Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

PERTANYAAN BUAT KAUM SYI'AH, KALAU PRAKTEK NIKAH MUT'AH VERSI ULAMA SYI'AH DI BAWAH INI ADA TIDAK DI SURAT An-Nisa Ayat (4) : 24 ??? Artikel Syiah


 

Khomeini Membolehkan Nikah Mut’ah Dengan Anak Bayi Yang Masih Disusui
 
“Adapun seluruh jenis ‘bersenang-senang’ seperti menyentuh dengan syahwat, mencium, ‘main di paha’, maka itu semua tidak mengapa, bahkan untuk anak kecil yang masih menyusu” (Tahrir al-Wasilah, hal 241, no 12)

Khomeini membolehkan menyetubuhi istri dari dubur
 
“Pendapat yang masyhur lagi kuat adalah bolehnya menyetubuhi istri pada duburnya namun sangat dibenci” (Tahrir al-Wasilah, hal 241, no. 11)
Kami katakan, ‘kami berterima kasih atas ucapan Khomeini (namun sangat dibenci)’, kami tidak mampu menahan ini kecuali dengan menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Terlaknatlah orang yang mendatangi istrinya pada duburnya!”

Fadhlullah membolehkan memandang para wanita yang sedang telanjang
 
“Jikalau saja para wanita telah terbiasa keluar rumah dengan pakaian pantai, maka boleh melihat mereka dengan kondisi seperti ini” sampai perkataannya ”Dan termasuk bagian ini adalah bolehnya melihat aurat ketika disingkap sendiri oleh wanita tersebut sebagaimana yang terdapat di klub-klub malam, di pinggir pantai di sebagian negara atau semisal itu” (Kitab An-Nikah, Juz 1, hal 66)
Kami katakan: ‘Agama dan ucapan model apa ini? Namun inilah dia para alumni hauzah, inna lillah wa inna ilaihi raji’un’

Al-Khu’i membolehkan seorang pria memainkan kelamin pria yang lain dan seorang wanita kepada wanita yang lain dengan maksud bercanda

Soal No. 784: Apakah boleh seorang pria memegang aurat seorang pria yang dari balik bajunya, dan apakah boleh juga bagi wanita kepada wanita yang lain hanya dalam rangka bermain dan bercanda, dengan tidak adanya syahwat?
Al-Khu’i menjawab, “Tidak diharamkan, Allah yang maha tahu” (Shirat an-Najaat fi Ajwibah al-Istiftaat, Juz 3, Masalah hijab, pandangan dan hubungan)

Muhammad al-Hakim membolehkan memberikan film yang di dalamnya terdapat gambar wanita berhijab namun dalam kondisi auratnya tersingkap di hadapan laki-laki asing dalam rangka untuk mencuci Film dengan syarat melihatnya tanpa syahwat!
(Hiwariyat Fiqhiyyah, Muhammad Said al-Hakim, Cet I, hal 324)

Al-Hakim membolehkan bagi seseorang (pria) memikirkan istri orang lain, termasuk juga memikirkan wanita-wanita kafir dengan artian berhayal dan ada ereksi dari penisnya dengan syarat tidak boleh mengeluarkan mani pada saat itu!

Khamene’i membolehkan wanita muslimah yang sudah menikah untuk ‘ditabungkan’ pada rahimnya mani laki-laki yang bukan suaminya!
 
Khamene’i ditanya, pertanyaannya terdapat dalam risalah ilmiahnya yang diperuntukkan bagi orang-orang yang taqlid padanya, Soal No. 194. Apakah boleh bagi seorang laki-laki (yang istrinya tidak bisa hamil) menabung maninya pada seorang wanita asing dengan cara menaruh janinnya pada rahim wanita asing tadi?
Khamene’i menjawab, “Tidak larangan secara syar’i untuk menabung mani pada wanita asing, namun wajib menjauhi ‘foreplay/muqaddimah hubungan intim’ seperti memandang, meraba dan lain-lain. Jika seorang anak telah lahir dari proses ini, anak tersebut tidak dinasabkan pada suami, akan tetapi dinasabkan pada pemilik janin dan wanita pemilik rahim dan telur/ovum. Patut juga diperhatikan agar berhati-hati dalam masalah warisan dan kehormatan ” (Ajwibah al-Istiftaat, Khamene’i, Juz 2, masalah Mu’malah, hal 71)

Khomeini membolehkan nikah mut’ah dengan seorang pezina!
 

Masalah ke. 18 “Bolehnya nikah mut’ah dengan seorang wanita pezina namun dibenci, khususnya dari wanita yang sudah dikenal sebagai wanita pelacur dan sering berzina” (Tahrir al-Wasilah, Juz 2, hal 292)

Cara terbaik mengetahui seorang wanita muslimah yang memiliki iffah (menjaga kesucian)
 
Saya dapatkan dalam manuskrip kakekku sang alim rabbani, Sayyid Murtadha Ar-ridhawi yang masyhur dengan Al-Kasymiri semoga baik jejaknya: (pertanyaan), ‘Jika saya ingin mengetahui bahwa seorang wanita itu suci atau rusak’ (Jawaban), ‘Pertama, hitunglah namanya dan nama ibunya dengan angka yang besar, kemudian buanglah dari kedua jumlah itu masing-masing tiga, jika yang tersisa hanya satu maka dia itu wanita yang rusak, jika yang tersisa itu dua maka dia wanita yang suci, jika yang tersisa itu tiga maka dia dituduh sebagai wanita pezina, benar dan teruji!’ (Tuhfah ar-Ridhawiyyah fi Mujarrabat al-Imamiyyah, hal 214)

Nikah Mut’ah untuk ajang percobaan
 
Ayatullah al-Muthahhari, “Dari segi prinsip, memungkinkan bagi pria dan wanita yang ingin melangsungkan nikah daim, namun apabila belum ada peluang yang cukup untuk saling mengenal maka boleh bagi keduanya untuk nikah mut’ah pada waktu yang ditentukan dalam rangka untuk ‘coba-coba’, jika keduanya sudah mendapati dirinya bahwa ia meridhai pasangannya maka pada waktu memungkinkan bagi keduanya untuk nika daim, jika belum maka hendaknya keduanya langsung berpisah”

Nikah Mut’ah hanya untuk mendapatkan uang
 
Syahla ha’iri menyebutkan dalam risalahnya, “al-Mut’ah al-Mu’aqqatah-tahun 1978-1982”, yaitu pada zaman revolusi Iran yang dinahkodai oleh Khomeini, ‘Dalam penilitian terhadap warga Iran ditemukan bahwa yang mendorong seorang wanita untuk melangsungkan akad nikah sementara adalah uang. Penelitian ini diperkuat dengan bentuk akad-akad nikah, tabiat saling mengganti, dan khithab agama. Dalam kenyataannya banyak wanita yang telah melangsungkan banyak akad nikah sementara untuk memenuhi kebuturan materi mereka’

Mut’ah Berjamaah
 
Syahla berkata, “Sebagian pemuka agama berkata padaku, ‘Boleh melangsungkan akad mut’ah secara berjamaah antara seorang perempuan dengan sekelompok laki-laki dengan jangka sementara yang tidak lewat dari beberapa jam saja! Contohnya: Jika seorang dari mereka melangsungkan akad nikah mut’ah tanpa bermasksud memasukkan, maka ia boleh melakukan segala jenis cara bersenang-senang dengan teman perempuannya tadi dengan syarat tidak boleh dimasukkan!! Begini pula yang berlaku bagi laki-laki kedua, ketiga, keempat! Yang tiap-tiap itu tidak ada masa iddahnya’!!!” (al-Mut’ah al-Mu’aqqatah, hal 147).

Nikah Mut'ah Tanpa disertai wali si wanita

Sebagaimana Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Tidak apa-apa menikahi seorang wanita yang masih perawan bila dia ridha walaupun tanpa ijin kedua orang tuanya.” (Tahdzibul Ahkam 7/254)

Tanpa disertai saksi (Al-Furu’ Minal Kafi 5/249)

4.Dengan siapa saja nikah mut’ah boleh dilakukan? Seorang pria boleh mengerjakan nikah mut’ah dengan: wanita Majusi? (Tahdzibul Ahkam 7/254),wanita Nashara dan Yahudi. (Kitabu Syara’i’il Islam hal. 184),wanita pelacur? (Tahdzibul Ahkam 7/253),wanita pezina. (Tahriirul Wasilah hal. 292 karya Al-Khumaini),wanita sepersusuan? (Tahriirul Wasilah 2/241 karya Al-Khumaini),wanita yang telah bersuami.?(Tahdzibul Ahkam 7/253)

Iistrinya sendiri atau budak wanitanya yang telah digauli.?(Al-Ibtishar 3/144),wanita Hasyimiyah atau Ahlul Bait.?(Tahdzibul Ahkam 7/272),sesama pria yang di kenal dengan homoseks? (Lillahi... Tsumma Lit-Tarikh hal. 54).

2.Tanpa disertai wali si wanita

Sebagaimana Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Tidak apa-apa menikahi seorang wanita yang masih perawan bila dia ridha walaupun tanpa ijin kedua orang tuanya.” (Tahdzibul Ahkam 7/254)

3.Tanpa disertai saksi (Al-Furu’ Minal Kafi 5/249)

4.Dengan siapa saja nikah mut’ah boleh dilakukan? Seorang pria boleh mengerjakan nikah mut’ah dengan: wanita Majusi? (Tahdzibul Ahkam 7/254),wanita Nashara dan Yahudi. (Kitabu Syara’i’il Islam hal. 184),wanita pelacur? (Tahdzibul Ahkam 7/253),wanita pezina. (Tahriirul Wasilah hal. 292 karya Al-Khumaini),wanita sepersusuan? (Tahriirul Wasilah 2/241 karya Al-Khumaini),wanita yang telah bersuami.?(Tahdzibul Ahkam 7/253)

Iistrinya sendiri atau budak wanitanya yang telah digauli.?(Al-Ibtishar 3/144),wanita Hasyimiyah atau Ahlul Bait.?(Tahdzibul Ahkam 7/272),sesama pria yang dikenal dengan homoseks? (Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 54).

5.Batas usia wanita yang dimut’ah

Diperbolehkan bagi seorang pria untuk menjalani nikah mut’ah dengan seorang wanita walaupun masih berusia sepuluh tahun atau bahkan kurang dari itu. (Tahdzibul Ahkam 7/255 dan Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 37),bertentangan dengan anatomi tubuh wanita dari hasil riset ilmiah,karena organ tubuh repoduksi harus mmenuhi ukuran dan waktu tertentu agar dapat berhubungan dengan lawan jenis.

6. Jumlah wanita yang dimut’ah

Kaum Rafidhah mengatakan dengan dusta atas nama Abu Ja’far bahwa beliau membolehkan seorang pria menikahi walaupun dengan seribu wanita karena wanita-wanita tersebut adalah wanita-wanita upahan. (Al-Ibtishar 3/147),

Berapa kali seorang pria melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita?
Diijinkan bagi seorang pria untuk melakukan mut’ah dengan seorang wanita berapa kali dia kehendaki. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/460-461)

9.Bolehkah seorang suami meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada orang lain?

Kaum Syi’ah Rafidhah membolehkan adanya perbuatan tersebut dengan dua model:

A.Bila seorang suami ingin bepergian, maka dia menitipkan istri atau budak wanitanya kepada tetangga, kawannya, atau siapa saja yang dia pilih. Dia membolehkan istri atau budak wanitanya tersebut diperlakukan sekehendaknya selama suami tadi bepergian. Alasannya agar istri atau budak wanitanya tersebut tidak berzina sehingga dia tenang selama di perjalanan!

B.Bila seseorang kedatangan tamu maka orang tersebut bisa meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada tamu tersebut untuk diperlakukan sekehendaknya selama bertamu. Itu semua dalam rangka memuliakan tamu! (Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 47)

Nikah mut’ah hanya berlaku bagi wanita-wanita awam. Adapun wanita-wanita milik para pemimpin (sayyid) Syi’ah Rafidhah tidak boleh dinikahi secara mut’ah. (Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 37-38).

Tetapi wanita yang dimut’ah para sayyid tidak boleh dimut’ah oleh masyarakat Syi’ah secara umum.

11.Diperbolehkan seorang pria menikahi seorang wanita bersama ibunya, saudara kandungnya, atau bibinya dalam keadaan pria tadi tidak mengetahui adanya hubungan kekerabatan di antara wanita tadi. (Lillahi … Tsumma Lit-Tarikh hal. 44).

12.Sebagaimana mereka membolehkan digaulinya seorang wanita oleh sekian orang pria secara bergiliran. Bahkan, dimasa Al-‘Allamah Al-Alusi ada pasar mut’ah, yang dipersiapkan padanya para wanita dengan didampingi para penjaganya. (Lihat Kitab Shobbul Adzab hal. 239).

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Muslim Djamil
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Donasi