengejar dan mewujudkan ambisi pribadi dan kelompoknya, untuk kemudian setelah berkuasa malah menyudutkan Islam dan ummat Islam.

Atribut Islam dalam suatu partai  tidak selamanya juga menjamin jika partai tersebut akan memperjuangkan aspirasi ummat Islam. Terbukti diantaranya dengan sikap kemunafikannya mereka  memberikan dukungan terhadap calon gubernur non muslim yang ditentang ummat yang secara hukum  terbukti bersalah karena menghina dan menodai kitab suci Al Qur'an.

Juga dukungan yang penuh terhadap perppu nomor 1 tahun 2020 dan RUU HIP yang sangat ditentang keras oleh berbagai elemen  masyarakat khususnya para Ulama dan ormas-ormas Islam.

Sudah saatnya ummat Islam segera bangun melemparkan selimut yang selama ini membuat mereka hidup di alam mimpi dan lamunan menggapai angan-angan lewat janji-janji palsu yang sudah sangat lama menina-bobokan ummat.

Para Ulama terutama yang tidak terikat lamgsung dalam ormas Islam tertentu, hendaknya tidak lagi berjihad nafsi-nafsi  "berjuang masing- masing", tapi berupaya membangun kebersamaan dalam satu Shaff wal khittah "satu barisan dalam kesamaan visi dan misi"  dengan  merangkul semua pihak yang masih berada dalam shirotol mustaqiim  agar  i'tishom "bersatudalam manhaj Al Qur'an dan As Sunnah dan sesegera mungkin berhenti dari menyanyikan lagu lama, membesar-besarkan perbedaan furu'iyyah. 

Persatuan yang kal jasadil wahid "bagaikan satu tubuh" dimana susah dan derita dirasakan bersama, senang dan bahagia juga dinikmati bersama.

Bersatu dalam menyatakan haram hukumnya mendukung dan membesarkan partai yang selama ini menjadi wadah berkumpulnya tokoh-tokoh liberalisme, sekularisme, aliran sesat dan kader-kader PKI yang tak henti-hentinya berupaya membangkitkan kembali PKI, diantaranya lewat RUU HIP.

Pada saat yang sama, siap mendukung dan membesarkan partai yang selama ini telah teruji Istiqamah memperjuangkan kebenaran dan aspirasi ummat Islam, bagi kepentingan Agama, Bangsa dan Negara.

Bangkitnya Neo PKI dan semakin merajalelanya faham sekularisme, liberalisme dan aliran -aliran sesat seperti syiah yang sangat berbahaya bagi akidah dan keutuhan NKRI, sudah cukup menjadi hujjah untuk menetapkan hukum wajibnya setiap muslim menyatukan derap langkah yang sama dalam menghadapi setiap upaya mereka yang ingin merusak tatanan kehidupan beragama dan bernegara di Republik yang sama-sama kita cintai.

Merdeka ! Allohu Akbar !

 

*********************************************************************


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : K.H. Athian Ali M Dai, Lc,.MA
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments