Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

Guru Besar, Pemerhati dan Ulama Bongkar Isu Intoleransi Nasional


 

Bandung. Diakui atau tidak, kata "intoleran" di negeri ini, akhir-akhir ini menjadi sebuah kata yang mudah dituduhkan oleh kelompok Islamophobia kepada orang atau pun kelompok ummat Islam yang tidak sepaham.

Menanggapi soal isu intoleransi ini, ulama dari Jawa Timur sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Ummul Quro Assuyuty Plakpak Pamekasan Madura Jawa Timur, K.H. Lailurahman, Lc menegaskan, justru Islam-lah yang paling toleran. Menurutnya, Islam mengajarkan, jangankan dengan sesama manusia, dengan binatang dan alam pun ummat Islam mesti toleran.

Lebih lanjut Kiai Lailurahman menyebutkan yang melemparkan tuduhan intoleransi itu jelas musuh-musuh Islam. Disebutkannya, seseorang dapat dikatakan memiliki sikap yang paling "buruk" jika tuduhan intoleran itu dilontarkan oleh orang yang mengaku muslim yang menjadi pembantu musuh-musuh Islam.

Dijelaskannya, sikap paling buruk itu di antaranya, para cendikiawan, ulama-ulama su' yang digaji oleh musuh-musuh Islam untuk merusak Islam dari dalam. Juga orang-orang yang keluar dari Islam atau murtad. Demikian pula, orang-orang yang meremehkan, tidak mau tahu tentang kehidupan akhirat. Dan, orang-orang Islam yang jahil atau bodoh. 

Adapun menurut pakar Hukum Internasional Prof. H. Atip Latipulhayat, S.H.,LLM.,Ph.D. dikatakan bahwa diakui atau tidak,  masyarakat Indonesia yang plural baik suku maupun keyakinan selama puluhan bahkan ratusan tahun hidup rukun. Ummat Islam sebagai mayoritas penduduk di negeri ini adalah kunci terpeliharanya kehidupan yang rukun antarsesama warga bangsa. Ummat Islam tidak menjadikan posisi mayoritasnya sebagai alat untuk mendiskriminasi pemeluk agama lain. Toleransi (tasamuh) adalah ajaran Islam yang diamalkan dengan baik oleh ummat Islam Indonesia. Seandainya ummat Islam berlaku intoleran, tidak mungkin pemeluk agama lain dapat hidup dengan tenang mengamalkan ajaran agamanya.

Lebih lanjut Prof. Atip yang juga selaku Guru Besar Fakultas Hukum Unpad Bandung ini menegaskan, isu intoleransi lebih merupakan sebuah isu politik yang terkesan kuat ditujukan kepada ummat Islam. Peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi secara kasuistis secara serampangan "digeneralisasi" sebagai bentuk intoleransi ummat Islam. Sementara fakta objektif eksistensi agama yang lain yang hidup berdampingan dengan ummat Islam secara sengaja dilupakan dan diabaikan. Faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya perbuatan yang berkategori intoleransi tidak pernah dipahami. Stigma didahulukan ketimbang mengurai penyebabnya. 

Selanjutnya Prof. Atip mengingatkan bahwa intoleransi sebetulnya tidak pernah ada di Indonesia, melainkan "diada-adakan". Akibatnya intoleransi menjadi terma hegemonik yang mempersekusi pihak tertentu yang berbeda atau mengganggu kepentingannya. Situasi ini sangat berbahaya dan tidak menguntungkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Toleransi bukan meminoritaskan mayoritas atau memayoritaskan minoritas, melainkan meletakkan secara proporsional eksistensi, hak dan tanggung jawabnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hentikan memproduksi stigma intoleransi, karena hal tersebut adalah bentuk intolerensi yang sebenarnya.

Sedangkan menurut pakar Hukum Tata Negara Prof. Dr. Asep Warlan Yusuf, S.H.,M.H.,bahwa kata intoleransi itu bukanlah hukum, tapi lebih bernuansa kepada kehidupan sosial keagamaan. Dikatakan dapat masuk ranah hukum, jika diawali adanya tindakan-tindakan yang dipersepsi secara sosial kultural, lalu meningkat misalnya tindakan intoleransi yang merugikan agama lain.

Lebih lanjut Prof. Asep yang juga Guru Besar Hukum di Unpar Bandung ini mengingatkan untuk tidak gampang menuduh intoleransi kepada orang lain yang sekadar dia mengekspresikan dirinya bahwa dia tidak suka ada LGBT, tidak suka dengan kehidupan seks bebas, tidak mau berdoa bersama dengan ummat agama lain atau tidak mau mengucapkan selamat natal.

Menurut Prof. Asep sangatlah subjektif jika menuduh intoleransi kepada seorang yang tidak mau mengucapkan selamat natal, karena belum ada parameter yang menunjukkan bahwa tidak mau mengucapkan selamat natal bisa menimbulkan keresahan.

Sementara itu Pemerhati Politik dan Kebangsaan, H. M. Rizal Fadillah, S.H menyatakan benih-benih intoleran telah disebarkan oleh kelompok islamopobhia tak terkecuali syiah. Bahkan M. Rizal menyebutkan benih terorisme itu syiah.

M. Rizal menyatakan, ngawur ungkapan Said Agil Siradj (SAS) bahwa benih terorisme adalah Wahabi. Padahal, Wahabi dan Salafi tidak memusuhi negara mana pun termasuk Indonesia. Kaum salafi jauh dari watak radikal apalagi teroris, aksi unjuk rasa saja dihukumkan haram, melawan pemerintah pun tidak boleh. Demikian juga dengan Wahabi yang bersumber dari Saudi, malah Wahabi dimusuhi keras oleh kaum Syiah. Mereka dinyatakan sebagai nawashib, kafir oleh Syiah.

Lebih lanjut M. Rizal menegaskan, akar faham syi'ah adalah intoleransi, radikalisme dan terorisme. Konsep imamah yang dianut syiah menciptakan permusuhan dan perlawanan terhadap  ideologi negara di mana pun berada. Ini merupakan bentuk nyata intoleransi syiah terhadap semua negara tak terkecuali negara kita. Jadi pintu masuk faham intoleransi, radikalisme dan terorisme jelas bukan Wahabi atau Salafi melainkan kelompok islamopobhia tak terkecuali syi'ah, tegas M.Rizal

Sementara itu menurut Guru Besar Manajemen Pendidikan Universitas Langlang Buana (Unla) Bandung, Prof. Dr. H. Dedi Mulyasana, M.Pd.,  menyatakan bahwa toleransi bukanlah mencampuradukkan nilai baik-buruk atau benar-salah. Tapi toleransi adalah sikap menghargai adanya perbedaan pemikiran, keyakinan, kepentingan dan karakter. Adapun sikap intoleransi adalah sikap yang tidak sejalan dengan pandangan tasamuh (toleransi) yang diajarkan Islam.

Lebih lanjut Prof. Dedi yang juga selaku anggota Dewan Pertimbangan MUI Kota Bandung ini menegaskan, toleransi yang ada adalah toleransi "antar ummat beragama" bukan "toleransi beragama", yang di dalamnya tumbuh saling menghargai, memahami, mengerti, dan saling berupaya menciptakan suasana yang nyaman dan damai bagi sesama. Inilah barangkali konsep toleransi, tegasnya.

Reportase: Abu Muas
 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Tardjono Abu Muas
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments

Donasi